PM Spanyol Pedro Sanchez sebut tidak ada bukti kuat Maroko dalangi krisis migran di Ceuta, meski Donald Trump melontarkan kritik keras. Simak selengkapnya.(AFP)
PERDANA Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan tidak ada "bukti kuat" yang menunjukkan Maroko mendalangi gelombang lonjakan migran ke wilayah Ceuta. Pernyataan ini disampaikan Sanchez pada Kamis setelah mencuatnya laporan kepolisian Spanyol yang menyoroti kegagalan aparat keamanan Maroko dalam menangani krisis tersebut.
Laporan kepolisian Spanyol yang diperoleh AFP menyebutkan adanya sikap "pembiaran total" dari polisi Maroko sehingga mempermudah terjadinya gelombang perbatasan. Jumlah polisi Maroko di pos perbatasan dilaporkan "jelas lebih sedikit dari biasanya" dan para petugas "tidak melakukan upaya serius" untuk membendung arus migran. Beberapa petugas bahkan terlihat mengarahkan migran ke arah laut.
Meski demikian, Sanchez menyatakan di hadapan parlemen bahwa belum ada lembaga kepolisian, hukum, atau internasional yang menyerahkan "bukti kuat kepada pemerintah Spanyol bahwa Maroko merencanakan atau mengeksekusi insiden tersebut."
Sebelumnya, lonjakan drastis terjadi pada 30 dan 31 Juli ketika lebih dari 70.000 migran menyeberang ke Ceuta dari Maroko. Insiden yang diwarnai kekacauan tersebut menewaskan puluhan orang dan memicu perselisihan internal di Uni Eropa terkait isu migrasi.
Pihak Maroko membantah adanya kelonggaran pengamanan di perbatasan. Kementerian Dalam Negeri Maroko menyalahkan "eksploitasi jahat" di media sosial dan "penyebaran informasi menyesatkan" sebagai penyebab lonjakan mendadak tersebut.
Di sisi lain, Sanchez melontarkan kritik atas pernyataan jajaran pemerintah Maroko mengenai status Ceuta dan Melilla. Media Maroko sempat mengutip pernyataan Menteri Kehakiman Abdellatif Ouahbi yang menyebut Rabat memiliki hak "historis" dan "geografis" atas kedua wilayah tersebut serta menyerukan "solusi akhir" untuk mengembalikan wilayah tersebut ke Maroko.
Sanchez menilai komentar tersebut "tidak dapat diterima" dan menegaskan bahwa Ceuta serta Melilla akan tetap menjadi wilayah Spanyol "hingga akhir zaman." Atas insiden tersebut, Spanyol telah memanggil Duta Besar Maroko pada 21 Agustus.
Krisis ini turut memicu reaksi Internasional. Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik tajam penanganan Spanyol atas krisis migrasi tersebut.
"Apa yang terjadi dengan Spanyol adalah sebuah pelanggaran," kata Trump dalam wawancara dengan saluran televisi Inggris GB News.
"Saat saya melihatnya, ini sangat menyedihkan. Ini akan merusak seluruh negeri. Ini akan merusak sistem..."
"Dan itu akan menghancurkan Eropa karena begitu mereka berada di Spanyol, mereka tidak akan berhenti di Spanyol," tambahnya. "Merek akan mengalir ke negara Anda dan setiap negara lain -- tetapi mereka memang sudah mengalir ke negara Anda."
Oposisi Spanyol dari partai sayap kanan dan konservatif terus mempertanyakan peran Maroko dan menuduh Sanchez tunduk pada Rabat. Pemimpin oposisi utama dari Partai Populer, Alberto Nunez Feijoo, menolak penjelasan Sanchez dan mendesaknya mundur akibat "ketidakmampuan" atau "keterlibatan" dalam apa yang ia sebut sebagai "potensi tindakan perang hibrida."
Guna mempertegas kedaulatan, Sanchez mengungkapkan bahwa pemerintah telah mendorong Raja Spanyol Felipe VI untuk berkunjung ke Ceuta dan Melilla dalam beberapa minggu mendatang. Kendati demikian, Sanchez menegaskan Spanyol tidak memiliki "niat sedikit pun untuk memicu konflik diplomatik" dengan Maroko. (AFP/Z-2)












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)





