Logistik Tumbuh 6%, Integrasi Vertikal Platform Bisa Picu Monopoli

1 hour ago 2
Logistik Tumbuh 6%, Integrasi Vertikal Platform Bisa Picu Monopoli Foto udara antrean truk sebelum memasuki kapal di kantong parkir Dermaga Bulusan, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.(Antara)

BISNIS jasa logistik di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital dan e-commerce. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, Asosiasi Pengusaha Logistik Ecommerce (APLE) mengingatkan pentingnya menjaga persaingan usaha agar ekosistem logistik tetap sehat.

Ketua Umum APLE, Sonny Harsono, mengatakan, bisnis logistik saat ini tumbuh sekitar 6% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan pertumbuhan platform digital mencapai sekitar 14%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa e-commerce menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan industri logistik.

“Pertumbuhan logistik di Indonesia sekarang ini year-on-year masih di angka 6%, dengan pertumbuhan dari platform itu sekitar 14% dari ekonomi digital yang kurang lebih sekitar 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.850 triliun per tahunnya,” ujar Sonny dalam dialog Closing Bell CNBC Indonesia, Rabu (19/8).

Menurut dia, pertumbuhan e-commerce semestinya berjalan beriringan dengan ekosistem logistik yang sehat. Sebab, semakin besar transaksi digital, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap layanan pengiriman barang.

Namun, Sonny melihat terdapat tantangan ketika tuntutan pasar terhadap layanan logistik semakin mengarah pada tarif murah dan pengiriman cepat. Di sisi lain, tekanan tersebut dapat berdampak terhadap keberlangsungan pelaku usaha logistik apabila persaingan tidak berlangsung secara seimbang.

E-commerce atau platform itu membutuhkan healthy logistik environment, healthy ekosistem. Akan tetapi, tuntutan pasar di luar sana membutuhkan yang tercepat dan termurah,” papar dia.

Lebih lanjut, Sonny menjelaskan, dari nilai ekonomi digital sekitar 100 miliar dolar AS, sektor e-commerce menyumbang sekitar 72%. Sementara itu, sektor pergudangan dan transportasi menyumbang sekitar 10 persen, sedangkan jasa pengantaran sekitar 8%.

“Dengan demikian, platform dan sektor logistik secara keseluruhan menopang sekitar 90 persen aktivitas ekonomi digital tersebut,” tambahnya. 

Karena itu, menurut Sonny, pertumbuhan volume pengiriman menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan, bukan hanya nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV).

Seiring pertumbuhan volume tersebut, APLE menyoroti fenomena sejumlah platform besar yang mulai memiliki perusahaan logistik sendiri. Menurut Sonny, kepemilikan perusahaan logistik oleh platform pada dasarnya bukan persoalan selama tetap memberikan ruang bagi persaingan yang sehat.

Persoalan muncul ketika kepemilikan tersebut berkembang menjadi integrasi vertikal, yakni ketika satu platform menguasai berbagai mata rantai bisnis mulai dari pembayaran hingga pengiriman melalui perusahaan yang terafiliasi.

“Kalau terjadi vertical integration atau integrasi vertikal, di mana satu platform memiliki kurang lebih 8 juta paket dan itu dilakukan semuanya mulai pembayarannya sampai dengan pengirimannya oleh logistik yang terafiliasi oleh mereka sendiri, di situ jadi tidak sehat,” jelasnya.

Sonny menilai, kondisi tersebut berpotensi membuat pemain logistik lain kehilangan kesempatan untuk berkembang. Sebab, konsentrasi volume pengiriman pada satu perusahaan dapat menciptakan ketimpangan dalam persaingan.

APLE, lanjut dia, telah membawa persoalan tersebut ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Langkah itu dilakukan setelah asosiasi mengumpulkan sejumlah data dan temuan di lapangan terkait dugaan praktik integrasi vertikal oleh salah satu platform.

“Kita uji ke anti-competition body di Indonesia yaitu KPPU. Dan sejauh ini memang dari bukti-bukti dan pengumpulan data itu memang ada,” tuturya.

Selain itu, Sonny menyebut, sedikitnya terdapat tiga risiko yang perlu diwaspadai apabila integrasi vertikal tidak dikendalikan. Pertama, terjadi konsentrasi barang pada satu perusahaan. Kedua, muncul praktik predatory pricing yang dapat menyulitkan perusahaan logistik lain untuk bersaing. Ketiga, kondisi tersebut berpotensi mengarah pada monopoli.

Meski demikian, Sonny menilai, persoalan tersebut bukan semata-mata kesalahan platform digital. Menurutnya, langkah perusahaan membangun layanan logistik sendiri juga didorong tuntutan pasar untuk menyediakan layanan yang lebih cepat dan murah.

Karena itu, yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara efisiensi platform dengan keberlangsungan industri logistik secara keseluruhan. “Industri digital Indonesia membutuhkan healthy logistik. Perusahaan logistik yang sanggup berkembang bukan hanya kurir, yang kemudian bisa punya fulfillment, kemudian bisa punya armada pesawat sendiri,” katanya.

APLE, kata Sonny, mendorong agar perusahaan logistik mendapatkan perlakuan yang adil sehingga dapat tumbuh dengan model bisnis dan kapasitas masing-masing. Dengan persaingan yang sehat, perusahaan logistik diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, memperkuat layanan, sekaligus memperoleh margin yang memadai.

“Visi dan misi asosiasi agar industri logistik, perusahaan-perusahaan logistik ini diperlakukan secara fair, kemudian bisa berkembang. Dari perkembangan mereka dengan margin yang bagus akan menciptakan ekosistem yang baik,” pungkas Sonny. (E-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |