Abu Anak Krakatau Bisa Menyebar Jauh Dipengaruhi Ketinggian Erupsi dan Angin

7 hours ago 2
Abu Anak Krakatau Bisa Menyebar Jauh Dipengaruhi Ketinggian Erupsi dan Angin Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Rabu (9/9(ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU)

ABU vulkanik dari erupsi Anak Krakatau pada 4–5 September 2026 dapat terbawa hingga wilayah yang jauh dari pusat erupsi. Kajian awal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan, pola sebaran abu sangat dipengaruhi ketinggian kolom erupsi serta kecepatan dan arah angin di setiap lapisan atmosfer.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani mengatakan material vulkanik yang terlontar pada ketinggian berbeda dapat mengikuti arah angin yang berbeda pula. Kondisi itu memengaruhi jarak dan arah pergerakan abu.

“Secara keseluruhan, profil ini menunjukkan bahwa transportasi abu paling kuat terjadi ketika material erupsi mencapai lapisan sekitar 200–300 hPa, sedangkan abu pada lapisan rendah cenderung bergerak lebih lambat dan lebih terbatas secara spasial,” kata Dini, Jumat (18/9). 

Lapisan 200–300 hPa tersebut berada pada ketinggian sekitar 9–12 kilometer. Pada lapisan itu, kecepatan angin selama periode erupsi mencapai sekitar 20–30 meter per detik dengan dominasi pergerakan menuju sektor barat hingga barat daya.

Sementara itu, pada atmosfer bawah hingga menengah bawah dengan ketinggian sekitar 0,1–5,6 kilometer, kecepatan angin cenderung lemah hingga sedang, umumnya di bawah 10 meter per detik. Kondisi tersebut membuat abu yang berada dekat permukaan memiliki jangkauan transportasi yang lebih terbatas.

“Abu dari kolom erupsi yang mencapai ketinggian menengah hingga atas berpotensi tersebar lebih jauh dibandingkan abu pada lapisan rendah. Karena itu, ketinggian injeksi abu dan kondisi angin pada setiap lapisan atmosfer menjadi parameter penting untuk memahami pola penyebarannya,” ujar Dini.

Kajian tersebut dilakukan Kelompok Riset Vulkanologi Fisik BRIN dengan menganalisis kondisi atmosfer di sekitar Anak Krakatau menggunakan data angin tiga dimensi dari NOAA Global Forecast System (GFS).

Untuk merekonstruksi pergerakan abu, tim BRIN juga melakukan simulasi tiga dimensi menggunakan model Ash3d pada platform VICTOR Jupyter Notebook. Pemodelan dibuat dalam empat skenario berdasarkan estimasi ketinggian kolom dan durasi erupsi dari data citra satelit. Estimasi tinggi kolom abu dalam skenario tersebut berkisar 6–16 kilometer.

Hasil sementara simulasi selama 36 jam menunjukkan sebaran abu secara umum bergerak ke arah barat hingga barat daya dari pusat erupsi. Sebagian material juga terdispersi ke arah utara dengan jangkauan mencapai sebagian wilayah Bandar Lampung.

“Perbedaan arah dan luas penyebaran tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh perubahan kondisi angin terhadap ketinggian dan waktu,” kata Dini.

Pemodelan juga menunjukkan adanya deposisi abu di sejumlah wilayah. Pulau Sebesi dan Sebuku yang berjarak sekitar 15 dan 24 kilometer dari Anak Krakatau teridentifikasi menerima deposisi dalam simulasi.

Di sebagian wilayah Lampung, model menghasilkan ketebalan deposit rata-rata sekitar 12 milimeter. Namun, BRIN menegaskan angka tersebut masih merupakan estimasi awal berdasarkan skenario pemodelan dan belum menjadi nilai aktual yang terverifikasi di lapangan.

“Besaran maupun pola spasial deposisi masih memiliki ketidakpastian karena sangat bergantung pada parameter erupsi dan kondisi atmosfer yang digunakan sebagai input model. Karena itu, hasil ini perlu divalidasi dengan data lapangan dan parameter erupsi yang lebih lengkap,” ujar Dini.

BRIN menyebut salah satu tantangan dalam merekonstruksi sebaran abu ialah menentukan secara tepat ketinggian kolom erupsi. Erupsi yang berlangsung pada malam hari dapat menyulitkan pengamatan visual akibat kondisi gelap dan kabut.

Selain itu, estimasi ketinggian sebaran abu dari citra satelit tidak selalu sama dengan ketinggian kolom erupsi atau titik awal material vulkanik diinjeksikan ke atmosfer.

Tim peneliti BRIN juga telah memperoleh sampel abu dari erupsi 4–5 September 2026 di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Cilegon dan Lampung. Sampel tersebut akan dianalisis untuk mengetahui distribusi ukuran partikel, morfologi dan tekstur permukaan, komponen penyusun, serta komposisi mineral abu.

“Penyempurnaan parameter erupsi dan kondisi atmosfer diperlukan untuk memperoleh rekonstruksi sebaran abu yang lebih representatif. Informasi tersebut penting bukan hanya untuk memahami dinamika erupsi, tetapi juga untuk mendukung evaluasi bahaya abu vulkanik dan strategi mitigasi yang lebih tepat,” pungkas Dini. (H-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |