Jakarta (ANTARA) - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sempat menghasilkan erupsi menerus dengan sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah. Meski episode erupsi menerus tersebut telah berakhir, abu masih dapat ditemukan atau teramati di beberapa tempat.
Lantas, mengapa abu vulkanik masih ada ketika erupsi menerus sudah berhenti?
1. Erupsi menerus telah berakhir
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berakhir setelah berlangsung sekitar 25 jam pada awal September 2026.
Berakhirnya episode tersebut tidak berarti seluruh aktivitas vulkanik Anak Krakatau berhenti. Badan Geologi menjelaskan kemunculan kembali erupsi Strombolian menjadi tanda bahwa fase letusan menerus berdurasi panjang telah berakhir, sementara aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Pada 8 September 2026, Badan Geologi juga menyatakan aktivitas Anak Krakatau kembali ke fase Strombolian. Fase ini ditandai aktivitas letusan yang lebih episodik, berbeda dengan erupsi menerus yang sebelumnya menghasilkan pelepasan abu secara lebih intens.
Baca juga: BNPB: Status siaga level tiga Anak Krakatau masih berlaku
Baca juga: Lava, lahar, dan awan panas: Ini perbedaan dan bahayanya
2. Abu vulkanik tidak langsung hilang
Abu vulkanik yang sudah dilepaskan ke atmosfer tidak otomatis menghilang ketika sumber erupsi berhenti. Partikel abu dapat tetap melayang di udara selama beberapa waktu dan kemudian terbawa angin ke wilayah yang lebih jauh.
Dalam erupsi Anak Krakatau pada awal September, abu terdeteksi menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Pergerakannya dipengaruhi oleh arah serta kecepatan angin pada berbagai lapisan atmosfer.
Karena itu, kondisi suatu daerah masih dapat dipengaruhi abu vulkanik meskipun tidak sedang berada tepat di dekat sumber erupsi.
3. Angin membawa abu ke wilayah lain
Abu vulkanik berukuran sangat halus dapat terbawa angin sehingga penyebarannya tidak selalu mengikuti jarak geografis dari gunung api.
Pada erupsi Anak Krakatau, Badan Geologi mencatat sebaran abu mencapai beberapa provinsi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa material hasil erupsi dapat bergerak mengikuti pola angin dan kemudian mengalami pengendapan di wilayah yang dilaluinya.
Abu yang sudah mengendap di permukaan juga dapat kembali beterbangan apabila terkena angin atau aktivitas manusia dan kendaraan. Kondisi ini membuat keberadaan abu dapat terasa lebih lama dibandingkan periode letusan aktifnya.
4. Abu yang berada di udara bisa bertahan sementara
Lamanya abu berada di atmosfer bergantung pada ukuran partikelnya, ketinggian material, kondisi angin, kelembapan dan hujan.
Dalam laporan terkait sebaran abu Anak Krakatau, AirNav Indonesia memperkirakan sebagian abu yang telah terpisah dari sumber gunung dan bergerak ke arah tertentu dapat menipis dalam kisaran 12 hingga 18 jam.
Baca juga: Abu vulkanik yang mengenai mata harus dibilas dengan air bersih
Namun, waktu tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa seluruh abu di semua wilayah akan hilang dalam durasi yang sama.
Abu dengan karakteristik dan lokasi berbeda dapat mengalami proses pengendapan yang berbeda pula.
5. Aktivitas vulkanik belum sepenuhnya berhenti
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara berakhirnya satu episode erupsi dan berhentinya aktivitas gunung api secara keseluruhan.
Badan Geologi menyatakan aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berlangsung meskipun intensitas erupsi menerus telah menurun. Ahli kebencanaan Institut Teknologi Sumatera juga menyampaikan bahwa aktivitas seismik mengalami penurunan, tetapi data tiltmeter masih menunjukkan kondisi yang berkaitan dengan aktivitas magma.
Karena itu, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
6. Status gunung Anak Krakatau masih siaga
Hingga perkembangan terbaru yang disampaikan BNPB, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut dipertahankan karena masih terdapat probabilitas terjadinya letusan lanjutan.
Masyarakat dan wisatawan juga diminta mematuhi rekomendasi keselamatan serta tidak memasuki kawasan yang dinyatakan berbahaya oleh pihak berwenang.
Dengan demikian, abu vulkanik yang masih terlihat setelah erupsi menerus berakhir bukan berarti erupsi menerus masih berlangsung. Abu yang telah terlepas sebelumnya masih dapat terbawa angin, melayang di atmosfer, kemudian mengendap di permukaan dan kembali beterbangan.
Di sisi lain, aktivitas vulkanik Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Karena itu, perkembangan status gunung dan potensi erupsi susulan tetap perlu dipantau melalui informasi resmi Badan Geologi, PVMBG, BMKG dan BNPB.
Baca juga: Bukan sekadar hujan buatan, ini beragam fungsi modifikasi cuaca
Baca juga: Intensitas erupsi Anak Krakatau menurun, Badan Geologi tetap waspada
Baca juga: Pulau Sertung yang kehilangan warna hijau
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































