Kementerian ESDM Prediksi Permintaan Batu Bara Global Turun dalam 5 Tahun

1 week ago 5
Kementerian ESDM Prediksi Permintaan Batu Bara Global Turun dalam 5 Tahun ilustrasi(Antara)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan permintaan batu bara global dalam lima tahun ke depan akan mengalami penurunan tipis. Tren ini dipicu oleh semakin kuatnya penetrasi penggunaan energi terbarukan di berbagai belahan dunia.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa meskipun permintaan global melemah, kawasan India dan Asia Tenggara masih memberikan ruang pertumbuhan bagi komoditas ini, setidaknya hingga 2027.

“Pasar global dalam lima tahun ke depan diperkirakan cenderung mengalami penurunan tipis, di mana tekanan energi terbarukan menjadi semakin kuat, sementara India dan kawasan Asia masih memberikan ruang untuk pertumbuhan,” ujar Tri di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Kinerja Ekspor dan Pasar Utama

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor batu bara Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 390,93 juta ton. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 405,76 juta ton.

Secara nilai, ekspor batu bara pada 2025 juga terkoreksi 19,70 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 24,48 miliar dolar AS, dari sebelumnya 30,49 miliar dolar AS. China dan India tetap menjadi tujuan utama pengiriman emas hitam asal Indonesia.

Berikut adalah rincian volume ekspor ke negara tujuan utama pada 2025:

  • India: 100,24 juta ton (4,97 miliar dolar AS)
  • China: 81,79 juta ton (4,58 miliar dolar AS)
  • Filipina: 37,70 juta ton (2,20 miliar dolar AS)
  • Korea Selatan: 28,29 juta ton (1,84 miliar dolar AS)
  • Jepang: 27,17 juta ton (2,86 miliar dolar AS)

Strategi Produksi dan RKAB 2026

Total produksi batu bara nasional pada 2025 mencapai 817,48 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebesar 63,89 persen dialokasikan untuk ekspor, 30,2 persen untuk kebutuhan domestik (DMO), dan 5,9 persen sebagai stok.

Menghadapi dinamika pasar global, pemerintah memutuskan untuk tidak lagi sekadar mengejar volume produksi. Fokus utama kini beralih pada keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar dengan mempertimbangkan logistik, harga, serta keberlanjutan cadangan.

Pemerintah telah menetapkan target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebesar kurang lebih 600 juta ton. Target ini jauh lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang menembus 817,48 juta ton.

Efisiensi dan Hilirisasi

Tri Winarno menambahkan bahwa perubahan kondisi pasar akan memaksa produsen batu bara untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional. Selain itu, penguatan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) menjadi keharusan bagi keberlanjutan industri.

“Hilirisasi juga diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah batu bara dan memperpanjang rantai nilai komoditas tersebut di dalam negeri,” pungkasnya. (Ant/E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |