Di Bawah Tenda Darurat, Dua Bayi Lahir saat Gempa Mengguncang NTT

3 hours ago 1
Di Bawah Tenda Darurat, Dua Bayi Lahir saat Gempa Mengguncang NTT Dokter spesialis kandungan, dr. Yona Sara Pardede(MI/Marianus Marselus)

NUSA Tenggara Timur masih berhadapan dengan gempa susulan ketika pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Daerah Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus dipindahkan ke tenda darurat.

Gedung rumah sakit tidak lagi memadai. Sejumlah peralatan rusak dan aliran listrik padam. Di tengah kondisi itu, para dokter, bidan, dan perawat tetap bertahan untuk melayani pasien yang membutuhkan pertolongan.

Di bawah tenda darurat, dua persalinan berlangsung. Tidak ada ruang operasi dengan fasilitas lengkap. Tidak ada penerangan seperti dalam kondisi normal. Yang tersedia hanya peralatan yang masih bisa digunakan dan tenaga medis yang bekerja dengan segala keterbatasan.

Dokter spesialis kandungan, dr. Paramita Sari, mengatakan kondisi saat itu membuat proses persalinan harus dilakukan di tenda darurat.

“Semuanya pasrah kita dengan keterbatasan. Ada guncangan gempa, kemudian peralatan semuanya rusak, gedungnya tidak memadai, kemudian listrik kita padam. Jadi memang proses persalinannya itu dilakukan di tenda darurat,” ujar dr. Paramita.

Salah satu persalinan yang berlangsung dalam situasi paling menegangkan dialami Maria Florida Noko Kelen. Perempuan berusia 39 tahun itu harus menjalani operasi caesar darurat, sekitar dua bulan lebih awal dari hari perkiraan lahir.

Di saat yang sama, gempa susulan masih terjadi.

Dokter spesialis kandungan, dr. Yona Sara Pardede, menangani operasi tersebut. Kondisi bayi yang berada dalam posisi sungsang membuat proses persalinan semakin membutuhkan kehati-hatian.

Bayi yang hendak dilahirkan memiliki berat sekitar 1,3 hingga 1,4 kilogram. Di tengah operasi, tremor gempa masih terasa.

“Di tengah-tengah operasi itu gempa masih banyak tremor. Bed-nya juga tidak gampang dinaik-turunkan. Bayinya sekitar 1.300 sampai 1.400 gram dan posisinya sungsang,” kata dr. Yona.

Dalam kondisi tersebut, setiap tindakan harus dilakukan secara hati-hati. Posisi sungsang membuat proses kelahiran membutuhkan teknik khusus untuk menghindari cedera pada bayi.

“Kalau lahir sungsang kita harus pelan-pelan. Sementara gempa bisa terjadi kapan saja. Kita takut kakinya patah, tangannya patah. Kita juga takut terjadi cedera leher,” ujarnya.

Di tengah situasi itu, dr. Yona hanya bisa berdoa sembari melanjutkan tindakan medis.

“Tuhan, tolong. Tuhan, bantu saya,” ucapnya mengenang situasi ketika operasi berlangsung.

Operasi akhirnya selesai. Bayi prematur itu lahir dengan selamat dengan berat sekitar 1,3 kilogram.

Kelahiran tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan bagi keluarga maupun tenaga kesehatan yang menanganinya. Bayi itu kemudian diberi nama Gempita, diambil dari kata “gempa”, yang menjadi latar kelahirannya.

Bagi Maria Florida, keselamatan anaknya tidak terlepas dari tenaga kesehatan yang tetap berada di rumah sakit ketika situasi bencana membuat semua orang menghadapi risiko.

“Gedung sudah ambruk. Saat itu sebenarnya berpikir untuk menyelamatkan diri masing-masing. Tapi dokter, bidan, dan perawat masih tetap setia dengan kami yang membutuhkan,” tutur Maria.

Persalinan lainnya juga berlangsung di bawah tenda darurat. Dengan fasilitas terbatas, tenaga kesehatan tetap memberikan pertolongan hingga bayi lahir dengan selamat.

Maria mengaku bersyukur karena para bidan dan dokter tidak meninggalkannya dalam kondisi darurat.

“Puji Tuhan, teman-teman bidan dan dokter tidak meninggalkan saya begitu saja. Mereka sangat menolong saya dalam keadaan darurat, di bawah tenda,” katanya.

Di Rumah Sakit Daerah Aeramo, tenda darurat menjadi ruang pelayanan sekaligus tempat berlangsungnya dua kelahiran ketika gempa dan gempa susulan masih membayangi.

Di tengah kerusakan fasilitas, padamnya listrik, dan keterbatasan peralatan, para tenaga kesehatan tetap menjalankan tugasnya.

Dua bayi lahir dengan selamat. Salah satunya datang lebih awal dari perkiraan dan lahir melalui operasi caesar dalam kondisi gempa yang masih mengguncang.

Di bawah tenda darurat itu, kehidupan baru dimulai ketika tenaga kesehatan berpacu dengan waktu untuk memastikan dua ibu dan bayinya melewati situasi bencana dengan selamat.(MM/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |