Warga bertahan di tenda seadanya menunggu bantuan pemerintah pascagempa pada Sabtu (15/8/2026).(MI/Marianus Marselus)
JERITAN warga terdampak gempa bumi di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai terdengar. Lima hari setelah gempa mengguncang Flores pada Sabtu, (15/8) sejumlah warga mengaku belum tersentuh bantuan pemerintah.
Warga di sejumlah desa bahkan terpaksa membangun posko pengungsian secara mandiri untuk berlindung dari ancaman gempa susulan. Di tengah keterbatasan, mereka kini menghadapi persoalan lain: sulit mendapatkan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Wilayah yang disebut warga belum mendapatkan bantuan antara lain Desa Rana Gapang, Rana Kulan, Compang Soba, Sisir, Haju Wangi, Kelurahan Tiwu Kondo, serta sejumlah desa lainnya di Kecamatan Elar.
Di Desa Rana Gapang, kondisi warga disebut semakin memprihatinkan. Warga mengaku masih bertahan di posko mandiri dan membutuhkan bahan makanan, air minum, obat-obatan, tenda, serta perlengkapan tidur.
Salah seorang warga Rana Gapang, Lambertus Beli, mengatakan masyarakat kesulitan memperoleh kebutuhan pokok sejak gempa terjadi.
“Kasihan masyarakat di sini kelaparan karena susah untuk mendapatkan bahan makanan dan minuman,” kata Lambertus, Rabu (19/8).
Menurut Lambertus, trauma akibat gempa dan gempa susulan membuat warga takut meninggalkan kampung untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Warga di sini masih trauma untuk keluar dari kampung untuk pergi membeli bahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena gempa susulan masih berlanjut hingga saat ini,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan pemerintah pusat segera turun ke wilayah mereka untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat terdampak.
Mereka meminta distribusi bantuan tidak hanya terpusat di wilayah yang mudah dijangkau, tetapi juga menyasar desa-desa yang berada jauh dari pusat pemerintahan dan titik penyaluran bantuan.
Di tengah ancaman gempa susulan, warga Elar kini berharap bantuan segera datang sebelum keterbatasan makanan dan kebutuhan dasar berubah menjadi krisis baru bagi para pengungsi.(MM/E-4)


















































