Donald Trump(Dok AFP)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melayangkan ancaman untuk menghentikan aktivitas perdagangan dengan negara-negara penyumbang defisit bagi AS. Langkah ekstrem ini bakal dieksekusi apabila bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menolak melonggarkan kebijakan moneter melalui pemotongan suku bunga acuan.
Gertakan tersebut disampaikan Trump secara terbuka melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.
"Turunkan suku bunga atau saya akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang menyebabkan kita defisit, yang telah diakui secara tegas oleh Mahkamah Agung AS dalam putusannya yang konyol dan sangat merugikan soal tarif, bahwa 'presiden' memiliki hak mutlak untuk melakukannya," tegas Trump.
Guna memperkuat desakannya, Trump turut meminta jajaran dewan eksekutif The Fed untuk bertindak "Cerdas" dan sesekali bersikap sebagai patriot.
Ia menampik pandangan konvensional yang menyebutkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi menjadi pemantik utama inflasi. Menurutnya, pemikiran semacam itu justru terbukti menjadi penghambat laju perekonomian AS selama seperempat abad terakhir.
"Kita seharusnya mencapai pertumbuhan PDB sebesar 15 dan 20 persen, bukannya 2, 3, dan 4 persen; dan Amerika seharusnya bisa menjadi jauh lebih kuat secara finansial daripada saat ini. Utang kita akan lunas dan semua hal lain ini akan terwujud," ujar Trump.
Lebih lanjut, ia menguraikan dampak finansial dari kebijakan moneter ketat tersebut. Ia mengklaim bahwa setiap kenaikan satu poin pada suku bunga bakal membebani kas negara hingga US$650 miliar per tahun.
Sikap keras Trump ini berbanding terbalik dengan arah reformasi yang tengah berjalan di tubuh bank sentral. Pada akhir Mei lalu, Trump sempat menyatakan bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh bakal memimpin agenda modernisasi berskala besar di lembaga tersebut, sembari menjamin independensi penuh bank sentral dalam menetapkan keputusan strategis.
Langkah ini diambil setelah Trump berulang kali mengecam kepemimpinan mantan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dinilainya terlampau lamban dalam menurunkan tingkat suku bunga.
Sebagai informasi, Kevin Warsh resmi menduduki kursi nomor satu di The Fed setelah Senat AS menyetujui pencalonannya untuk masa jabatan empat tahun ke depan pada 13 Mei, menyusul pencalonan resminya oleh Trump pada akhir Januari.
Sebelum memimpin bank sentral, Warsh mencatatkan rekor sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed termuda di usia 35 tahun pada periode Februari 2006 hingga Maret 2011, serta pernah mengemban tugas sebagai penasihat kebijakan ekonomi presiden dan anggota Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih. (Ant/E-4)













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



