Harga Minyak Tembus US$105 per Barel, Pasar Obligasi dan Saham Terguncang

1 week ago 4
Harga Minyak Tembus US$105 per Barel, Pasar Obligasi dan Saham Terguncang Ilustrasi.(Magnific)

HARGA minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Kamis (10/9) waktu setempat. Minyak mentah Brent menembus level US$105 per barel untuk pertama kali sejak Mei. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus mengguncang pasar keuangan global.

Minyak mentah Brent sebagai tolok ukur global dan minyak mentah AS (WTI) masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 4% sebelum akhirnya sedikit mereda. Minyak mentah AS sempat menyentuh US$100 per barel untuk pertama kali sejak Mei, sebelum memangkas sebagian keuntungan dan diperdagangkan di kisaran US$99 per barel.

Kenaikan kembali ke atas level US$100 terjadi seiring intensifikasi pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan kelompok Houthi yang didukung Iran ke Arab Saudi yang menyulut ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

Kekhawatiran Pasokan dan Dampak Sistemik

Kembalinya konflik ini memicu kekhawatiran baru mengenai gangguan rantai pasokan minyak global, khususnya arus minyak mentah melalui Selat Hormuz. Lonjakan harga energi ini langsung berimbas pada meningkatnya kecemasan terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral, yang kemudian menciptakan efek riak di pasar obligasi dan saham.

"Peningkatan serangan di Selat Hormuz dan oleh Houthi terhadap Arab Saudi menunjukkan bahwa Iran dan proksinya sedang mencoba mengambil alih inisiatif dalam perang," ujar Jason Tuvey, Wakil Kepala Ekonom Pasar Berkembang di Capital Economics. Menurutnya, situasi ini dapat menghambat pemulihan produksi minyak di Teluk dan meningkatkan risiko lonjakan harga energi global yang lebih tinggi dalam beberapa minggu ke depan.

Pasar Obligasi dan Tekanan Inflasi

Di pasar pendapatan tetap, aksi jual obligasi semakin intensif. Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun melonjak sembilan basis poin menjadi 4,93%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Lonjakan tetap terjadi meskipun Departemen Keuangan AS telah mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) obligasi hingga US$6 miliar untuk meredakan tekanan pasar.

Namun, sejumlah investor menilai skala intervensi tersebut terlalu kecil. "Departemen Keuangan secara kiasan seperti menembakkan senapan angin ke seekor gajah," kata Mike O’Rourke, Kepala Strategi Pasar di JonesTrading.

Tekanan pasar diperparah oleh data baru yang menunjukkan inflasi grosir inti meningkat pada Agustus. Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 70% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu depan, naik dari 61% pada hari Rabu dan 49% pada pekan lalu.

Saham Melemah dan Rekor Harga Diesel

Sektor ekuitas ikut tertekan. Indeks-indeks utama Wall Street melemah selama empat hari berturut-turut. Indeks S&P 500 turun 0,6%, memperpanjang tren pelemahan dan terkoreksi lebih dari 2,5% sejak rekor tertinggi terakhirnya pada 13 Agustus. Fokus investor kini sepenuhnya beralih dari musim laporan keuangan korporasi ke perkembangan perang Iran, lonjakan imbal hasil obligasi, dan prospek kebijakan The Fed.

Dampak konflik dengan Iran ini juga merembet ke produk turunan minyak. Harga bahan bakar diesel, yang krusial untuk sektor transportasi truk dan pengapalan, melonjak ke rekor tertinggi tahun ini. Berdasarkan data AAA, rata-rata harga diesel domestik di AS mencetak rekor US$5,98 per galon.

Claudio Galimberti, Kepala Ekonom di Rystad Energy, menilai lonjakan harga produk minyak sulingan justru lebih mengkhawatirkan daripada kenaikan minyak mentah itu sendiri. "Ketika berbicara tentang minyak mentah, situasinya sebenarnya tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan produk minyak, khususnya diesel," jelas Galimberti. Hal ini karena bisnis, industri, dan konsumen langsung menggunakan produk sulingan tersebut dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Respons Bank Sentral Eropa (ECB)

Dari Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) merespons guncangan energi ini dengan menaikkan suku bunga utamanya sebesar seperempat poin persentase menjadi 2,5%. Ini merupakan kenaikan kedua sepanjang tahun ini akibat tekanan harga yang dipicu oleh konflik Iran.

"Konflik di Timur Tengah terus menghasilkan tekanan inflasi, dan inflasi diperkirakan akan tetap berada di atas target untuk periode yang diperpanjang," ungkap ECB dalam pernyataan resminya. (CNN/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |