Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mengunjungi rumah duka korban insiden kebocoran gas di Kampung Pulo Kapuk, RT 001/RW 005, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (31/8).(DOK PEMKAB BEKASI)
PEMERINTAH Kabupaten Bekasi memastikan akan menanggung seluruh biaya perawatan medis bagi korban insiden ledakan yang diduga akibat kebocoran gas elpiji di Desa Mekarmukti. Selain biaya rumah sakit, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan material untuk meringankan beban hidup sehari-hari keluarga korban.
Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, saat mengunjungi rumah duka di Kampung Pulo Kapuk, RT 001/RW 005, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, pada Senin (31/8). Kunjungan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan duka cita mendalam atas musibah yang menimpa satu keluarga tersebut.
"Saya sengaja berkunjung ke rumah duka. Kita memandang Kabupaten Bekasi turut berduka atas meninggalnya dua warga kami dan juga para korban yang masih menjalani perawatan," ujar Asep Surya Atmaja, Rabu (2/9).
Dalam kunjungan tersebut, Plt Bupati didampingi oleh Kepala Dinas Sosial, perwakilan Baznas, serta aparatur pemerintah setempat. Asep menyampaikan bahwa saat ini terdapat empat anggota keluarga yang masih menjalani penanganan medis secara intensif di beberapa rumah sakit berbeda.
Rinciannya, dua korban dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, satu korban di RSUD Kabupaten Bekasi, dan satu korban lainnya di RS Sentra Medika. "Untuk seluruh biaya perawatan, insya Allah kita akan cover," tegasnya.
Bantuan Operasional dari Baznas
Selain jaminan biaya perawatan, Pemkab Bekasi bersama Baznas memberikan dukungan finansial bagi anggota keluarga yang bertugas menjaga korban di rumah sakit, terutama yang berada di Bandung. Baznas menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp15 juta serta bantuan bahan pokok.
"Tadi dari Baznas juga sudah menyerahkan beberapa anggaran untuk ongkosnya, untuk makannya, agar yang di Bandung yang menunggu punya bekal selama keluarganya dirawat," tambah Asep.
Edukasi Penanganan Kebocoran Gas
Menyikapi insiden tragis ini, Asep menekankan pentingnya sosialisasi masif mengenai langkah darurat saat terjadi kebocoran gas elpiji, khususnya tabung tiga kilogram. Ia meminta jajarannya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tindakan pertama saat mencium bau gas.
"Ini harus ada sosialisasi agar masyarakat memahami ketika menghadapi kondisi darurat akibat kebocoran gas. Kita bekerja sama kalau bisa hingga ke tingkat RT/RW. Kita kasih sosialisasi terkait penanganan, jangan sampai ini terjadi lagi," katanya.
Ia juga mengingatkan warga agar tidak panik dan memahami langkah perlindungan diri. Menurutnya, insiden kebocoran gas tidak hanya berbahaya karena risiko semburan api, tetapi juga paparan gas yang dapat menyebabkan dehidrasi parah dan gangguan pernapasan yang membahayakan jiwa.
Diharapkan dengan adanya edukasi yang menjangkau tingkat akar rumput, masyarakat memiliki pengetahuan dasar untuk melakukan penanganan awal guna mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang. (I-2)


















































