Agen ICE Didakwa Berbohong Soal Penembakan Migran Venezuela di Minnesota

3 hours ago 2
Agen ICE Didakwa Berbohong Soal Penembakan Migran Venezuela di Minnesota Ilustrasi(AFP)

SEORANG agen Imigrasi dan Penegakan Hukum AS (ICE) didakwa memberikan keterangan palsu, terkait insiden penembakan yang melukai seorang migran asal Venezuela di Negara Bagian Minnesota.

Agen bernama Christian Castro tersebut menghadapi dakwaan federal enam pasal terkait peristiwa penembakan yang terjadi pada 14 Januari. Penuntutan terhadap agen federal atas tuduhan pelanggaran hukum saat bertugas merupakan hal yang tergolong jarang dilakukan oleh Departemen Kehakiman saat ini.

Departemen Keamanan Dalam Negeri awalnya menyatakan Castro melepaskan tembakan untuk membela diri. Pihak otoritas mengklaim ia diserang tiga migran ilegal asal Venezuela menggunakan sekop dan gagang sapu.

Namun, penyidik Minnesota menemukan fakta sebaliknya. Castro dituduh melepaskan tembakan menembus pintu yang tertutup, hingga mengenai kaki seorang pria di dalamnya. Pejabat Minnesota menyatakan bahwa sang agen menembak ke arah pintu depan rumah dengan kondisi "mengetahui ada orang yang baru saja lari ke dalam." Peluru menembus pintu, mengenai kaki korban, dan akhirnya bersarang di dinding kamar anak.

Tuduhan palsu ini terkuak setelah video kamera pengawas (CCTV) memicu keraguan atas versi kejadian yang disampaikan para agen. Setelah rekaman tersebut diteliti, jaksa federal langsung melakukan penyelidikan.

Pada bulan Februari, pihak ICE mengonfirmasi bahwa dua agen imigrasi kemungkinan telah membuat "pernyataan yang tidak benar" terkait penembakan tersebut. Kedua agen itu pun langsung dibebastugaskan secara administratif.

Dua warga negara Venezuela, Alfredo Alejandro Aljorna dan Julio Cesar Sosa-Celis, korban yang tertembak di kaki, sebelumnya sempat dituduh melakukan penganiayaan, perlawanan, atau penghalangan terhadap petugas federal. Namun, seluruh tuduhan terhadap para migran tersebut resmi dibatalkan setelah jaksa menemukan bukti baru.

Atas insiden penembakan ini, Castro menghadapi tuduhan terpisah di Minnesota, yaitu penganiayaan dan pelaporan palsu atas suatu tindak pidana.

Castro merupakan satu dari ribuan petugas imigrasi federal yang dikerahkan ke Minnesota dalam Operation Metro Surge. Operasi tersebut memicu protes keras dan menyebabkan kematian dua warga negara AS akibat bentrokan dengan para agen.

Castro sempat ditangkap di Texas pada bulan Mei dan ditahan selama tiga bulan. Jaksa penuntut umum Minnesota telah meminta agar Castro diektradisi untuk mengandilkan persidangan. Namun, Gubernur Texas Greg Abbott menolak permintaan tersebut dengan alasan memiliki "keraguan serius" bahwa Castro memenuhi kualifikasi sebagai buron. Castro kemudian dibebaskan dari penahanan di Texas pekan lalu. (BBC/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |