Houthi Kuasai Kota Pelabuhan Strategis Mokha, Makin Dekat ke Selat Bab al-Mandab

1 week ago 15
Houthi Kuasai Kota Pelabuhan Strategis Mokha, Makin Dekat ke Selat Bab al-Mandab Kelompok Houthi merebut kota pelabuhan strategis Mokha dari pasukan pro-pemerintah Yaman, mengancam jalur pelayaran Laut Merah dan memicu krisis kemanusiaan.(Viory)

KELOMPOK Houthi yang disokong Iran berhasil merebut kota pelabuhan strategis Mokha dari tangan pasukan pro-pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Keberhasilan ini menempatkan Houthi hanya berjarak sekitar 70 hingga 75 kilometer dari Selat Bab al-Mandab, gerbang selatan jalur perdagangan vital yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Perebutan Mokha terjadi setelah pertempuran sengit pada Rabu malam. Jatuhnya kota ini memicu kepanikan luar biasa di kalangan warga sipil yang terpaksa melarikan diri tanpa persiapan.

"Pengambilalihan terjadi tanpa peringatan. Kepanikan merebak ke seluruh area, memaksa orang-orang melarikan diri di tengah pemandangan memilukan dari korban luka yang tergeletak di jalanan tanpa ada yang membantu," ujar seorang warga lokal.

Seorang warga lainnya melaporkan petempur Houthi berpatroli di jalanan Mokha pada hari Kamis, sementara kantor-kantor pemerintah dan pertokoan tutup total. "Saat ini kami tidak tahu apa yang akan dilakukan Ansar Allah. Semua orang mengkhawatirkan keselamatan mereka," tambahnya.

Banyak keluarga terpaksa mengungsi ke arah timur menuju kota Aden, pusat pemerintahan Dewan Kepemimpinan Presidensi Yaman. "Kami melarikan diri bersama anak-anak dan terus berlari. Kami tidak membawa alas tidur, tidak punya rumah, tidak membawa apa pun. Semuanya hancur dalam kurun waktu satu jam. Mereka bahkan tidak memberi kami kesempatan atau peringatan sebelumnya," tutur seorang perempuan pengungsi.

Eskalasi Militer dan Dampak Global

Gencatan senjata tidak resmi yang bertahan selama empat tahun mulai runtuh sejak Juli lalu, ketika Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi. Eskalasi pertempuran yang meluas dalam seminggu terakhir dilaporkan telah menewaskan ratusan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi. Konflik ini turut memicu lonjakan harga minyak dunia.

Selain Mokha, sumber militer Yaman mengonfirmasi bahwa petempur Houthi juga menguasai Pulau Zuqar di Laut Merah, sekitar 80 kilometer sebelah barat laut Mokha, usai melancarkan serangan roket dan serbuan darat menggunakan perahu.

Koalisi pimpinan Arab Saudi merespons dengan melancarkan serangan udara ke wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyebutkan jet tempur Arab Saudi melakukan 64 serangan di provinsi Taiz, Hudaydah, Marib, dan Jawf. Di sisi lain, Houthi meluncurkan puluhan drone dan rudal ke wilayah selatan Arab Saudi yang mencederai puluhan sipil serta menyasar fasilitas minyak.

Penataan Ulang Pasukan dan Sikap Diplomatik

Wakil Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensi sekaligus pemimpin Pasukan Perlawanan Nasional, Letnan Jenderal Tariq Saleh, mengonfirmasi telah memindahkan pusat komandonya ke lokasi yang aman untuk memulihkan dan menata ulang barisan.

"Pasukan bersenjata di pantai barat, Perlawanan Nasional, Brigade Giants, dan Homeland Shield, di samping unit-unit poros Taiz di barat provinsi, telah membayar harga yang mahal, dalam bentuk martir dan korban luka, selama beberapa hari terakhir saat menghadapi serangan Houthi yang direncanakan, didukung, dan melibatkan berbagai instrumen Iran," kata Tariq Saleh.

Pusat Media Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan akan mulai menggunakan semua jenis senjata untuk mengeliminasi pergerakan militer Houthi. Kementerian Luar Negeri Yaman juga menyurati Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres terkait bahaya eskalasi ini terhadap kebebasan navigasi internasional.

Di sisi lain, Dewan Politik Tertinggi Houthi mengumumkan "penghentian bentrokan di distrik-distrik pantai barat setelah mengusir mobilisasi musuh Saudi". Kepala delegasi perundingan Houthi, Mohammed Abdulsalam, menegaskan bahwa navigasi internasional tetap aman.

"Kebebasan navigasi dan pergerakan perdagangan internasional di Laut Merah dan Bab al-Mandab aman serta teratur, dan tidak perlu ada kekhawatiran internasional mengenai hal tersebut," ujar Mohammed Abdulsalam. Meski demikian, Houthi menegaskan embargo terhadap kapal-kapal Arab Saudi tetap berlaku. (BBC/Viory/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |