Akhiri Zaman Menunggu Sakit, CKG Jemput Bola dan Pastikan Kesembuhan Total

4 hours ago 2
Akhiri Zaman Menunggu Sakit, CKG Jemput Bola dan Pastikan Kesembuhan Total Cek kesehatan gratis(Mi/Lina Herlina)

PROGRAM Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto memasuki tahun kedua telah menunjukkan banyak perubahan. Lantaran, program ini, tidak lagi hanya mendeteksi penyakit, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan pengobatan hingga tuntas.

Di Sulawesi Selatan, program ini, telah menjangkau jutaan warga, dan berhasil mengungkapkan banyak kasus kesehatan masyarakat, yang selama ini kurang diperhatikan, apa lagi, jika penyakit tersebut minim gejala awal, seperti contohnya penyakit hipertensi, diabetes, hingga tuberkulosis. Ditambah, mereka yang ikut CKG, tidak perlu menunggu lama, alias tidak pakai antre. Karena sudah ada inovasi layanan berbasis digital, yang bisa mempercepat proses pendaftaran dan pemeriksaan.

Andi Ahmad, 52, seorang sopir angkutan kota atau disebut pete-pete di Makassar, mengaku mengikuti program CKG dalam rangkaian gerakan tracing Tuberkulosis (TB) yang digelar Pemerintah Kota Makassar di 339 titik secara serentak pada pertengahan Agustus 2026.

“Saya awalnya batuk-batuk. Tapi sudah hampir tiga bulan tidak berhenti. Saya kira cuma batuk biasa karena banyak debu di jalanan. Pas diperiksa, ternyata hasil rontgen paru-paru ku itu, menunjukkan tanda-tanda TBC. Jadi langsung dikasih obat dan suru berobat rutin ke puskesmas. Seandainya tidak ada ini program, mungkin batuk terus ka, dan menulari keluarga atau orang lain,” urai Ahmad dengan dialeg Makassarnya.

Awalnya, Ahmad mengaku takut memeriksakan diri, karena khawatir hasilnya tidak sesuai harapan. Tapi, petugas kesehatan meyakinkannya bahwa semakin cepat penyakit dideteksi, semakin besar peluang untuk sembuh, karena cepat mendapat penanganan.

Standar Pelayanan

Kendati demikian, Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nursaidah Sirajuddin, menegaskan, jika CKG tidak hanya diarahkan untuk menemukan kasus TBC, tapi juga untuk menyaring berbagai penyakit lainnya.

"Harapannya, kami betul-betul bisa menyaring dari pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis ini. Karenanya, kami menggunakan 12 indikator SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang ada di dalamnya, sehingga bisa kami maksimalkan," katanya.

"Selain itu, kami juga melihat serta memantau kondisi di rumah sakit. Banyaknya pelayanan di rumah sakit itu bermula dari banyaknya pasien PTM atau penyakit tidak menular yang tidak terkonfirmasi awal, yang akhirnya mengakibatkan komplikasi berat," sambung Nursaidah.

Sehingga, CKG dapat menjadi sarana deteksi dini. Masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang lebih parah. Nursaidah mengakui, salah satu kendala dalam pelaksanaan skrining adalah masih adanya masyarakat yang takut mengetahui hasil pemeriksaannya. Kebanyakan warga memilih tidak menjalani pemeriksaan karena khawatir tahu, jika dirinya memiliki penyakit tertentu. Dinkes Makassar pun, mendorong seluruh puskesmas untuk menggencarkan promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat.

Edukasi tentang manfaat pemeriksaan kesehatan secara rutin. Selain mendeteksi PTM, CKG juga diintegrasikan dengan program tracing TBC. Program tersebut saat ini sedang digencarkan Pemkot Makassar.

Di Makassar, CKG yang diintegrasikan dengan Tracing TBC digelar di 339 titik, tersebar di 153 kelurahan dari 15 kecamatan se-Kota Makassar. Kegiatan berlangsung mulai Agustus ini hingga November mendatang. Setiap titik ditargetkan menyasar 100 masyarakat untuk menjalani skrining. Dengan demikian, total sasaran yang diproyeksikan mencapai sekitar 33.900 orang.

Nursaidah menambahkan, seluruh puskesmas dikerahkan untuk mengejar target tersebut. Puskesmas diminta berperan aktif dalam pelaksanaan program. Dinkes Makassar juga memaksimalkan jejaring fasilitas kesehatan untuk memperluas cakupan CKG.

Nursaidah menyebut pemeriksaan tersebut dapat menyasar masyarakat mulai dari bayi baru lahir hingga kelompok usia lanjut. Jadi, bukan hanya Puskesmas, Dinkes Makassar bekerja sama dengan 51 rumah sakit, termasuk melibatkan 220 klinik pratama dan utama serta 88 dokter praktik perorangan mandiri.

"Karena lebih cepat mengetahui ada penyakit lebih baik dibanding jatuh ke arah komplikasi," terangnya.

Jemput Bola

Program CKG ini, bahkan memudahkan bagi masyarakat yang sibuk bekerja. Seperti yang dilakukan oleh Puskesmas Ballaparang, Rappocini, Kota Makassar. Setiap pekan mereka menjemput bola, mendatangi instansi-instasi baik swasta maupun pun pemerintah yang ada di wilayah tugasnya untuk melakukan skrining kesehatan.

Sekali dalam seminggu, tim dari puskesmas mendatangi instansi-instansi, seperti JNE Expres, Dinas Perdagangan, Kementerian Agama Makassar, dan CU Mekar Kasih Makassar, Hotel D'Maleo dan Prima, untuk melakukan CKG.

Kepala Puskesmas Ballaparang Makassar, Nur Indarti, menuturkan jika puskesmasnya memang rutin melakukan koordinasi lintas sektor dan turun langsung ke lapangan untuk melaksanakan deteksi dini kesehatan masyarakat.

"Terlebih di wilayah kami itu banyak perkantoran yah. Mereka yang sibuk kerja, bisa saja tidak sempat periksa kesehatan, jadi kami yang datang jemput bola," jelasnya.

Karena, program CKG tidak hanya untuk orang sakit, tetapi juga untuk masyarakat yang sehat agar bisa mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal.

"Setiap warga memiliki jatah satu kali dalam satu tahun. Layanan yang diberikan meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, tekanan darah, hingga pemeriksaan laboratorium sederhana serta pemeriksaan gigi dan mulut,” ungkap Nur Indarti. Itu diamini pegawai di JNE Expres Makassar, Sahira.

"Kami itu sehari sebelum ada pemeriksaan dari puskesmas, sudah diberitahu kalau akan ada tes kesehatan gratis. Lumayan bisa tes gratis, tanpa harus ke rumah sakit lagi. Apalagi, seperti kami, ada kalanya harus sibuk kerja administrasi yang banyak, sehingga tidak punya waktu ke fasilitas kesehatan. Dan alhamdulillahnya, setelah diperiksa, semua baik semua," katanya.

Fenomena Gunung Es

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Evi Mustikawati Arifin, mengungkapkan bahwa program CKG ini, membantu membuka mata banyak pihak tentang kondisi kesehatan masyarakat yang sesungguhnya.

“Dari CKG ini, kami menemukan fenomena gunung es. Banyak penyakit yang tidak menunjukkan gejala awal tetapi sudah mengintai masyarakat, seperti hipertensi, diabetes, dan tuberkulosis. Warga yang datang dalam kondisi sehat, tetapi setelah diperiksa, ternyata tekanan darah atau gula darahnya sudah di atas batas normal,” ungkap Evi.

Untuk itu, pihaknya telah berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan Kota Makassar dan kabupaten/kita lain, termasuk rumah sakit, puskesmas, hingga organisasi kemasyarakatan, untuk memperluas jangkauan layanan.

“Target kami adalah memastikan setiap warga Sulsel, dari bayi hingga lansia, mendapatkan haknya untuk diperiksa kesehatannya secara gratis setahun sekali. Tapi tidak berhenti di situ, kami juga memastikan mereka yang ditemukan sakit mendapatkan pengobatan hingga tuntas,” tegasnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan mencatat, hingga Juli 2026, program CKG secara nasional telah menjangkau 73,8 juta masyarakat, terdiri dari 62,7 juta peserta skrining di puskesmas dan komunitas serta 11,1 juta anak di sekolah. Angka ini terus bertambah dan ditargetkan mencapai 130 juta peserta sepanjang 2026.

Sulawesi Selatan sendiri mencatat capaian yang cukup besar. Di Kabupaten Pangkep misalnya, capaian program CKG hingga pertengahan 2026, sudah mencapai 73,25 persen. Untuk 2026 ini, fokus program CKG di Sulsel, tidak lagi hanya pada deteksi, tetapi juga pada pengobatan.

"Prioritasnya adalah mengendalikan tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Pengendalian tiga faktor risiko ini diharapkan mampu menekan angka kematian akibat stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal,” jelasnya mengutip pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (LN/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |