Makna Sifat Qiyamuhu Binafsihi: Penjelasan Lengkap Ulama Asyariyah dan Maturidiyah

1 week ago 4
 Penjelasan Lengkap Ulama Asyariyah dan Maturidiyah Qiyamuhu binafsihi.(Dok Istimewa)

DALAM teologi Islam, khususnya dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) yang mengikuti manhaj Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, mengenal sifat-sifat Allah merupakan kewajiban fundamental bagi setiap mukalaf. Salah satu sifat yang menjadi pilar dalam memahami ketuhanan ialah Qiyamuhu Binafsihi.

Secara bahasa, Qiyamuhu Binafsihi berarti berdiri sendiri. Namun, dalam terminologi ilmu tauhid, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar berdiri secara fisik. Sifat ini menegaskan kemandirian mutlak Allah SWT dan ketiadaan ketergantungan-Nya kepada apa pun dan siapa pun.

Definisi Qiyamuhu Binafsihi Menurut Ulama Aswaja

Para ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah mengklasifikasikan Qiyamuhu Binafsihi ke dalam kelompok Sifat Salbiyah. Sifat salbiyah adalah sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah SWT. Dalam hal ini, Qiyamuhu Binafsihi meniadakan dua hal utama:

  1. Allah tidak membutuhkan tempat (Mahall): Allah bukan merupakan sifat (a'radh) yang menempel pada zat lain. Allah ialah Zat yang berdiri sendiri.
  2. Allah tidak membutuhkan pencipta (Mukhassis): Allah tidak membutuhkan pihak lain yang mewujudkan-Nya atau menentukan keberadaan-Nya, karena Dia Wajibul Wujud (Zat yang wajib adanya).

Perspektif Imam al-Asy'ari dan Imam al-Maturidi

Meskipun terdapat perbedaan teknis dalam beberapa cabang ilmu kalam, dalam masalah Qiyamuhu Binafsihi, kedua imam besar ini sepakat pada esensi kemandirian Allah.

1. Pandangan Asy'ariyah

Ulama Asy'ariyah menekankan bahwa Allah SWT tidak membutuhkan ruang atau arah. Jika dikatakan Allah mandiri, berarti Zat Allah tidak membutuhkan mahall (subjek untuk menempel). Berbeda dengan sifat manusia (seperti warna kulit atau kepandaian) yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada raga manusia, Zat Allah ada tanpa membutuhkan sandaran apa pun.

2. Pandangan Maturidiyah

Ulama Maturidiyah sering kali mengaitkan sifat ini dengan kebijaksanaan (hikmah) dan ketuhanan (uluhiyah). Bagi mereka, mustahil seorang Tuhan memiliki ketergantungan. Jika Tuhan membutuhkan sesuatu, Dia lemah dan zat yang lemah tidak layak disebut sebagai Tuhan. Oleh karena itu, Qiyamuhu Binafsihi adalah konsekuensi logis dari kesempurnaan Zat-Nya.

Dalil Naqli dan Aqli

Keyakinan terhadap sifat ini didasarkan pada dalil yang kuat, baik dari Al-Qur'an maupun logika akal sehat.

Dalil Al-Qur'an

Salah satu ayat yang paling sering dirujuk adalah dalam Surah Al-Ikhlas ayat 2:

اللَّهُ الصَّمَدُ

"Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu." (QS. Al-Ikhlas: 2).

Kata Ash-Shamad mengandung makna bahwa seluruh makhluk membutuhkan Allah, sementara Allah tidak membutuhkan mereka sedikit pun. Selain itu, dalam Surah Fatir ayat 15 disebutkan:

"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji."

Dalil Aqli (Logika)

Secara akal, jika Allah membutuhkan pihak lain untuk ada atau untuk bertahan, Allah adalah makhluk yang baru (hadits). Sesuatu yang membutuhkan bantuan berarti memiliki kekurangan. Karena Allah pencipta alam semesta, secara logika Dia harus ada sebelum segala sesuatu ada dan tidak boleh terikat pada hukum ketergantungan yang berlaku bagi ciptaan-Nya.

Konsekuensi Keimanan terhadap Qiyamuhu Binafsihi

Memahami sifat ini memberikan dampak besar bagi spiritualitas seorang Muslim:

  • Memurnikan Tauhid: Menghilangkan bayangan bahwa Allah menyerupai makhluk yang butuh makan, tempat tinggal, atau pembantu.
  • Menumbuhkan Rasa Tawakal: Menyadari bahwa hanya Allah yang benar-benar mandiri, sehingga hanya kepada-Nya kita bersandar.
  • Kerendahan Hati: Menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang fakir (sangat butuh) kepada Allah dalam setiap hembusan napasnya.

Catatan Penting: Sifat kebalikan (lawan) dari Qiyamuhu Binafsihi adalah Ihtiyaju Lighairihi (membutuhkan yang lain). Sifat ini mustahil bagi Allah SWT.

FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan

Apa arti sederhana dari Qiyamuhu Binafsihi? Artinya Allah berdiri sendiri, tidak membutuhkan bantuan, tempat, atau pencipta untuk ada. Apakah Allah membutuhkan ibadah kita? Tidak. Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi, artinya ibadah kita tidak menambah keagungan-Nya dan kemaksiatan kita tidak mengurangi kekuasaan-Nya. Ibadah adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Allah. Apa perbedaan antara mandirinya Allah dan mandirinya manusia? Kemandirian manusia bersifat relatif dan semu. Manusia tetap butuh oksigen, makanan, dan izin Allah untuk bertindak. Sedangkan kemandirian Allah bersifat mutlak dan hakiki. Mengapa Qiyamuhu Binafsihi disebut Sifat Salbiyah? Karena sifat ini meniadakan (menolak) adanya sifat kekurangan pada Allah, yaitu sifat ketergantungan atau kebutuhan kepada yang lain. Bagaimana cara mengamalkan sifat ini dalam kehidupan? Dengan cara tidak menggantungkan harapan secara mutlak kepada makhluk dan selalu memohon pertolongan hanya kepada Allah.

Kesimpulan

Sifat Qiyamuhu Binafsihi merupakan pondasi penting dalam akidah Aswaja untuk menjaga kesucian Zat Allah dari sifat-sifat kekurangan. Dengan meyakini bahwa Allah berdiri sendiri, seorang mukmin akan memiliki ketauhidan yang kokoh, tidak mudah goyah oleh sebab-sebab duniawi, dan senantiasa merasa butuh hanya kepada Sang Pencipta. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |