ilustrasi(Antara)
Fenomena penguatan El Nino berpotensi memicu lonjakan suhu global yang signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini diperburuk dengan munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara bersamaan, yang diprediksi akan meningkatkan risiko panas ekstrem di tingkat regional.
Direktur Pusat Penelitian Kebijakan dan Perubahan Iklim di Universitas Bogazici, Turkiye, Levent Kurnaz, mengungkapkan bahwa dunia kemungkinan besar akan menyaksikan rekor suhu terpanas akibat kombinasi fenomena alam ini dengan pemanasan global yang sudah terjadi.
“Ketika kontribusi jangka pendek El Nino ditambahkan ke dalam sistem iklim yang memang sudah mengalami pemanasan, kemungkinan besar kita akan menyaksikan rekor suhu terpanas dalam beberapa bulan,” ujar Kurnaz.
Anomali Suhu dan El Nino Kuat
El Nino merupakan pola iklim berulang yang ditandai dengan menghangatnya suhu air laut di wilayah tropis Samudra Pasifik. Sementara itu, IOD positif ditandai dengan perairan Samudra Hindia bagian barat yang lebih hangat dan bagian timur yang lebih dingin dari kondisi normal.
Data dari International Research Institute for Climate and Society di Universitas Columbia menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 telah mencapai 2,1 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang. Angka ini meningkat tajam setelah sebelumnya tercatat anomali sebesar 0,98 derajat pada periode April-Mei 2026 dan 1,55 derajat pada Juni.
Kurnaz menjelaskan bahwa anomali di atas 2 derajat Celsius mengategorikan fenomena ini sebagai El Nino yang sangat kuat. Prakiraan untuk periode Agustus-Oktober mengindikasikan intensitasnya bisa setara dengan peristiwa besar yang pernah terjadi pada 1997-1998 dan 2015-2016.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga memperkirakan El Nino akan menjadi faktor dominan yang memengaruhi iklim global hingga Oktober mendatang, yang berdampak pada kenaikan suhu di atas normal dan perubahan pola curah hujan dunia.
Risiko Regional: Kekeringan dan Banjir
Kombinasi El Nino dan IOD positif menciptakan dampak tumpang tindih yang memperbesar risiko bencana di berbagai wilayah. Kurnaz menyoroti beberapa dampak spesifik:
- Kekeringan: Berpotensi melanda Indonesia, Australia bagian timur, dan Afrika bagian selatan.
- Banjir: Risiko curah hujan tinggi di wilayah Pasifik timur dan Amerika Selatan bagian barat.
- Kebakaran Hutan: Di Turkiye, fenomena ini dapat memperpanjang periode risiko tinggi kebakaran hutan, terutama di wilayah Mediterania.
- Aktivitas Badai: El Nino cenderung meredam aktivitas badai di wilayah Atlantik.
"Fakta bahwa Indian Ocean Dipole positif terjadi pada periode yang sama menciptakan kondisi di mana risiko regional dapat dirasakan jauh lebih besar dibandingkan periode-periode sebelumnya," tegas Kurnaz.
Ia menambahkan bahwa perubahan iklim tetap menjadi faktor fundamental yang memberikan titik awal suhu lebih tinggi, sehingga dampak panas yang dibawa oleh El Nino menjadi jauh lebih ekstrem bagi penduduk bumi. (Ant/E-3)


















































