Paus Leo desak Eropa dan AS tangani migrasi dengan rasa solidaritas

17 hours ago 2

Roma (ANTARA) - Paus Leo XIV mengunjungi Pulau Lampedusa di Mediterania, pada Sabtu (4/7), untuk mendesak para pemimpin Eropa dan AS agar menanggapi migrasi dengan solidaritas, bukan pencegahan.

Paus pertama asal AS itu memilih berkunjung pada 4 Juli, bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di pulau yang identik dengan para migran yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mencapai “pintu gerbang” Eropa.

Kunjungan simbolis itu memperkuat pesan yang telah berulang kali ia sampaikan sejak menjadi Paus, yakni bahwa migran harus diperlakukan sebagai orang yang membutuhkan perlindungan, bukan terutama sebagai tantangan keamanan.

Kunjungan ini dilakukan kurang dari dua pekan setelah Uni Eropa menyetujui aturan migrasi baru yang memperluas kewenangan penahanan dan mengizinkan pusat deportasi di luar blok tersebut.

Kunjungan ini juga berlangsung setelah berbulan-bulan Paus Leo mengkritisi kebijakan imigrasi yang keras, termasuk langkah-langkah yang dijalankan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Dengan memilih mengunjungi perbatasan migrasi Eropa pada Hari Kemerdekaan Amerika, Paus juga menyampaikan salah satu pesan politik paling jelas dalam masa kepausannya - mendesak para pemimpin Barat untuk menempatkan belas kasih dan tanggung jawab bersama sebagai pusat kebijakan migrasi.

"Dari sudut terpencil Eropa di Laut Mediterania ini, kita dapat lebih jelas memahami tantangan besar yang ditimbulkan oleh fenomena migrasi bagi masyarakat Eropa," kata Leo kepada penduduk dan peziarah yang berkumpul di pulau itu.

Namun, ia menegaskan bahwa Eropa mampu mengatasi masalah ini melalui kebijakan yang "menerima, melindungi, mendukung, dan mengintegrasikan migran" sekaligus membantu negara asal "agar tidak ada yang dipaksa untuk beremigrasi."

Kunjungan selama sehari itu juga menegaskan momen penting dalam masa kepausan Paus Fransiskus, pendahulu Leo.

Pada 2013, Fransiskus memilih Lampedusa untuk perjalanan pertamanya di luar Roma, menarik perhatian global pada migran yang menyeberangi Laut Mediterania.

Dengan menelusuri kembali sebagian besar perjalanan itu, Leo menggarisbawahi kesinambungan sikap antara kedua Paus mengenai migrasi.

Leo memulai dengan berdoa di makam para migran yang meninggal dunia saat mencoba menyeberang dari Afrika Utara.

Kemudian ia berdiri menghadap laut yang memisahkan Afrika dan Eropa, salah satu rute migrasi paling mematikan di dunia, sebelum mengunjungi monumen "Gerbang Menuju Eropa" dan bertemu dengan sebuah keluarga migran.

Pada Misa di luar ruangan, pemimpin tertinggi umat Katolik dunia itu membandingkan para migran dengan penjelajah yang terluka dalam perumpamaan Injil tentang Orang Samaria yang Baik Hati.

"Di sini, Anda telah melihat bukan hanya satu, tetapi ribuan manusia jatuh ke tangan perampok yang telah mengambil segalanya dari mereka, memukuli mereka dengan brutal dan pergi begitu saja, meninggalkan mereka dalam kondisi setengah mati," katanya.

Paus Leo kemudian memberikan penghormatan kepada mereka yang meninggal di laut, mengatakan bahwa kehadiran mereka menantang hati nurani Eropa, tidak kurang dari mereka yang selamat dari perjalanan tersebut.​​​​​​​

Lampedusa, sekitar 145 kilometer dari Tunisia, telah lama menjadi titik fokus perdebatan migrasi di Eropa.

Lebih dari 14.000 migran tiba di Italia selama paruh pertama tahun ini, menurut badan pengungsi PBB, dengan hampir 60 persen mendarat di pulau tersebut. Sebagian besar berangkat dari Libya.

Leo berulang kali berterima kasih kepada penduduk Lampedusa karena telah menyambut para migran dan mendukung upaya penyelamatan. Ia menghargai tindakan mereka sebagai "mukjizat belas kasih."

Waktu dan lokasi kunjungan tersebut memperkuat pesan politiknya. Ketika pemerintah di seluruh Eropa dan AS semakin fokus pada kontrol perbatasan, deportasi, dan tindakan pencegahan, Leo menggunakan salah satu perbatasan migrasi paling terkenal di dunia untuk memperjuangkan pendekatan yang lebih manusiawi.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Separuh lebih anggota UE desak bentuk pusat migrasi di luar kawasan

Baca juga: UE terima ratusan ribu pengungsi meski dorong kebijakan anti-migrasi

Penerjemah: Yashinta Difa
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |