Jakarta (ANTARA) - Upaya pemerintah menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau kembali membuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi perhatian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan OMC untuk membantu meluruhkan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, dan Lampung.
Dalam pelaksanaannya, BNPB menyiapkan dua pendekatan. Jika terdapat awan yang sesuai, penyemaian dilakukan untuk menstimulasi turunnya hujan. Namun, apabila pertumbuhan awan hujan tidak mencukupi, BNPB bersama BMKG menyiapkan metode water mist untuk membantu mengurai partikel abu di wilayah terdampak.
Penggunaan OMC tersebut menunjukkan bahwa modifikasi cuaca tidak hanya berkaitan dengan istilah "hujan buatan". Teknologi ini juga mulai digunakan sebagai salah satu alat untuk menghadapi berbagai risiko bencana yang dipengaruhi kondisi cuaca.
Pertanyaannya, ketika perubahan iklim membuat cuaca ekstrem, kekeringan, dan berbagai bencana hidrometeorologi menjadi tantangan yang semakin serius, apakah modifikasi cuaca bisa menjadi solusinya?
Perubahan iklim bukan sekadar soal hujan
Perubahan iklim menyebabkan perubahan pada pola cuaca dalam jangka panjang. Dampaknya dapat terlihat melalui berbagai fenomena, mulai dari peningkatan suhu, perubahan pola musim, kekeringan, hingga meningkatnya risiko hujan ekstrem di sejumlah wilayah.
Indonesia yang berada di kawasan tropis juga menghadapi berbagai risiko tersebut. Pada 2026, misalnya, BMKG meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi El Niño dan kondisi kemarau yang dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Dalam kondisi seperti itu, pemerintah membutuhkan berbagai strategi untuk mengurangi dampaknya. Salah satunya adalah OMC.
Namun, penting untuk membedakan antara mengatasi dampak perubahan iklim dan menghentikan perubahan iklim.
OMC berada pada kelompok pertama.
Baca juga: Cara kerja modifikasi cuaca, benarkah bisa membuat hujan?
OMC bisa membantu saat kekeringan
Salah satu fungsi modifikasi cuaca adalah mengoptimalkan potensi hujan ketika suatu wilayah menghadapi kondisi kering.
BMKG menjelaskan bahwa OMC bukan menciptakan hujan dari langit yang cerah. Teknologi tersebut memanfaatkan awan yang sudah tersedia dan memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
Ketika kondisi awan mendukung, penyemaian dapat dilakukan untuk membantu mempercepat proses turunnya hujan atau memperluas wilayah yang mendapatkan curah hujan. Karena itu, keberadaan awan dan kondisi atmosfer menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan operasi.
Cara tersebut dapat membantu mengurangi dampak kekeringan, terutama ketika air dibutuhkan untuk menjaga kondisi lahan atau mendukung penanganan karhutla.
Membantu menghadapi karhutla
Kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu ancaman yang berkaitan erat dengan kondisi kering.
Dalam beberapa tahun terakhir, OMC digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan hujan di wilayah rawan karhutla. BMKG bahkan mengembangkan pendekatan berbasis data untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki potensi kebakaran dan menentukan langkah mitigasi dengan lebih awal.
Pada Agustus 2026, BMKG bersama sejumlah lembaga juga melaksanakan OMC di Ibu Kota Nusantara dan Kalimantan Timur untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu alat bantu menghadapi kondisi iklim yang membuat suatu wilayah lebih rentan terhadap kekeringan.
Baca juga: Bagaimana hujan buatan dibuat? Ini cara kerja modifikasi cuaca
Bukan cuma menambah hujan
Menariknya, fungsi OMC tidak selalu untuk membuat hujan turun.
Dalam situasi tertentu, modifikasi cuaca juga dapat digunakan untuk membantu mengurangi risiko hujan berlebihan. BMKG menjelaskan OMC dapat memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan curah hujan di wilayah yang mengalami kekeringan dan mengurangi curah hujan di wilayah yang memiliki risiko banjir tinggi.
Artinya, teknologi ini bisa digunakan untuk menghadapi dua kondisi yang berlawanan: terlalu sedikit hujan dan terlalu banyak hujan.
Hal tersebut menjadi relevan bagi Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas dengan kondisi geografis dan pola cuaca yang berbeda-beda.
Lalu, apakah OMC bisa menghentikan perubahan iklim?
Jawabannya tidak.
Modifikasi cuaca bekerja dalam skala ruang dan waktu yang relatif terbatas. Teknologi ini memengaruhi proses yang terjadi pada awan tertentu, bukan mengubah sistem iklim bumi secara keseluruhan.
Perubahan iklim sendiri berkaitan dengan perubahan jangka panjang pada sistem iklim dan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Karena itu, mengurangi emisi gas rumah kaca, menjaga hutan, mempercepat transisi energi bersih, serta meningkatkan ketahanan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan iklim.
OMC lebih tepat ditempatkan sebagai alat adaptasi dan mitigasi terhadap dampak cuaca tertentu, bukan sebagai obat untuk perubahan iklim.
Baca juga: Bukan sekadar hujan buatan, ini beragam fungsi modifikasi cuaca
Risiko OMC tetap harus diperhitungkan
Penggunaan modifikasi cuaca juga tidak bisa dilakukan sembarangan.
Tim meteorologi harus melihat kondisi atmosfer, perkembangan awan, arah angin, kelembapan dan berbagai parameter lainnya. Jika awan yang dibutuhkan tidak tersedia, penyemaian tidak dapat dipaksakan.
Dalam kasus Anak Krakatau, aspek keselamatan juga menjadi perhatian karena abu vulkanik telah mengganggu aktivitas penerbangan. BNPB menyebut pelaksanaan OMC dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keamanan dan keselamatan.
Hal ini menunjukkan bahwa OMC bukan teknologi yang bisa digunakan seperti menekan tombol untuk mengatur hujan.
Jadi, apakah modifikasi cuaca bisa menjadi solusi?
Bisa, tetapi hanya untuk bagian tertentu dari persoalan.
Ketika Indonesia menghadapi kekeringan, karhutla, hujan ekstrem atau bahkan kondisi khusus seperti sebaran abu vulkanik Anak Krakatau, OMC dapat menjadi salah satu alat bantu untuk mengurangi dampaknya.
Namun, teknologi tersebut tidak menyelesaikan akar persoalan perubahan iklim.
Justru, perubahan iklim membuat kebutuhan terhadap sistem peringatan dini, data cuaca yang akurat, pengelolaan hutan dan air, infrastruktur yang lebih tahan terhadap bencana, serta pengurangan emisi menjadi semakin penting.
Baca juga: BPBD Jatim: Beberapa pegunungan masuk skala prioritas OMC
Baca juga: Mengenal cloud seeding, teknologi untuk memicu hujan dari awan
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































