Pengamat : BI Rate di Level 5,75% Bukan Kejutan bagi Pasar

1 hour ago 1
 BI Rate di Level 5,75% Bukan Kejutan bagi Pasar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri), Pjs Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (kedua kanan), Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu (kanan) dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fre(MI/Usman Iskandar)

KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026 bukan kejutan bagi pasar. Ia menyebut itu sesuai ekspektasi. Menurutnya perubahan fokus kebijakan mulai terlihat dalam pernyataan resmi Bank Indonesia.

Menurut Fakhrul, selama beberapa bulan terakhir BI berada dalam fase stabilisasi, dengan fokus utama menjaga kredibilitas kebijakan, memperkuat stabilitas rupiah, dan menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

“Perjalanan kebijakan BI sejak Mei hingga Juli, fokus utamanya adalah stabilisasi. Fokusnya adalah memulihkan kredibilitas kebijakan, menjaga stabilitas rupiah, memperkuat neraca eksternal, dan menarik kembali capital inflow. Menurut saya, fase tersebut sebagian besar sudah berhasil dicapai.", ujar Fakhrul dikutip Rabu (19/8).

Fakhrul menilai salah satu perubahan yang paling menarik dalam RDG Agustus yakni berkurangnya penekanan terhadap penguatan rupiah daripada beberapa bulan sebelumnya.

“Saya melihat BI mulai lebih nyaman dengan kondisi nilai tukar saat ini, dan mulai melakukan ancang-ancang untuk memanfaatkan stabilitas yang sudah terbentuk. Kalau beberapa bulan lalu fokus komunikasi BI adalah bagaimana menarik modal masuk dan memperkuat stabilitas rupiah, sekarang saya melihat fokusnya mulai bergeser pada bagaimana stabilitas yang sudah terbentuk dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian domestik,” terangnya.

Fakhrul menilai perubahan tersebut mencerminkan transisi penting dalam siklus kebijakan moneter Indonesia.

“Kalau sebelumnya pasar sangat fokus pada price of money, yaitu BI Rate, yield, dan spread suku bunga. Sekarang perhatian mulai bergeser ke flow of money. Pertanyaannya bukan lagi berapa tinggi suku bunga yang dibutuhkan untuk menarik modal asing, tetapi bagaimana likuiditas yang sudah berhasil dikumpulkan dapat ditransmisikan kembali ke perekonomian,” ujar Fakhrul

Menurut Fakhrul, keberhasilan sebuah fase stabilisasi tidak diukur hanya dari keberhasilan menjaga rupiah atau menurunkan volatilitas pasar keuangan. (H-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |