Tenaga kesehatan melakukan perawatan pada korban gempa NTT .(Dok. Antara)
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak diderita oleh para penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga saat ini, laporan kasus ISPA di wilayah terdampak telah mencapai puluhan ribu kasus.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menjelaskan bahwa berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 25.017 kasus ISPA yang tersebar di tujuh kabupaten di Pulau Flores. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
"Data kasus penyakit dampak gempa NTT laporan tertinggi adalah kasus ISPA sebanyak 25.017 kasus," ujar Widyawati dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (10/9).
Mobilisasi Relawan dan Logistik Medis
Guna menangani krisis kesehatan ini, Kemenkes telah memobilisasi 868 relawan kesehatan gabungan ke lokasi bencana. Langkah ini diambil untuk menopang pelayanan kesehatan yang terganggu akibat kerusakan infrastruktur medis. Tercatat sebanyak 169 puskesmas mengalami kerusakan dengan rincian sebagai berikut:
- Kabupaten Manggarai Timur: 29 puskesmas
- Kabupaten Ende: 28 puskesmas
- Kabupaten Sikka: 27 puskesmas
- Kabupaten Manggarai Barat: 26 puskesmas
- Kabupaten Manggarai: 25 puskesmas
- Kabupaten Ngada: 25 puskesmas
- Kabupaten Nagekeo: 9 puskesmas
Pendistribusian tenaga medis dilakukan dalam dua gelombang utama, yakni 206 personel pada 24 Agustus dan 160 personel pada 7 September 2026. Tim ini diperkuat oleh relawan dari organisasi profesi, LSM, akademisi, dan unsur pemerintah daerah.
Selain personel, Kemenkes juga mengirimkan bantuan logistik medis berupa:
- 10 tenda rumah sakit lapangan
- 5 unit oxygen concentrator
- 8 emergency kit
- 16.000 lembar masker
- 17.600 pasang sarung tangan medis
- 444 paket Makanan Pendamping ASI (PMT)
Dermatitis dan Diare Mengancam Pengungsi
Selain ISPA, Widyawati menyebutkan ada dua penyakit lain yang cukup mendominasi di lokasi pengungsian, yakni dermatitis sebanyak 1.573 kasus dan diare sebanyak 1.512 kasus. Upaya pengetatan sanitasi dan pelayanan medis dasar terus dilakukan di posko-posko pengungsian untuk mencegah penularan penyakit menular.
Data Kumulatif Dampak Gempa NTT (Per 10 September 2026):
- Korban Meninggal Dunia: 135 jiwa
- Luka Berat: 215 jiwa
- Luka Ringan (Rawat Jalan): 1.552 jiwa
- Warga Mengungsi: 55.811 jiwa
Data tersebut merupakan hasil rekapitulasi tim gabungan di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis pukul 07.30 WIB, atau 25 hari setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores. (Ant/H-3)


















































