Lionel Messi(AFP)
MENGHADAPI Lionel Messi di semifinal Piala Dunia 2026 bukan sekadar urusan meredam agresivitas seorang penyerang. Bagi lini belakang Inggris, Messi bukan hanya soal status sebagai pemain terbaik sepanjang masa, melainkan karena cara bermainnya yang hampir unik dan tiada duanya.
Megabintang berusia 39 tahun hanya bermain dengan cara berjalan lambat, namun menyimpan potensi daya ledak yang mematikan.
Data fisik terkini yang dirilis FIFA menjelang bentrokan di Atlanta memaparkan sebuah anomali statistik yang mencengangkan dari sang kapten Albiceleste. Messi tercatat menghabiskan 64,8% dari total jarak jelajahnya di lapangan hanya dengan berjalan kaki pada kecepatan di bawah 7 km/jam. Angka efisiensi ini jauh melampaui para juru gedor elite modern seperti Harry Kane maupun Kylian Mbappe yang menghabiskan sebagian besar laga dengan berlari konstan.
Namun, di sinilah letak ilusi taktis yang kerap mengecoh lawan. Gaya berjalan santai Messi bukanlah refleksi dari kelelahan fisik, melainkan sebuah metode pemindaian ruang. Ia dengan jeli mencari ruang kosong yang tampak tidak berbahaya, menjauh dari radar pengawasan bek lawan, untuk kemudian melakukan akselerasi begitu pasokan bola mengarah kepadanya.
Statistik mencatat, tidak ada pemain di turnamen ini yang lebih berbahaya daripada Messi dalam mengonversi skema membawa bola (ball carries) menjadi ancaman langsung lewat tembakan atau operan kunci.
Ketika momentum serangan terbangun, faktor usia terbukti gagal mengikis ketajaman Messi. Ia masih mampu mencatatkan 85 kali sprint per 90 menit. Data dari Sofascore menunjukkan bahwa sprint tertinggi Messi di Piala Dunia kali ini menyentuh angka 30,9 km/jam, sebuah catatan impresif yang bahkan melampaui kecepatan rekan setimnya yang berusia satu dekade lebih muda, seperti Lautaro Martínez.
Inggris sejatinya memiliki jangkar pertahanan yang menawarkan kecepatan murni dalam diri Nico O'Reilly, yang memegang rekor sprint tercepat skuat The Three Lions dengan 35,6 km/jam. Namun, kecepatan kaki saja dipastikan tidak akan cukup untuk membelenggu sang genius.
Tantangan terbesar bagi anak asuh Thomas Tuchel bukanlah adu lari di ruang terbuka, melainkan kemampuan membaca niat tersembunyi Messi. Lini belakang Inggris dituntut memiliki konsentrasi tingkat tinggi guna menilai kapan harus menutup ruang dan kapan harus merebut bola, sebelum sang maestro mengubah jalan kaki santainya menjadi petaka yang mengubur mimpi final Inggris.
Laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina vs Inggris akan digelar di Atlanta Stadium, Kamis (16/7) dini hari WIB.
(Theguardian/P-4)

















































