Selebrasi pemain timnas Argentina(Thomas COEX / AFP)
PARA pemain Argentina merayakan kemenangan dramatis mereka atas Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026 dengan membentangkan sebuah spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" (Malvinas adalah Milik Argentina). Euforia kelolosan Albiceleste langsung diselimuti bara geopolitik sesaat setelah peluit panjang berbunyi.
Di tengah gemuruh perayaan, duo penggawa Argentina, Lisandro Martínez dan Giovani Lo Celso, tertangkap kamera membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas". Aksi ini seketika menghidupkan kembali memori kolektif Perang Falklands/Malvinas 1982, sebuah tragedi berdarah 44 tahun silam yang merenggut lebih dari 900 nyawa dari kedua belah pihak.
Bagi skuat asuhan Lionel Scaloni, kemenangan atas Tiga Singa bukan sekadar urusan meraih tiket ke New Jersey untuk menantang Spanyol. Hasil ini adalah sebuah metamorfosis dari dendam sejarah dan janji suci di ruang ganti yang kerap mereka gaungkan: bertarung demi kehormatan pahlawan Malvinas, warisan Diego Maradona, dan mahkota penutup karier internasional Lionel Messi.
Aturan FIFA Larang Atribut Politik
Kendati gelandang Rodrigo De Paul sempat menyerukan agar isu kedaulatan wilayah tersebut dibahas di luar arena olahraga, tindakan Martínez dan Lo Celso di atas lapangan berpotensi membentur kedaulatan regulasi FIFA. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut secara ketat melarang segala atribut bermuatan politik dan provokatif masuk ke dalam stadion.
Insiden ini menjadi ujian tersendiri bagi ketegasan FIFA dalam menjaga netralitas lapangan hijau di tengah turnamen yang kian mendekati puncaknya. Di sisi lain, bagi publik Argentina, selembar kain di Atlanta itu adalah penegasan bahwa sepak bola dan harga diri bangsa tidak akan pernah bisa dipisahkan.
(Theguardian/P-4)


















































