Anggota Houthi.(Al Jazeera)
KELOMPOK Houthi di Yaman berhasil merebut kendali atas kota pelabuhan strategis Mocha di Laut Merah pada Kamis (10/9). Saksi mata melaporkan kepada AFP bahwa para pejuang Houthi berbaris memasuki wilayah tersebut sembari meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika dan anti-Israel.
Keberhasilan Houthi menguasai Mocha menandai eskalasi besar dalam ofensif yang diluncurkan sejak pekan lalu terhadap pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Serangan ini juga mencakup gempuran ke wilayah Saudi yang menyebabkan puluhan orang terluka, menghidupkan kembali konflik di tengah perang Timur Tengah yang meluas sejak akhir Februari lalu.
Sumber militer Yaman mengungkapkan bahwa kelompok yang didukung Iran tersebut kini mulai bergerak menuju Selat Bab al-Mandab yang sangat strategis. Jalur perairan ini merupakan rute transit vital yang menghubungkan Asia ke Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez.
Dampak Ekonomi Global: Minyak Tembus US$100
Perang regional yang mengganggu lalu lintas maritim di Teluk menyebabkan harga minyak melonjak tajam. Pada Kamis, kontrak minyak Amerika Serikat, WTI (West Texas Intermediate), melampaui angka US$100 per barel. Sebelumnya, patokan internasional Brent North Sea crude telah lebih dulu menembus angka tersebut pada Rabu.
Selain Mocha, sumber militer menyebutkan Houthi juga menyita Pulau Zuqar di Laut Merah selatan melalui serangan roket dan serbuan darat menggunakan kapal pengangkut pejuang.
Tarek Saleh, kepala Pasukan Perlawanan Nasional Yaman yang sebelumnya menguasai Mocha, menyatakan telah memindahkan pusat komandonya ke lokasi yang aman untuk melakukan regrouping. Ia mengakui pasukan pemerintah membayar harga yang mahal akibat ofensif Houthi yang menurutnya direncanakan dan didukung penuh oleh Iran.
Penguatan Koersi Maritim
Sebelum ofensif ini, Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa dan pelabuhan utama Hodeidah. Namun, mereka belum memiliki wilayah yang langsung menghadap Bab al-Mandab.
Andreas Krieg, pakar keamanan dari King's College London, menilai bahwa penguasaan garis pantai ini akan memperkuat koersi maritim Houthi. Dengan kemampuan drone dan rudal yang mereka miliki, Houthi kini berada dalam posisi yang lebih kuat untuk mengganggu lalu lintas perdagangan global.
Kemajuan Houthi di Mocha, Khokha, dan Hays memicu eksodus warga sipil menuju Aden, pusat pemerintahan yang diakui secara internasional. Mohamed, 46, seorang warga yang melarikan diri, menggambarkan suasana di Mocha seperti kiamat. Sementara itu, pengungsi lain melaporkan ada aksi penjarahan oleh geng-geng bersenjata terhadap keluarga yang mencoba melarikan diri.
Krisis Kemanusiaan Memburuk
Data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menunjukkan hampir 20.000 orang terpaksa mengungsi sejak pekan lalu. Pertempuran terbaru ini menewaskan lebih dari 500 orang, mayoritas ialah kombatan.
Koalisi pimpinan Saudi melaporkan ada serangan rudal balistik dan drone Houthi ke beberapa kota di selatan Arab Saudi, termasuk Khamis Mushait dan Abha. Sebaliknya, kantor berita Houthi, Saba, melaporkan bahwa angkatan udara Saudi melakukan sekitar 40 serangan udara dalam beberapa jam terakhir di provinsi Taiz, Hodeidah, Al-Jawf, dan Marib.
Konflik yang kembali memanas sejak Juli ini mengancam akan menjerumuskan Yaman kembali ke dalam salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, setelah sempat mengalami masa tenang relatif pascagencatan senjata yang ditengahi PBB pada 2022. (I-2)


















































