Studi Terbaru: Neanderthal Pemburu Mamut Raksasa bukan Pemakan Belatung

6 hours ago 1
 Neanderthal Pemburu Mamut Raksasa bukan Pemakan Belatung Neanderthal Pemburu Mamut Raksasa.(Dok. Inverse)

TEKA-TEKI mengenai pola makan ekstrem spesies purba Neanderthal akhirnya menemukan titik terang melalui penelitian terbaru. Kerabat purba manusia ini terbukti bukan pemakan larva serangga atau belatung, melainkan pemburu tangguh yang memangsa megafauna raksasa seperti mamut.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan meneliti tingginya kadar isotop nitrogen-15 pada sampel kolagen fosil Neanderthal yang mencapai 12 hingga 14 persen. Angka ini jauh melampaui predator puncak lainnya seperti serigala abu-abu dan hiena yang hanya memiliki kadar nitrogen berkisar antara 7,9 hingga 8,4 persen.

Tingginya angka tersebut sempat memicu perdebatan karena manusia tidak dapat mengonsumsi protein murni secara berlebihan tanpa risiko kesehatan fatal yang disebut rabbit starvation. Melansir IFLScience, sempat muncul teori bahwa Neanderthal mendapatkan asupan nitrogen tinggi dari konsumsi larva serangga pada bangkai hewan.

Namun, studi yang dipimpin oleh José Luis Guil-Guerrero dari Universitas Almería mematahkan hipotesis tersebut. Melalui simulasi statistik, tim peneliti menemukan bahwa agar kadar nitrogen mencapai angka tersebut, belatung harus mendominasi 40 hingga 100 persen porsi makan harian Neanderthal, sebuah skenario yang mustahil secara biologis.

"Konsumsi larva serangga akan membutuhkan proporsi makanan yang sama sekali tidak masuk akal untuk mendorong sinyal kolagen Neanderthal sejauh itu melampaui batas karnivora puncak," ujar Guil-Guerrero.

Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Biological Anthropology ini menegaskan bahwa nilai isotop tinggi tersebut lebih masuk akal dijelaskan oleh konsumsi daging mamut raksasa. Daging mamut secara alami memiliki kandungan nitrogen sangat tinggi yang mampu mendongkrak profil kolagen secara signifikan.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa perburuan mamut mungkin bukan satu-satunya faktor tunggal. Peneliti mengakui bahwa penyebab pasti tingginya nilai isotop kemungkinan melibatkan gabungan kompleks antara perilaku berburu, kondisi lingkungan regional, hingga stres fisiologis yang masih terus diteliti hingga saat ini. (IFLScience/Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |