Ilustrasi(magnific)
PSIKOLOG anak dan keluarga, Sani B. Hermawan, menegaskan bahwa upaya perlindungan anak tidak bisa hanya bertumpu pada lingkungan keluarga. Diperlukan sinergi yang kuat antara sekolah, masyarakat, hingga pemerintah melalui sistem yang ramah anak agar hak-hak mereka tetap terjaga.
"Upaya melindungi anak tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan keluarga, tetapi juga membutuhkan dukungan dari sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak tidak menjadi korban akibat kesalahan orang dewasa," ujar Sani saat dihubungi pada Rabu (15/7).
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas insiden di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi pada Senin (13/7). Dalam kejadian tersebut, seorang orangtua murid diduga mengirimkan pesan ancaman bom pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dampaknya, anak dari pelaku dilaporkan menjadi sasaran perundungan (bullying) akibat tindakan yang dilakukan orangtuanya tersebut.
| Lokasi Kejadian | SDN Srengseng Sawah 15 Pagi |
| Waktu Kejadian | Senin, 13 Juli (Hari pertama MPLS) |
| Dugaan Pelanggaran | Pengiriman pesan ancaman bom oleh orangtua murid |
| Dampak pada Anak | Menjadi korban perundungan akibat kesalahan orang dewasa |
Penguatan Implementasi Aturan
Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini menilai bahwa secara regulasi, Indonesia sebenarnya sudah memiliki berbagai aturan mengenai perlindungan anak. Namun, tantangan terbesar terletak pada konsistensi implementasi di lapangan.
"Undang-undangnya ada, kemudian peraturan yang berlaku di masyarakat harus memang digencarkan, disosialisasikan. Jangan sampai anaknya jadi korban justru karena kesalahan orang dewasa di sekitarnya," tambahnya.
Optimalisasi Layanan Konseling di Sekolah
Sani juga menyoroti pentingnya peran sekolah dalam menyediakan ruang aman bagi siswa. Ia mendorong agar layanan Bimbingan dan Konseling (BK) dioptimalkan sebagai wadah bagi anak untuk menyampaikan persoalan maupun tekanan yang mereka hadapi.
"Sistem BK harus berjalan, anak punya ruang aman untuk bercerita, anak diberikan pembekalan atau edukasi, jangan sampai jadi calon pelaku atau calon korban," tegas Sani.
Selain aspek perlindungan, Sani menyarankan agar keluarga dan sekolah aktif memfasilitasi pengembangan diri anak melalui kegiatan positif. Penyaluran energi ke dalam hobi, olahraga, maupun ajang prestasi dinilai efektif membangun kepercayaan diri dan mencegah perilaku negatif.
"Komunikasi yang sehat bisa membuat anak-anak terhindar dari itu semua. Eksistensi anak perlu diwadahi melalui ajang prestasi, olahraga, maupun hobi sehingga mereka tidak mencari eksistensi dengan membuli orang," pungkasnya. (Ant/Z-1)


















































