ilustrasi(Antara)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa musim kemarau semakin mendominasi wilayah Indonesia pada pertengahan Juli 2026. Kondisi atmosfer yang kian kering memicu peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun potensi hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat masih membayangi sejumlah wilayah hingga 20 Juli 2026.
Berdasarkan prakiraan cuaca sepekan periode 14-20 Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 432 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau pada Dasarian I Juli 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 11,6% dibandingkan dasarian sebelumnya.
Pantauan Hari Tanpa Hujan dan Massa Udara Kering
Kondisi kering di tanah air juga terkonfirmasi melalui pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH). Data BMKG menunjukkan 596 titik pengamatan (12,2%) berada pada kategori panjang yakni 21-30 hari. Sementara itu, 331 titik atau 6,8% lainnya telah mengalami HTH kategori sangat panjang dengan durasi 31-60 hari.
"Berdasarkan pantauan citra satelit, sebaran massa udara kering dari selatan Indonesia semakin meluas meliputi Jawa, Nusa Tenggara hingga Kalimantan bagian selatan. Kondisi ini mempertegas penurunan potensi pembentukan awan hujan, khususnya di Indonesia bagian selatan," tulis BMKG dalam keterangan resminya, Kamis (16/7).
Penguatan musim kemarau tahun ini turut dipengaruhi oleh fenomena El Niño yang masih bertahan di Samudra Pasifik. Tercatat Indeks Niño 3.4 berada pada angka +1,25, sementara Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -26,2.
Potensi Hujan dan Dampak Siklon Tropis Haishen
Meski kemarau mendominasi, BMKG menyebut potensi hujan belum sepenuhnya hilang akibat aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Gelombang Kelvin. Pada Dasarian II Juli 2026, diprakirakan 91,45 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, 8,52 persen kategori menengah, dan hanya 0,03 persen dengan potensi curah hujan tinggi.
Selain itu, keberadaan Siklon Tropis Haishen diprediksi memberikan dampak tidak langsung. Fenomena ini memicu hujan sedang di sebagian Sulawesi Utara dan Maluku Utara, serta gelombang laut setinggi 1,25–2,5 meter di Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, Laut Maluku bagian utara, hingga Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.
Peringatan Dini 14–17 Juli 2026:
- Status Siaga Hujan Lebat: Papua.
- Potensi Hujan Sedang: Sumatra Utara, Riau, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua Pegunungan.
- Waspada Angin Kencang: Aceh, Banten, Jawa Barat, NTT, Sulawesi Tenggara, dan Papua Barat.
Imbauan Kewaspadaan Karhutla
Mengingat risiko yang meningkat, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak kemarau seperti cuaca panas ekstrem dan dehidrasi. Secara khusus, masyarakat diminta menjaga lingkungan guna mencegah karhutla.
"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan rentan seperti lahan gambut dan hutan kering," tegas BMKG.
Di sisi lain, warga tetap diminta waspada terhadap potensi hujan lebat mendadak yang disertai petir. BMKG menyarankan masyarakat untuk menghindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame yang rapuh saat cuaca buruk terjadi secara lokal. (E-3)


















































