Evolusi Ekonomi Tiongkok: Dari Bengkel Dunia Menjadi Penguasa Rantai Nilai Global

1 week ago 3
 Dari Bengkel Dunia Menjadi Penguasa Rantai Nilai Global Ilustrasi.(Magnific)

TIONGKOK berada di jalur untuk mencatat rekor surplus perdagangan baru tahun ini, termasuk terhadap Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE). Fenomena ini muncul di tengah upaya intensif negara-negara Barat untuk membendung kekuatan industri Beijing melalui kebijakan tarif. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa strategi perlindungan Barat mungkin telah gagal menghadapi realitas baru ekonomi Tiongkok.

Kegagalan kebijakan tarif Trump dan upaya proteksionisme Eropa sering kali dikaitkan dengan sektor-sektor strategis seperti kendaraan listrik (EV). Namun, tekanan yang dialami Barat sebenarnya jauh lebih luas, merambah hingga ke industri gaya hidup seperti sepatu olahraga.

Sebagai contoh, Nike, salah satu pemenang era globalisasi, kini mengalami penurunan nilai saham hingga tiga perempat dari puncaknya pada 2021. Masalah Nike di Tiongkok diperburuk oleh kebangkitan merek lokal seperti Anta dan Li-Ning.

Dua Wajah Ekonomi Tiongkok

Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, kita harus membedakan antara dua entitas ekonomi yang beroperasi di Tiongkok:

  • GVC China (Global Value Chain): Ini Tiongkok yang berfungsi sebagai pusat rantai nilai global yang dimiliki dan dikendalikan oleh pihak asing. Di sini, pabrik-pabrik milik asing menggunakan komponen impor untuk memproduksi barang ekspor. Tiongkok hanya mendapatkan upah, keahlian teknis, dan margin keuntungan tipis, sementara nilai tambah terbesar dari merek dan distribusi tetap berada di tangan perusahaan Barat.
  • Sinochain (Emancipated China): Ini kekuatan baru saat Tiongkok berupaya memiliki rantai nilai dari hulu ke hilir. Melalui strategi peremajaan nasional yang didorong oleh Xi Jinping, Tiongkok tidak lagi sekadar ingin memproduksi barang untuk perusahaan asing, tetapi ingin menguasai teknologi, merek, dan sistem industri itu sendiri.

Ironisnya, Tiongkok telah lama menekankan perbedaan ini. Pada 2017, mantan Perdana Menteri Li Keqiang mencatat bahwa 74% surplus barang Tiongkok dengan UE berasal dari perdagangan pemrosesan. Keuntungan utamanya justru mengalir ke perusahaan multinasional Barat.

Strategi Dual Circulation dan Kemandirian

Doktrin dual circulation yang diusung Beijing bertujuan untuk menghilangkan ketergantungan strategis pada rantai pasok yang dikendalikan asing. Tiongkok tidak mencari autarki (kemandirian total tanpa perdagangan), tetapi ingin memastikan bahwa warga negaranya tidak lagi bergantung pada merek dan teknologi Barat.

Namun, proses emansipasi ini tidak murah. Untuk memiliki seluruh rantai nilai, Tiongkok harus membiayai modal, teknologi, dan kekayaan intelektual secara mandiri. Hal ini menjelaskan skala subsidi yang masif, kredit murah, dan dukungan finansial yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang diproyeksikan menjadi juara nasional.

Pergeseran dari GVC Lama ke GVC Baru

Persaingan saat ini bukan sekadar antara Tiongkok dan Barat, melainkan antara model rantai pasok lama dan baru. Perusahaan besar seperti Nike atau raksasa otomotif Barat membangun jaringan pabrik dan logistik yang luar biasa selama puluhan tahun. Namun, skala besar ini sering kali membuat mereka menjadi birokratis dan kurang kompetitif.

Di sisi lain, muncul pesaing baru seperti Hoka yang mampu memanfaatkan ekosistem manufaktur global tanpa harus menanggung beban korporasi yang besar. Perusahaan-perusahaan Tiongkok kini melakukan hal yang sama, tetapi dengan kontrol penuh atas rantai pasoknya sendiri.

Analisis Strategis: Perang dagang dan tarif mungkin tidak akan mengakhiri globalisasi. Sebaliknya, tekanan ini justru menghancurkan benteng rantai pasok yang selama ini melindungi raksasa multinasional yang tidak inovatif, memaksa globalisasi untuk kembali menjadi kompetitif.

Jika tren ini berlanjut, surplus perdagangan Tiongkok yang membengkak bukan sekadar tanda mereka menjual lebih banyak barang, melainkan bukti bahwa Sinochain secara bertahap mulai menggantikan dominasi perusahaan-perusahaan global Barat yang telah lama mapan. (The Telegraph/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |