RSUD dr. Ben Mboy Kehabisan Obat, Puluhan Pasien Dirawat di Tenda Darurat

6 hours ago 1
RSUD dr. Ben Mboy Kehabisan Obat, Puluhan Pasien Dirawat di Tenda Darurat Penanganan korban gempa di RSUD dr. Ben Mboy Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, berlangsung dalam kondisi serba terbatas.(Dok.Istimewa)

KETERBATASAN stok obat dan alat kesehatan membuat penanganan korban gempa di RSUD dr. Ben Mboy Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, berlangsung dalam kondisi serba terbatas.

Rumah sakit juga terpaksa memindahkan puluhan pasien ke tenda darurat setelah bangunan utama, khususnya lantai dua dan tiga, mengalami kerusakan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7.

Humas RSUD dr. Ben Mboy Ruteng, Yohana RD Mari, mengatakan kerusakan terlihat pada dinding, tangga dan akses menuju lantai dua serta tiga. Sejumlah bagian bangunan bahkan mengalami kerusakan hingga ambruk. Kondisi tersebut membuat pihak rumah sakit tidak berani menempatkan pasien di ruangan yang dinilai masih rawan.

Hingga Kamis (20/8/) pagi, sebanyak 35 pasien dirawat di tenda darurat. Mereka terdiri atas korban gempa, pasien Trias IGD, pasien ruang bedah dan pasien penyakit dalam. Sementara itu, pasien ICU, NICU, pascaoperasi dan ibu bersalin ditempatkan di gedung lama berlantai satu yang dinilai lebih aman.

Meski kekurangan fasilitas dan stok medis mulai menipis, pelayanan kesehatan tetap berjalan. Visite dokter spesialis, operasi, cuci darah hingga pelayanan poliklinik tetap dilakukan. Alat rontgen juga dipindahkan ke tenda agar pasien tetap mendapatkan pemeriksaan.

Pasca-gempa, RSUD dr. Ben Mboy menerima 28 pasien rujukan dari sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Puskesmas Reo, Dampek, Wae Ri’i, Mano dan Pagal. Sebagian besar pasien rujukan mengalami patah tulang setelah tertimpa reruntuhan.

Dalam penanganan medis lanjutan, operasi sesar atau SC darurat tetap dilakukan sejak hari pertama gempa. Memasuki hari kedua dan ketiga, bantuan dokter spesialis ortopedi memungkinkan rumah sakit mulai melakukan operasi tulang terhadap korban reruntuhan. Sebagian tindakan operasi kemudian dipusatkan di Rumah Sakit Lapangan yang didirikan di Stadion Golodukal.

Namun, di tengah kebutuhan penanganan korban yang masih tinggi, stok medis menjadi persoalan. Rumah sakit membutuhkan tambahan obat antinyeri dan alat kesehatan dasar. Cuaca dingin yang dirasakan pasien dan tenaga kesehatan di tenda darurat juga menjadi tantangan tersendiri.

“Kondisi sangat tidak kondusif di tenda. Kami sangat membutuhkan selimut untuk pasien dan kursi, karena untuk sekadar duduk berjaga bagi perawat dan keluarga pasien saja tidak ada,” ujar Yohana.

“Selain itu, kami butuh alat kesehatan dasar dan obat antinyeri, karena mayoritas pasien rujukan datang dengan kondisi patah tulang akibat tertindih reruntuhan,” lanjutnya.

Di tengah kondisi tersebut, tenaga kesehatan RSUD dr. Ben Mboy tetap memberikan pelayanan kepada pasien, meski harus bekerja dengan keterbatasan ruang, fasilitas dan persediaan medis pascagempa.(E-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |