Donald Trump.(Al Jazeera)
IRAN dilaporkan tengah mengintensifkan aksi konfrontasi terhadap Amerika Serikat (AS) dengan harapan dapat meningkatkan beban konflik bagi Presiden Donald Trump. Langkah ini diambil kurang dari dua bulan menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) AS yang krusial.
Lebih dari setengah tahun setelah perang meletus pada 28 Februari--yang dipicu serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei--Teheran justru memilih untuk meningkatkan tensi. Alih-alih menempuh jalur diplomasi, Iran dinilai berani mengambil risiko kembali ke pertempuran habis-habisan.
Di sisi lain, Trump berada di bawah tekanan besar untuk mengakhiri perang seiring mendekatnya pemilu pada 3 November. "Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilu karena Iran tidak bisa bertahan lebih lama lagi," ujar Trump pada Rabu (9/9).
Eksploitasi Kerentanan AS
Meskipun struktur komando di Teheran masih belum jelas karena penerus sekaligus putra Khamenei, Mojtaba, belum tampil di publik, kepemimpinan Iran tetap mempertegas kebijakan konfrontasi tradisional mereka. Iran tidak hanya menutup akses pelayaran bebas di Selat Hormuz, tetapi juga memperluas zona terlarang di jalur energi vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia tersebut.
"Iran merasa sedang memenangkan perang dan AS kalah," kata Thomas Juneau, profesor di Universitas Ottawa. Menurutnya, Teheran melihat peluang untuk mengeksploitasi kelemahan AS guna membentuk kembali tatanan regional demi keuntungan mereka.
Sanam Vakil, direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, menambahkan bahwa Iran mencoba mengubah eskalasi menjadi daya tawar. "Teheran percaya tekanan di Hormuz dapat mengeksploitasi biaya politik dan ekonomi dari krisis Timur Tengah lain menjelang pemilu sela," jelasnya.
Serangan Fisik dan Tuntutan Teheran
Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan 10 kapal yang mencoba melintasi zona terlarang di Selat Hormuz. Selain itu, mereka mengeklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania sebagai balasan atas penghancuran lima tanker minyak Iran oleh pasukan AS sehari sebelumnya. Laporan CBS News menyebutkan sekitar delapan jet tempur F-15 milik AS mengalami kerusakan ringan akibat serangan tersebut.
Di Teheran, retorika anti-AS tetap membara. Spanduk bertuliskan "Kami akan membunuh Trump" dan gambar peti mati tentara Amerika yang dipulangkan menghiasi jalanan kota.
Mohsen Rezaei, kepala baru dewan keamanan nasional tertinggi Iran, menegaskan ketidakpercayaan terhadap AS. "Kami tidak akan mengambil langkah lebih lanjut kecuali mereka melakukan tindakan pembangunan kepercayaan. Mereka harus membuktikannya," tegas Rezaei yang kini menjadi salah satu tokoh garis keras utama di bawah bayang-bayang Mojtaba Khamenei.
Juru bicara Garda Revolusi, Hossein Mohebi, juga merilis daftar tuntutan untuk mengakhiri perang, di antaranya:
- Penarikan pasukan Israel yang beroperasi di Libanon selatan.
- Pelepasan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar US$24 miliar (setara Rp369,6 triliun).
Target Politik: Kekalahan Republik
Para analis menilai Iran berharap tekanan ini dapat membuat Partai Republik kehilangan kendali atas DPR dan Senat AS. Jika itu terjadi, Trump akan menjadi presiden lemah secara politik di dua tahun terakhir masa jabatannya.
"Iran tidak bisa mengalahkan AS secara militer," kata Ali Alfoneh dari Arab Gulf States Institute. "Sebaliknya, Teheran berharap dapat melemahkan Trump secara politik dengan menjaga harga bensin tetap tinggi dan mengingatkan pemilih Amerika bahwa presiden telah menjerumuskan AS ke dalam 'perang tanpa akhir' yang sebelumnya ia janji akan hindari."
Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Juneau memperingatkan bahwa kepemimpinan Iran sangat rentan secara domestik akibat krisis ekonomi yang memicu protes besar pada Januari lalu. Kemarahan publik di Iran diprediksi akan terus meningkat seiring memburuknya kondisi ekonomi, sehingga ada risiko besar bahwa Teheran mungkin bertindak terlalu jauh dalam permainan ini. (AFP/I-2)


















































