Ancaman Houthi di Selat Bab al-Mandab: Jalur Minyak Utama dalam Bahaya

1 week ago 4
 Jalur Minyak Utama dalam Bahaya Peta Selat Hormuz dan Bab Al-Mandab.(Al Jazeera)

KELOMPOK Houthi di Yaman yang didukung Iran meluncurkan serangan darat besar-besaran di sekitar Selat Bab al-Mandab. Titik sempit di Laut Merah ini kini menjadi jalur vital bagi ekspor minyak Arab Saudi di tengah berkecamuknya perang di Timur Tengah.

Pertempuran tersebut menelan ratusan korban jiwa, memicu aksi saling serang antara Houthi dan Arab Saudi. Jalur perairan yang biasanya menjadi salah satu rute pelayaran tersibuk di dunia ini kini berada dalam status bahaya tinggi.

Gerbang Air Mata yang Strategis

Dikenal sebagai Gerbang Air Mata dalam bahasa Arab karena sejarah kecelakaan kapalnya, selat ini terletak di ujung selatan Laut Merah, menghubungkannya dengan Teluk Aden di Samudra Hindia. Dengan panjang sekitar 100 kilometer dan lebar hanya 30 kilometer di titik tersempitnya, selat ini memisahkan Yaman di Semenanjung Arab dari Djibouti dan Eritrea di Tanduk Afrika.

Sebagai penghubung perdagangan maritim antara Eropa dan Asia, selat ini sangat krusial. Kapal tanker minyak dan kargo menggunakannya untuk mencapai Mediterania melalui Terusan Suez, memangkas jarak ribuan kilometer antara Asia dengan Eropa dan Amerika Utara.

Penurunan Drastis Lalu Lintas Kapal

Data IMF PortWatch yang dianalisis AFP menunjukkan dampak destruktif konflik ini. Lalu lintas Terusan Suez merosot tajam sejak serangan Houthi dimulai pada 2024. Total transit kapal turun dari 26.895 kapal pada 2023 (rata-rata 73,7 per hari) menjadi hanya 14.498 pada 2024 dan berlanjut ke angka 14.070 pada 2025.

Hingga periode Januari-Agustus 2026, rata-rata transit harian hanya mencapai 40,8 kapal, masih jauh di bawah level sebelum krisis. Houthi, yang mengeklaim bertindak demi solidaritas terhadap Palestina, menargetkan kapal-kapal yang dianggap memiliki hubungan dengan Israel.

Meskipun tidak menguasai seluruh wilayah pesisir Bab al-Mandab, Houthi merebut kota pelabuhan strategis Mokha pada Senin (7/9). Sejak mendeklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Juli lalu, militan ini berulang kali menyerang kapal-kapal Saudi.

Analisis Strategis: Institute for the Study of War menyebut Houthi sengaja menyerang kemampuan ekspor minyak Arab Saudi untuk meningkatkan biaya politik dan ekonomi Riyadh hingga ke titik yang tidak tertahankan, guna memaksa penghentian operasi militer.

Ekspor Minyak dalam Risiko Tinggi

Sebelum perang pecah, Bab al-Mandab menyumbang 12 persen dari pengiriman minyak dunia pada 2023 menurut data EIA. Namun, penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadikan Bab al-Mandab rute alternatif yang sangat vital bagi Saudi.

Pengiriman minyak mentah Saudi dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah sempat melonjak hingga 3,8 juta barel per hari antara Maret dan Juli alias lima kali lipat dari level sebelum perang. Namun, angka ini anjlok menjadi 1,5 juta barel per hari pada Agustus setelah Houthi mengintensifkan serangan.

Data awal Kpler menunjukkan ekspor berada di angka 2,44 juta barel per hari pada awal September 2026, meski angka ini masih fluktuatif. Andreas Krieg, pakar keamanan dari King's College London, memperingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah penutupan fisik selat, melainkan ketidakpastian yang terus-menerus.

Kembalinya Konflik Yaman

Ketegangan ini berakar dari pecahnya perang Timur Tengah pada 28 Februari 2026 yang memicu aksi balasan lintas kawasan. Gencatan senjata tahun 2022 di Yaman akhirnya runtuh setelah Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat di luar kendali ruang udara Saudi pada Juli lalu.

Kini, dengan posisi Houthi yang semakin mendekati Bab al-Mandab, Iran dan proksinya memiliki kapasitas lebih besar untuk mencekik ekspor minyak Teluk. Penguasaan atas pesisir ini akan memberi Houthi daya tawar strategis yang luar biasa dalam diplomasi maritim global. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |