Ilustrasi bintang raksasa merah(Jaxa)
Dua penelitian terbaru yang terbit dalam sebulan terakhir mencoba menjawab pertanyaan besar mengenai masa depan Bumi: apakah planet kita akan ditelan Matahari, dan sampai kapan kehidupan dapat bertahan? Hasilnya membawa kombinasi antara harapan bagi eksistensi planet dan peringatan bagi kelangsungan hayati.
Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa Matahari tidak akan bersinar selamanya. Saat cadangan hidrogen di intinya habis, Matahari akan berhenti melakukan fusi seperti saat ini dan mulai mengembang menjadi bintang raksasa merah.
Menurut data NASA, proses transformasi ini diperkirakan baru akan terjadi sekitar 5 miliar tahun lagi. Saat memasuki fase raksasa merah, Matahari akan membesar secara drastis hingga menelan Merkurius dan Venus. Selama ini, para astronom memperkirakan Bumi akan mengalami nasib serupa akibat tarikan gaya pasang surut yang muncul ketika atmosfer Matahari mengembang.
Studi Baru: Bumi Berpeluang Selamat
Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics memberikan perspektif berbeda. Dengan mengamati bintang raksasa merah L2 Puppis yang dianggap sebagai gambaran masa depan Matahari, para peneliti menemukan bahwa Bumi mungkin memiliki peluang untuk bertahan melewati fase raksasa merah maupun fase Asymptotic Giant Branch (AGB).
Sifat-sifat L2 Puppis menunjukkan bahwa interaksi gravitasi mungkin tidak akan menarik Bumi masuk ke dalam kobaran api Matahari. Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan kesimpulan ini secara absolut.
Kehidupan Tetap Akan Berakhir
Meski planetnya sendiri mungkin selamat dari kehancuran fisik, kabar buruknya adalah kehidupan di Bumi diperkirakan akan berakhir jauh sebelum Matahari mencapai fase raksasa merah. Dalam studi terpisah, ilmuwan menggabungkan model iklim, perubahan kadar karbon dioksida (CO2), serta evolusi Matahari untuk memperkirakan usia biosfer.
Seiring bertambahnya usia, Matahari akan memancarkan cahaya yang semakin terang. Kondisi ini memicu kenaikan suhu global secara ekstrem, sementara proses alami akan terus mengurangi kadar CO₂ di atmosfer melalui pembentukan batuan karbonat. Pada titik tertentu, konsentrasi CO2 akan menjadi terlalu rendah untuk mendukung fotosintesis.
Analisis Biosfer: Tanpa vegetasi yang mampu berfotosintesis, rantai makanan akan runtuh, menandai berakhirnya kehidupan kompleks di planet ini.
Estimasi Waktu 1,86 Miliar Tahun
Berdasarkan simulasi terbaru, para peneliti memperkirakan biosfer vegetasi Bumi masih dapat bertahan sekitar 1,86 miliar tahun dari sekarang. Namun, jika batas suhu maksimum bagi kehidupan kompleks ternyata lebih rendah (sekitar 49,8 derajat Celsius), maka usia biosfer diperkirakan menyusut menjadi sekitar 1,68 miliar tahun.
Angka ini sebenarnya lebih optimis dibandingkan sejumlah perkiraan sebelumnya yang memprediksi kepunahan massal akibat panas Matahari terjadi lebih cepat.
Adaptasi dan Evolusi Masa Depan
Para peneliti tidak menutup kemungkinan bahwa kehidupan akan terus berevolusi untuk menghadapi kondisi ekstrem. Muncul spekulasi bahwa tumbuhan di masa depan mungkin mengembangkan kemampuan beradaptasi terhadap suhu dan tekanan tinggi, atau bermigrasi ke wilayah pegunungan dan lapisan atmosfer yang lebih dingin.
Secara keseluruhan, meski umat manusia kemungkinan besar sudah lama punah sebelum masa itu tiba, kehidupan dalam bentuk yang lebih sederhana masih berpotensi bertahan selama miliaran tahun sebelum Bumi benar-benar menjadi planet yang mati. (E-3)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)











