NYT Sebut OpenAI dan Microsoft Lakukan Pencurian Konten Berita Terbesar dalam Sejarah

7 hours ago 2
NYT Sebut OpenAI dan Microsoft Lakukan Pencurian Konten Berita Terbesar dalam Sejarah Ilustrasi(AFP)

DOKUMEN pengadilan yang baru dibuka membeberkan tuduhan serius terhadap OpenAI dan Microsoft. New York Times (NYT) menyebut OpenAI telah melakukan "pencurian luar biasa dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" dengan menggunakan jutaan artikel berita tanpa izin untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) mereka.

Laboratorium riset AI yang berbasis di San Francisco tersebut diduga telah mengambil (scraping) konten dari lebih dari 10 juta artikel. Hampir sepertiga dari total artikel yang diambil tersebut berasal dari New York Times.

Dalam dokumen tersebut, Director of Applied Science Microsoft, Brent Hecht, diduga sempat memberikan peringatan mendalam terkait praktik ini. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai "pencurian luar biasa dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" dan kemungkinan menjadi "pencurian tenaga kerja terbesar dalam sejarah manusia."

Tak hanya itu, Hecht juga diduga memperingatkan OpenAI mungkin telah melakukan "penutupan secara tidak sengaja" (accidental cover up) dalam upayanya mengidentifikasi konten dari NYT dan para penggugat lainnya di dalam sistem mereka.

Kasus hukum ini berawal dari gugatan yang diajukan NYT terhadap OpenAI dan Microsoft di pengadilan federal New York atas tuduhan pencurian materi berhak cipta untuk melatih ChatGPT. Sejumlah media lain turut bergabung dalam gugatan ini, termasuk Ziff Davis (pemilik CNET), induk perusahaan majalah Mother Jones, situs berita investigasi The Intercept, serta beberapa surat kabar lokal di Amerika Serikat.

Para penggugat menuntut ganti rugi atas setiap artikel yang diduga dicuri dan digunakan oleh model OpenAI, meski total nilai denda yang dituntut belum ditentukan.

Untuk meredam kekhawatiran terkait penurunan trafik situs berita, perusahaan AI mulai menyertakan kutipan beserta tautan sumber dalam respons pengguna. Namun, langkah tersebut dinilai tidak efektif.

"Tidak peduli seberapa jelas kita menampilkan tautan tersebut, pengguna tidak akan mengkliknya," aku salah satu insinyur OpenAI, sebagaimana tertuang dalam dokumen pengadilan.

Di sisi lain, Microsoft dan OpenAI mengklaim bahwa penggunaan konten berita tersebut bersifat transformatif dan dilindungi oleh doktrin penggunaan yang adil (fair use). Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Kehakiman juga telah mengajukan dokumen yang mendukung posisi OpenAI dan Microsoft dengan menyandarkan argumen pada "kemajuan ilmiah," pertumbuhan ekonomi, serta "keamanan nasional."

Saat ini, para penggugat telah mengajukan permohonan putusan sela (summary judgement). Jika dikabulkan oleh Hakim Distrik US Sidney Stein, kasus ini tidak perlu berlanjut ke persidangan penuh, meski putusan tersebut diperkirakan baru akan keluar pada 2027. (AFP/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |