Temuan Hasil Uji Kemiripan Soal PiSa 2025 pada Siswa SMA

9 hours ago 1
Temuan Hasil Uji Kemiripan Soal PiSa 2025 pada Siswa SMA (ANTARA/HO-Kemendikbudristek)

LATAR BELAKANG UJI PISA

DIMULAI sejak 2000 dan diselenggarakan setiap 3 tahun sekali, OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) melakukan proses penilaian pendidikan suatu negara melalui PISA (Programme for International Student Assessment) yang mengevaluasi prestasi siswa didik usia 15 tahun. Studi PISA merupakan penilaian komparatif skala besar di dunia. Pada 2022, PISA diikuti 81 negara. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi dan memprediksi kinerja siswa dalam kemampuan dasar dan tiga literasi penting yakni membaca, matematika, dan sains berikut keterampilan siswa yang diperlukan kelak saat individu terjun di masyarakat.

Asesmen PISA mengalami perubahan tujuan dari masa ke masa. Pertama, pada 2003, tes mengukur keterampilan penyelesaian masalah (problem solving) secara umum yang berfokus pada kompetensi lintas kurikulum. Kedua, pada 2012, tes menilai secara khusus penyelesaian masalah secara kreatif (creative problem solving) untuk mengatasi situasi kehidupan non-rutin serta mendapatkan solusi dengan melalui proses kreatif. Ketiga, pada 2022 meluncurkan penilaian tentang berpikir kreatif dalam menyelesaikan permasalahan secara logis, melalui proses penciptaan, evaluasi, dan pengembangan gagasan yang orisinal serta beragam (creative thinking and problem solving).

Uji PISA tahun 2025 berfokus pada literasi sains dan penyelesaian masalah secara digital yang hasilnya dijadwalkan untuk dirilis melalui Portal PISA OECD pada tahun 2026. Studi PISA dapat memprediksi bahwa keunggulan akademik bukanlah prasyarat mutlak kesuksesan individu di masa depan, namun memiliki kemampuan penalaran dasar dan literasi yang diikuti oleh kemampuan gagasan kreatif sehingga individu mampu sintas (survive) menjalani kehidupan masa depan yang senantiasa berubah dengan cepat.

Sejak tahun 2018, penilaian literasi membaca PISA adalah untuk memahani isi teks, menggunakan dan mengevaluasi teks yang memiliki sifat dalam konteks beragam, membedakan antara fakta dengan opini, dan menyertakan berbagai tugas yang bertujuan mengevaluasi kualitas- kredibilitas isi teks, termasuk menilai pemahaman kalimat sederhana dengan mudah yang menjadi prasyarat penting untuk memahami teks yang lebih kompleks dan mendalam.

Literasi matematika menunjukkan kemampuan siswa untuk bernalar secara matematis, termasuk merumuskan, menggunakan logika berpikir matematis, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Pada uji coba PISA tahun 2025 (OECD, 2025), kemampuan literasi matematika berkembang lebih luas meliputi pemahaman data sederhana; simulasi komputer dan digital; penggunaan perangkat matematika secara konseptual, prosedur, fakta untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi berbagai fenomena yang terindera (lihat, rasa, raba, pikir).

Secara literasi sains, siswa mampu terlibat dengan berbagai isu dan gagasan yang berkaitan dengan sains sehingga cakap menjelaskan fenomena secara ilmiah melalui proses mencari, menyusun, mengevaluasi rancangan penyelidikan ilmiah serta menafsirkan dan menggunakan data berikut bukti ilmiah secara kritis. Kemampuan ini mempengaruhi siswa untuk responsif terhadap berbagai isu terkait kesehatan, lingkungan, sosial, politik, dan ekonomi.

PEMETAAN HASIL UJI PISA

Seberapa baik hasil ujian yang diraih siswa berusia 15 tahun di Indonesia? Grafik di bawah ini menunjukkan tren kinerja literasi matematika, membaca dan sains siswa Indonesia berdasarkan hasil uji PISA tahun 2022 (Gambar 1).

undefinedImage Caption

Gambar 1. Tren kinerja dalam matematika, membaca, dan sains siswa Indonesia (Sumber: OECD, PISA 2022 Database)

Meski tercatat peringkat siswa Indonesia meningkat 5 hingga 6 poin, namun rata-rata nilai hasil uji PISA tahun 2022 mengalami penurunan dibandingkan dengan hasil tahun 2018. Hasil PISA tahun 2022 menyatakan Indonesia berada di peringkat 69 dari 81 negara peserta OCED, dengan total skor 1.108, naik dari peringkat sebelumnya di tahun 2018 dengan rincian kemampuan literasi sebagai berikut: (1) matematika naik dari 74 ke 69, (2) membaca dari 73 ke 68, dan (3) sains dari 71 ke 65 (OECD, 2023). Namun demikian, terjadi penurunan nilai literasi dari tahun 2018 ke tahun 2022 untuk: (1) matematika dari 379 ke 366, (2) membaca dari 371 ke 359, dan (3) sains 396 ke 383. Penurunan skor ini diduga terjadi yang diakibatkan oleh penutupan sekolah di Indonesia selama hampir 24 bulan karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan kesempatan dan kemampuan belajar siswa melalui sekolah tereduksi secara nyata (learning loss).

Uji PISA 2025 berfokus pada literasi sains yang dengan pembaruan besar berupa penambahan domain inovatif belajar yang mengukur kemampuan siswa untuk menyelesaikan permasalahan secara mandiri melalui proses pemikian kritis terkait topik sains lingkungan, isu perubahan iklim, peran dan identitas sains dalam kehidupan siswa (science identity), proses keberlanjutan (sustainability) dalam konteks sosio-sains (socio-scientific issue/SSI) (OECD, 2025). Soal PISA 2025 menggunakan sistem soal berbasis komputer dengan tingkat kesulitan yang dinamis dan menyesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa (adaptive assessment).

UJI KEMIRIPAN SOAL PISA 2025 

Tim gabunan dari 2 Fakultas di Institut Teknologi Bandung, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) dan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) telah melakukan studi yang memiliki kemiripan soal dengan uji PISA 2025. Penelitian ini menggunakan soal PISA Meteoroid dan Kawah yyan menggabungkan informasi terkait teks penjelasan, diagram dan gambar untuk menguji pemahaman siswa tentang fenomena astronomi. Diketahui ada tiga kawah dengan label A, B, dan C, di mana kawah A adalah kawah terluar dengan diameter paling besar, B kawah kecil yang terletak di dalam kawah A, dan C adalah kawah kecil yang berada terpisah di samping Permintaan Pertanyaan pada soal adalah mengurutkan kawah berdasarkan dua kriteria, yaitu ukuran meteoroid dan urutan waktu pembentukannya (OECD, 2025). Mekanisme persepsi visual memungkinkan siswa memproses bentuk kawah secara cepat melalui sistem visual dan spasial (visuospatial system) di otak, yaitu dengan membandingkan ukuran diameter lingkaran kawah A, B, dan C serta posisi relatifnya (misalnya B berada di dalam A) tanpa perlu alat bantu.

Pada uji kemiripan soal PISA 2025 menggunakan desain between-subjects yakni satu kondisi perlakuan untuk satu siswa dengan melihat hubungan dari tiga kondisi eksperimental berbeda yang diterapkan pada 10 buah soal teka-teki gaun gugur (falling leaves puzzle) sebagai berikut:

Perlakuan G1 berupa soal dasar, kondisi kontrol, tanpa teks petunjuk (nudge). Siswa menyelesaikan 10 soal (S1–S10), yang pada soal S9–S10 diberi instruksi sederhana “tentukan daun mana yang dapat jatuh pada posisi ke-3” tanpa pemberian instruksi apapun.

Perlakuan G2, siswa menerima 2 jenis soal untuk memancing daya nalar kritis (soft nudge). Soal S9 terdapat instruksi “mungkin ada lebih dari satu daun” yang dapat jatuh pada posisi ke-3, tanpa menyebutkan berapa jumlah daun yang mungkin akan jatuh. Pada soal S10 tidak diberikan petunjuk apapun (hints) dan instruksi teks sama persis dengan kondisi baseline (G1) yang dirancang untuk menguji soal  yang menuntut penerapan konsep secara langsung pada pertanyaan yang mirip (near transfer) (Choi et al., 2023).Perlakuan G3, siswa menerima instruksi yang jelas (strong nudge) pada soal S9–S10 dengan pernyataan “terdapat dua daun” yang mungkin jatuh pada posisi ke-3, serta memberikan contoh respons dengan lebih dari satu huruf (misalnya huruf AR). Permintaan pada soal ini merupakan bentuk petunjuk langsung (scaffold) yang mengungkapkan secara tepat terkait jumlah jawaban atau solusi yang benar.

Kriteria untuk soal “falling leaves” S1–S8 identik di seluruh kondisi; S1–S5 adalah soal mudah hanya menentukan daun jatuh urutan ke-n; soal S6–S8 memiliki tingkat kesulitan sedang dengan mengurutkan urutan daun jatuh pertama hingga terakhir, dan S9–S10 soal dengan kesulian tinggi dalam menentukan urutan daun yang mungkin jatuh lebih dari satu (Gambar 2).

undefinedImage Caption

Gambar 2. Soal uji kognitif mirip soal PISA visuo-spatial puzzle “falling leaves”

Hasil studi yang disajikan di sini mewakili 10% dari 500 siswa SMA berusia 15 tahun yang terbagi menjadi 3 kelompok uji untuk masing-masing jenis soal G1, G2, dan G3 Tiap siswa menerima tautan soal yang berbeda melalui aplikasi digital dengan pembagian kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Siswa diminta untuk mengerjakan soal S1–S10 dengan penilaian sebagai berikut: skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk jawaban salah, dan skor total dihitung di akhir tes.

HASIL UJI

Analisis dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengerjaan seluruh soal “falling leaves”  dari kelompok G1, G2, G3 dan dianalisis secara statistik (Gambar 3).

Gambar 3. Proporsi Keberhasilan pada Uji Soal pada kelompok G1, G2, G3.

undefinedImage Caption

Jenis soal dengan tingkat kesulitan mudah (S1), sedang (S6) dan susah/kompleks (S9) menunjukkan perbedaan hasil skor yang nyata pula seiring dengan kompleksitas soal yang diberikan. Yang menarik adalah munculnya perbedaan kontras pada kelompok G3 yang meraih skor sempurna (100%) di soal S1 versus kelompok G1 yang meraih nilai nol (0%) di soal S9 karena soal S1 memiliki tingkat kompleksitas visual yang paling rendah dan, siswa memiliki kapasitas pemrosesan kognitif yang memadai. Namun saat ditambah dengan intervensi petunjuk strong nudge pada kelompok G3 siswa mampu mengodekan pola menyelesaikan soal dengan sempurna tanpa menguras memori kerja di otak. Sebaliknya, soal S9 memiliki tingkat komputasi dan rotasi spasial yang sangat rumit sehingga kelompok G1 yang tidak menerima petunjuk (nudge) mengalami beban intrinsik tugas yang menguras ruang pemrosesan memori kerja di otak sehingga menyebabkan siswa alami kegagalan pemrosesan kognitif (Lynch, 2004; Carter et al., 2019).

Penurunan performa siswa kelompok G1 saat pengerjaan soal S1-S10 terjadi akibat fungsi kapasitas penyimpanan memori di area otak memori kerja visual-ruang (visuo-spatial working memory/VSWM). Fungsi VSWM berada di dalam struktur otak yang disebut dlPFC (dorsolateral prefrontal cortex) yang berperan membantu individu dalam memproses, menjaga dan mengubah informasi visual dan spasial saat berfikir (Chai et al., 2018). Tanpa bantuan panduan eksternal, maka proses penalaran analitis dan sirkuit di area otak depan frontoparietal mengalami kendala. Bagian frontoparietal berfungsi sbagai pusat kognitif tingkat tinggi, yang mengendalikan berbagai tugas kompleks dan mempengaruhi beban kognitif sehingga siswa mengalami kelelahan mental. Akibatnya, kemampuan untuk pencatatan, penyimpanan, dan pengambilan informasi menjadi tereduksi. Sebaliknya, pemberian petunjuk pada kelompok G2 (soft nudge) dan  G3 (strong nudge) berhasil meningkatkan performa siswa menstimulasi perhatian yang lebih selektif Stimulus petunjuk ini memangkas beban pencarian visual dan menyaring distraksi, sehingga menyediakan jalan pintas kognitif yang memungkinkan individu mengeksekusi keputusan secara akurat (Pollmann, 2019; Ueda et al., 2024).

Hasil uji yang menyerupai uji PISA 2025 ini menjelaskan bahwa siswa SMA umumnya sudah memiliki kemampuan dasar yang cukup baik untuk menyelesaikan tugas akademik, tetapi masih cukup sensitif terhadap desain tugas, tingkat kesulitan yang berbeda jika tidak mendapatkan  dukungan intervensi berupa stimulus petunjuk (nudging atau scaffolding). Penantian hasil uji PISA tahun 2025 yang akan dirilis pada tahun 2026 ini sangat dinantikan untuk mengetahui kemampuan literasi sains pada siswa, yang cukup erat berkaitan pula dengan kemampuan literasi membaca dan matematis.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |