ilustrasi(Antara)
Pemerintah tengah menyiapkan serangkaian sumber pertumbuhan ekonomi baru sebagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional mencapai target 8%. Upaya ini dilakukan melalui penguatan fundamental ekonomi dan percepatan kebijakan prioritas di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat investasi, serta menciptakan sumber pertumbuhan yang inklusif bagi masyarakat luas.
Hilirisasi dan Rantai Pasok Nasional
Salah satu pilar utama sumber pertumbuhan baru adalah percepatan hilirisasi. Hingga tahun 2026, pemerintah telah melakukan groundbreaking pada 26 proyek hilirisasi strategis. Proyek-proyek ini mencakup:
- Pengolahan batu bara menjadi DME (Dimethyl Ether).
- Hilirisasi tembaga dan emas.
- Pengembangan garam industri.
- Pengolahan alumina menjadi aluminium.
- Proyek waste to energy.
Rangkaian proyek ini diproyeksikan mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja baru sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
Optimalisasi SDA dan Pengelolaan Devisa
Selain hilirisasi fisik, pemerintah memperkuat pengelolaan sumber daya alam melalui sektor finansial. Saat ini, Bank Emas yang dikelola oleh Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) telah mengelola 153 ton emas dengan nilai mencapai Rp360 triliun (sekitar 20 miliar dolar AS).
Di sisi lain, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) mencatatkan kinerja signifikan dengan mengelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) sebesar 14 miliar dolar AS hanya dalam waktu 2 bulan 13 hari operasional. Danantara DSI juga memonitor lebih dari 6.500 transaksi ekspor guna mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing.
Transformasi BUMN dan Efisiensi Kelembagaan
Pemerintah juga melakukan perampingan besar-besaran pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari total 1.074 BUMN (termasuk anak dan cucu usaha), sebanyak 290 perusahaan telah ditutup. Pemerintah menargetkan jumlah maksimal BUMN menyusut hingga tersisa 300 perusahaan untuk meningkatkan efisiensi.
Hasil dari transformasi ini mulai terlihat pada aspek profitabilitas. Laba BUMN tercatat meningkat tajam dari Rp186 triliun pada 2024 menjadi Rp326 triliun pada 2025, atau tumbuh sebesar 75,3 persen.
10 Agenda Transformasi Menuju 2027
Memasuki tahun 2027, Haryo mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan 10 agenda transformasi untuk meningkatkan daya saing nasional, antara lain:
- Renovasi 10 ribu puskesmas.
- Pembangunan dan revitalisasi 441 RSUD.
- Renovasi sekolah secara masif.
- Pembentukan bursa mineral dan komoditas Indonesia.
- Optimalisasi aset BUMN.
- Pengembangan 100 gigawatt (GW) energi surya.
- Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
- Danantara Development Management Fund (DDMF).
- Elektrifikasi mobilitas rakyat.
- Kebijakan dwi-kewarganegaraan.
“Berbagai agenda transformasi yang disiapkan untuk 2027 merupakan bagian dari upaya Pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih produktif dan berkelanjutan,” pungkas Haryo. (Ant/E-3)


















































