Malam Panjang 640 Pengungsi di Pulau Sukun setelah Gempa NTT

1 hour ago 2
Malam Panjang 640 Pengungsi di Pulau Sukun setelah Gempa NTT Warga Pulau Sukun, Desa Samparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengungsi ke dataran tinggi dan masih tidur berdesakan di tenda.(Dok Istimewa)

CAHAYA lampu memantul di terpal biru yang membentuk dinding tenda yang dibangun di dataran tinggi Pulau Sukun,  Desa Samparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di dalamnya, tubuh-tubuh warga berbaring rapat. Anak-anak, perempuan, dan laki-laki tidur beralaskan tikar dan perlengkapan seadanya. 

Sebagian memeluk barang yang sempat dibawa dari rumah ketika mereka mengungsi pascagempa magnitude, 7,7 pada Sabtu (15/8) pagi. Sebenarnya, rumah-rumah mereka sebenarnya masih berdiri. Tidak ada laporan kerusakan berat. Hanya retakan ringan di sejumlah bangunan. 

Namun, bagi warga, retakan di dinding bukan satu-satunya alasan untuk pergi. Gempa susulan yang masih terasa membuat rasa aman ikut runtuh. Maka di dataran yang lebih tinggi tersebut, tenda-tenda darurat didirikan. Sebanyak 640 warga dari 310 keluarga kini bertahan di sana. 

Pada malam hari, tenda menjadi ruang bersama untuk tidur. Tak ada kamar, tak ada sekat yang cukup. Semua berdekatan, mencoba beristirahat setelah melewati hari-hari yang diliputi kewaspadaan. 

"Mereka tinggal di tenda, di dataran tinggi, di sekitar area perbukitan," kata mantan Kepala Desa Samparong, Darmsyah Putra, kepada Media Indonesia. 

Di Luar Tenda, Kehidupan Terus Berjalan

Sementara itu, di suatu sudut lokasi pengungsian, dua perempuan duduk di tanah. Di hadapan mereka, panci dan sejumlah peralatan masak tersusun di antara ember, jeriken, dan wadah plastik. Di bawah penerangan seadanya, mereka menyiapkan makanan untuk keluarga.

Tanah terbuka itu menjadi tempat memasak. Malam menjadi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya biasa dilakukan di rumah. Pemandangan seperti itu memperlihatkan gempabumi telah mengubah kehidupan warga Pulau Sukun dalam sekejap. 

Siang dan malam kini mereka habiskan di luar rumah. Tenda darurat menjadi tempat tidur, sementara ruang terbuka menjadi tempat memasak dan menjalani kebutuhan sehari-hari.

Akan tetapi, persoalan yang dihadapi warga tidak hanya datang bersama gempa. Di tengah pengungsian, kebutuhan paling mendesak justru adalah air minum dan air bersih. Kebutuhan itu semakin besar ketika ratusan orang berkumpul dan tinggal bersama di lokasi pengungsian.

"Kebutuhan mendesak masyarakat di Pulau Sukun itu kekurangan air minum, termasuk MCK. Air untuk minum dan air bersih itu yang memang menjadi kendala dasar di Samparong," kata Darmsyah.

Bagi warga Pulau Sukun, kekurangan air sebenarnya bukan persoalan baru. Sebelum bumi berguncang, mereka sudah terbiasa menghadapi keterbatasan air minum dan air bersih. Gempa hanya membuat persoalan lama itu semakin berat.
 
Di lokasi pengungsian, air dibutuhkan untuk hampir semua hal. Untuk minum, memasak, hingga kebutuhan mandi dan mencuci. Ketika seluruh warga berada di tempat yang sama, kebutuhan itu menjadi jauh lebih besar.

Bantuan sudah Tiba

Setelah lima hari pascagempa, pada Rabu (19/8) malam, logistik dari BPBD Kabupaten Sikka dikirim ke Pulau Sukun menggunakan kapal milik warga. Bahan makanan dibawa menyeberangi laut menuju pulau tersebut.

Namun, kebutuhan air bersih dan air minum belum sepenuhnya teratasi, termasuk persoalan komunikasi. "Kalau mau telepon, kami harus naik ke bukit," jelasnya.

Pulau Sukun merupakan satu pulau yang seluruh wilayahnya menjadi Desa Samparong. Letaknya sekitar 54 mil laut dari Maumere dan sekitar 32 mil dari Pulau Palue. Jarak dan kondisi geografis membuat akses ke pulau itu tidak selalu mudah, terutama dalam situasi darurat.

Di pulau itu, warga juga hidup dengan keterbatasan jaringan telepon seluler. BTS yang pernah tersedia beberapa tahun lalu kini tidak lagi berfungsi. Ketika membutuhkan sinyal, warga harus mencari tempat yang lebih tinggi.

"Pemancar Telkomsel tidak ada. Memang dua-tiga tahun lalu ada BTS, tetapi kendalanya tidak bisa berfungsi maksimal, bahkan sudah nonaktif," tutur Darmsyah.

Keterbatasan tersebut menjadi persoalan serius ketika gempa datang. Informasi mengenai kondisi warga dan kebutuhan pengungsi tidak selalu dapat segera disampaikan. Dalam keadaan darurat, ketika komunikasi menjadi salah satu kebutuhan utama, warga justru harus mencari sinyal ke puncak bukit.

Darmsyah berharap persoalan jaringan telekomunikasi di Pulau Sukun mendapat perhatian. Bagi warga, sinyal bukan lagi sekadar kebutuhan untuk berbicara dengan keluarga, tetapi juga menjadi jalan untuk menyampaikan kabar dan meminta pertolongan ketika keadaan darurat datang.

Malam terus berjalan di perbukitan Desa Samparong. Di dalam tenda, warga mencoba tidur. Di luar, sebagian masih menyiapkan makanan dan membereskan kebutuhan keluarga. Cahaya lampu menjadi salah satu penanda kehidupan di tengah gelapnya malam. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |