ilustrasi(Antara)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menyebut pemulihan sentimen masyarakat memang mulai terlihat tetapi masih sangat tipis. Ia mengingatkan bahw indeks keyakinan konsumen (IKK) Januari berada di angka 127 dan terus turun hingga 116,8 pada Juli.
Karena itu, kata Yusuf, kenaikan ke 118,5 pada Agustus baru mengembalikan sebagian kecil dari penurunan tersebut. "Ini lebih tepat disebut rebound dari titik rendah, belum merupakan pembalikan tren," katanya saat dihubungi, Kamis (10/9).
Dilihat dari komponennya, lanjut dia, kondisi ekonomi saat ini juga belum terlalu kuat. Indeks kondisi ekonomi (IKE) saat Ini berada di 109,4, sementara indeks ekspektasi konsumen (IEK) mencapai 127,6.
"Artinya, masyarakat masih jauh lebih optimistis terhadap masa depan dibandingkan kondisi yang mereka rasakan sekarang," jelas Yusuf.
Di sisi lain, katanya, indeks ketersediaan lapangan kerja (IKLK) memang naik dari 101,1 menjadi 104,1 tetapi posisinya masih tipis di atas ambang optimistis. "Fondasi pemulihannya belum kokoh," ujarnya.
Dari sisi konsumsi, kata Yusuf, kenaikan porsi pendapatan untuk belanja dari 72,7% menjadi 74,2% juga perlu dibaca hati hati. Angka tersebut bisa mencerminkan kepercayaan konsumen yang membaik, tetapi bisa pula menunjukkan rumah tangga mulai mengurangi tabungan untuk mempertahankan konsumsi di tengah kenaikan harga.
"Apalagi inflasi Agustus naik menjadi 3,19%, terutama didorong tekanan pangan," imbuhnya.
Data ekonomi riil pun dinilai belum memberikan sinyal yang konsisten. PMI manufaktur Agustus kembali berada di bawah 50, sementara pertumbuhan penjualan ritel diperkirakan melambat. Pertumbuhan ekonomi kuartal II memang mencapai 5,29% tetapi konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dan konsumsi pemerintah melonjak 15,97 persen.
"Artinya, penggerak pertumbuhan belum sepenuhnya berasal dari permintaan swasta," ucap Yusuf.
Selain itu, lanjut Yusuf, kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) juga tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti perbaikan sektor riil. Pasalnya pasar saham sangat responsif terhadap likuiditas dan ekspektasi.
"Suntikan likuiditas ke perbankan dapat lebih dulu mendorong harga aset, tetapi prosesnya ke kredit, konsumsi, dan investasi membutuhkan waktu. Karena itu, pergerakan pasar modal perlu dipisahkan dari indikator daya beli masyarakat," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai sentimen masyarakat mulai menunjukkan pemulihan pada Agustus 2026 setelah berada di jalur penurunan dalam beberapa bulan sebelumnya. Menurut Purbaya, perbaikan sentimen itu mulai terlihat seiring dengan dampak sejumlah stimulus yang diberikan pemerintah sejak akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Membaiknya sentimen tersebut tecermin pada indeks keyakinan konsumen (IKK) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), meningkat ke level 118,5 pada Agustus, dari 116,8 pada Juli 2026.
“Ada pembalikan arah sentimen di masyarakat. Kemungkinan besar perbaikan yang terlihat di pasar modal, pasar keuangan, itu merefleksikan adanya perbaikan riil di perekonomian kita,” kata Menkeu di Jakarta, kemarin. (E-3)


















































