Caption: Peraih emas Olimpiade 2016 ganda campuran Tontowi Ahmad.(Foto: MI/Dhika Kusuma Winata)
MENJADI pemain bulu tangkis ternyata bukan pekerjaan paling sulit bagi Tontowi Ahmad. Setelah pensiun dan terjun sebagai pencari bakat, peraih medali emas Olimpiade 2016 itu justru menghadapi tantangan yang lebih sulit untuk menentukan pemain muda yang dinilai memiliki masa depan.
Tontowi menjadi bagian dari Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum yang tengah berjalan di Kudus. Dia kembali menjalankan peran tersebut setelah terlibat selama beberapa tahun terakhir.
Menurut Tontowi, menilai pemain usia dini jauh lebih rumit. Pasalnya, kemampuan anak-anak belum bisa menjadi gambaran pasti mengenai perkembangan mereka sebagai atlet pada masa mendatang. Sebab itu, insting serta kejelian seorang pencari bakat sangat diuji.
"Lebih sulit memantau bakat. Mereka masih usia dini dan kami belum tahu bagaimana perkembangan mereka ke depan. Pemain A dan pemain B bisa saja mengalami perkembangan yang berbeda," kata Tontowi di sela-sela audisi yang digelar di GOR Djarum, Jati, Kudus, Kamis (10/9).
Sebagai pencari bakat, Tontowi fokus membaca potensi yang terlihat ketika peserta berada di lapangan. Dasar pukulan, gerakan kaki, cara bermain, serta kemampuan membaca permainan menjadi sejumlah aspek yang diperhatikannya. Daya juang peserta juga menjadi faktor penting dalam menentukan apakah seorang pemain memiliki potensi.
"Kalau saya melihat pemain usia dini, yang pertama adalah dasar pukulan, dasar footwork, dan cara bermain. Kemudian terlihat juga bagaimana instingnya mendapatkan poin dan bagaimana dia mempertahankan keunggulan," ujarnya.
Tontowi menilai seorang pemain tidak harus selalu menjadi pemenang untuk dianggap memiliki prospek. Kekalahan dalam pertandingan juga tidak serta-merta menghapus potensi yang terlihat selama bermain.
Dia mencontohkan proses seleksi di Pekanbaru, Juli lalu. Saat itu, Tontowi menemukan pemain yang dinilainya memiliki potensi ketika memasuki babak delapan besar. Pemain tersebut kemudian mendapat super tiket meski akhirnya tidak memenangi pertandingan.
"Yang kalah belum tentu tidak berpotensi. Di Pekanbaru, saya melihat ada pemain di delapan besar yang akhirnya kalah tetapi saya menilai dia memiliki potensi sehingga mendapat super tiket," tutur Tontowi yang juga legenda PB Djarum.
Penilaian seperti itu, kata Tontowi, menjadi penting karena peserta dengan kualitas bagus dapat bertemu pada babak awal. Jika hanya mengacu pada hasil pertandingan, pemain yang sebenarnya memiliki prospek bisa saja tersingkir.
Tontowi mengatakan kualitas peserta di Kudus sejauh ini relatif merata. Jumlah peserta yang lebih banyak dibandingkan Makassar dan Pekanbaru membuat persaingan semakin ketat.
"Sejauh ini kualitas peserta hampir merata dan cukup bagus. Saya belum melihat ada yang benar-benar menonjol karena baru tahap screening. Mudah-mudahan saat masuk turnamen saya bisa menemukan pemain yang benar-benar sesuai dengan yang saya cari," kata mantan juara dunia ganda campuran itu.
Tontowi sudah sekitar 4 tahun menjalankan tugas sebagai pencari bakat dalam Audisi Umum PB Djarum. Tahun ini, dia mengikuti rangkaian seleksi di tiga kota, yakni Pekanbaru, Makassar, dan Kudus.
Owi, sapaan Tontowi, menilai sistem seleksi yang diterapkan saat ini sudah cukup baik. Format pertandingan dengan sistem permainan 21 poin membuat peserta yang tampil konsisten memiliki kesempatan untuk melaju ke babak berikutnya. Sementara itu, pencari bakat dapat memberikan super tiket kepada pemain yang dinilai memiliki potensi meski hasil pertandingannya tidak sesuai harapan.
Dia berpesan kepada peserta yang lolos tidak cepat puas. Dia juga mengingatkan peserta yang tersingkir agar tidak patah semangat karena pencari bakat masih memiliki ruang untuk melihat potensi pemain.
"Yang lolos harus tetap semangat dan jangan meremehkan lawan. Bagi yang kalah, jangan putus asa karena masih ada super tiket. Pencari bakat bisa melihat apakah seorang pemain memiliki potensi atau tidak," pungkas Tontowi. (Dhk/P-3)


















































