ilustrasi(123RF)
WILAYAH Pantai Barat Laut Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,7 pada Kamis (20/8) pukul 09.47 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa darat pada kedalaman 10 kilometer tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,33° LS dan 120,64° BT, atau berlokasi di darat pada jarak 36 kilometer arah timur laut Ruteng, Manggarai, NTT.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun geser (normal-oblique)," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangannya, Kamis (20/8).
Berdasarkan laporan masyarakat gempa ini dirasakan dengan skala intensitas V-VI MMI (Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan) di Kabupaten Manggarai.
Kemudian skala V MMI (Getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun) di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ende. Dan skala III-IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah) di Kabupaten Manggarai Barat, Sumba Timur dan Kabupaten Sikka.
"Gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempabumi M7,7 di Flores, NTT pada tanggal 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Hingga tanggal 20 Agustus 2026, pukul 08.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 3489 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar M6,2," ungkap dia.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. (P-4)


















































