Studi Astronomi: Matahari Bisa Tarik Kembali Komet Seperti Bumerang

2 hours ago 1
 Matahari Bisa Tarik Kembali Komet Seperti Bumerang Peneliti ungkap fenomena objek kuasi-antarbintang, komet asli Tata Surya yang sempat terlempar.(Dok. IFLScience)

SELAMA puluhan tahun, para astronom menganggap kunjungan objek antarbintang seperti 'Oumuamua sebagai fenomena satu arah. Namun, sebuah studi terbaru yang dilansir dari IFLScience mengungkapkan bahwa Tata Surya memiliki "bumerang" kosmis sendiri yang disebut objek kuasi-antarbintang (quasi-interstellar objects).

Benda langit ini merupakan produk asli Tata Surya yang sempat terlempar ke luar angkasa, namun akhirnya berbalik arah dan "pulang" karena masih terikat gaya gravitasi lemah Matahari. Fenomena ini mematahkan anggapan bahwa semua objek yang keluar dari sistem kita akan pergi selamanya.

Rahasia fenomena ini terletak pada dinamika wilayah awan Oort. Model statistik menunjukkan sekitar 95 persen komet dan asteroid asli Tata Surya, atau setara 10.000 triliun batuan raksasa, telah terlempar ke ruang hampa galaksi sejak awal pembentukannya. Meski mengembara jauh di Bimasakti, batuan ini tidak pernah benar-benar lepas dari pengaruh gravitasi Matahari.

Para peneliti menegaskan bahwa objek "bumerang" ini memiliki karakteristik fisik dan pergerakan yang berbeda drastis dari pengembara asing asli. "Objek kuasi-antarbintang secara dramatis berbeda dari objek antarbintang asli dalam hampir segala hal," tulis para astronom dalam makalah pra-cetak mereka.

Perbedaan paling mencolok ditemukan pada kecepatannya. Komet bumerang diprediksi melintasi lingkungan planet kita dengan laju yang jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan ekstrem objek asing seperti 'Oumuamua atau Komet Borisov.

Meski demikian, mendeteksi objek ini menjadi tantangan besar karena kelangkaannya, yakni kurang dari satu objek per tahun di dalam orbit Jupiter. Selain itu, kemiripannya dengan komet berperiode panjang dari awan Oort sering kali menimbulkan bias data bagi para peneliti.

Bahkan, proyek teleskop canggih Legacy Survey of Space and Time (LSST) di Observatorium Vera Rubin diperkirakan akan kesulitan mengidentifikasi objek ini secara pasti. Walau sulit ditemukan dalam waktu dekat, studi ini memberikan perspektif baru mengenai dinamika mekanika langit di sistem bintang kita. (IFL Science/Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |