7 hewan endemik Indonesia yang sudah punah, satu jadi sorotan dunia

2 days ago 3

Jakarta (ANTARA) - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Dengan kawasan hutan yang mencapai sekitar 120,5 juta hektare atau sekitar 63 persen dari total luas daratan, Indonesia menjadi habitat bagi ribuan spesies flora dan fauna, termasuk banyak satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di wilayah Nusantara.

Namun, kekayaan biodiversitas tersebut terus menghadapi berbagai ancaman. Perburuan liar, alih fungsi lahan, kerusakan habitat, perubahan iklim, hingga eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan menyebabkan sejumlah spesies kehilangan tempat hidupnya. Bahkan, sekitar 460 spesies satwa asli Indonesia telah dinyatakan punah dan tidak lagi ditemukan di alam.

Apa saja hewan endemik Indonesia yang telah menjadi kenangan? Berikut Antara News merangkum tujuh di antaranya.

1. Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica)

Harimau Jawa merupakan salah satu satwa endemik Pulau Jawa yang dinyatakan punah pada dekade 1980-an. Kepunahan spesies ini terutama disebabkan oleh perburuan liar dan semakin menyempitnya habitat akibat pembukaan lahan pertanian serta aktivitas manusia.

Pemerintah sebenarnya telah berupaya melindungi harimau Jawa sejak 1940-an melalui pembentukan beberapa kawasan konservasi. Namun, luas kawasan yang terbatas serta minimnya populasi satwa mangsa membuat upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan spesies ini.

Pada 1950-an, populasi Harimau Jawa diperkirakan hanya tersisa sekitar 25 ekor. Jumlah tersebut terus menurun hingga hanya tersisa tujuh ekor pada 1972. Setelah tidak ada lagi bukti keberadaannya di alam liar, Harimau Jawa akhirnya dinyatakan punah pada 1980-an.

Baca juga: Populasi bertambah, anak elang jawa lahir di TN Gunung Gede Pangrango

2. Harimau Bali (Panthera tigris balica)

Sama seperti saudaranya di Jawa, Harimau Bali merupakan subspesies harimau pertama di Indonesia yang dinyatakan punah. Satwa yang dikenal masyarakat Bali dengan sebutan "Sang Mong" ini dulunya hanya hidup di Pulau Bali.

Harimau Bali menjadi satu dari tiga subspesies harimau yang pernah hidup di Indonesia, bersama Harimau Jawa dan Harimau Sumatera yang kini berstatus sangat terancam punah.

Catatan sejarah menunjukkan individu terakhir Harimau Bali ditembak pada 27 September 1937 di wilayah Bali Barat ketika aktivitas perburuan meningkat pada masa kolonial. Status kepunahannya kemudian ditetapkan pada 1938.

Selain tekanan akibat perburuan, Harimau Bali juga memiliki tingkat reproduksi yang relatif rendah. Masa kehamilan sekitar 90 hari hanya menghasilkan dua hingga tiga anak, sementara tingkat kelangsungan hidup anak harimau juga rendah sehingga populasi sulit pulih.

Baca juga: Bali Zoo hadirkan satwa tapir asia sambut libur Lebaran

3. Burung Kuau Bergaris Ganda (Argusianus bipunctatus)

Kuau bergaris ganda merupakan salah satu spesies burung yang hingga kini tidak pernah ditemukan hidup di alam. Keberadaannya hanya diketahui berdasarkan sejumlah bulu yang dikirim ke London untuk diteliti pada masa lalu.

Dari hasil penelitian tersebut, para ilmuwan mendeskripsikan spesies baru yang kemudian diberi nama Argusianus bipunctatus. Karena tidak pernah ditemukan lagi keberadaannya, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan burung ini ke dalam daftar spesies yang telah punah.

4. Tikus Pohon Raksasa Verhoeven (Papagomys theodorverhoeveni)

Tikus Pohon Raksasa Verhoeven merupakan mamalia endemik Flores, Nusa Tenggara Timur. Keberadaan satwa ini diketahui melalui fosil yang ditemukan di Gua Liang Toge dan Liang Bua.

Penelitian menyatakan spesies ini telah punah, dengan publikasi pada 1996. Meski demikian, sebagian peneliti memperkirakan kepunahannya telah terjadi jauh lebih awal, sekitar tahun 1500 Masehi.

Hingga kini masih terdapat dugaan bahwa spesies tersebut mungkin belum benar-benar hilang karena belum seluruh wilayah habitatnya di Flores diteliti secara menyeluruh. Namun, belum ada bukti ilmiah yang mengonfirmasi keberadaan populasi yang masih bertahan.

5. Tikus Gua Flores (Spelaeomys florensis)

Seperti Tikus Pohon Raksasa Verhoeven, Tikus Gua Flores juga hanya diketahui dari temuan fosil di Gua Liang Toge dan Liang Bua, Flores.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan MacPhee dan Flemming, spesies ini dinyatakan telah punah. Para ahli memperkirakan kepunahannya terjadi jauh sebelum abad ke-16, kemungkinan sejak periode Holosen ketika terjadi perubahan lingkungan dan ekosistem di kawasan tersebut.

Baca juga: Mengenal 7 hewan endemik Indonesia yang terancam punah

6. Gajah Jawa (Elephas maximus sondaicus)

Gajah Jawa merupakan subspesies gajah Asia yang diduga pernah menghuni Pulau Jawa pada masa lampau. Keberadaannya diusulkan oleh ahli zoologi Paules Edward Pieris Deraniyagala pada 1953 berdasarkan relief gajah di Candi Borobudur.

Selain itu, sejumlah fosil gajah Asia juga ditemukan pada lapisan tanah berusia Pleistosen di Pulau Jawa. Beberapa catatan sejarah dari Tiongkok juga menyebutkan bahwa raja-raja di Jawa menggunakan gajah sebagai kendaraan dan mengekspor gading ke luar negeri.

Namun, para peneliti masih memperdebatkan apakah gajah tersebut merupakan populasi asli Jawa atau didatangkan dari India maupun Sumatra. Hingga kini, waktu pasti kepunahan Gajah Jawa masih belum dapat dipastikan, meskipun spesies tersebut diyakini telah hilang sejak ratusan tahun lalu.

7. Ikan Pari Jawa (Java Stingaree)

Ikan Pari Jawa atau Java Stingaree menjadi salah satu contoh terbaru satwa Indonesia yang dinyatakan punah. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengumumkan status kepunahannya pada Konferensi Perubahan Iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2023.

Spesies ini hanya diketahui dari satu spesimen yang dikumpulkan di pasar ikan Jakarta pada 1862. Setelah itu, tidak pernah ada lagi catatan ilmiah mengenai keberadaannya di alam.

Menurut IUCN, kepunahan Ikan Pari Jawa menjadi kasus pertama spesies ikan laut yang dinyatakan punah akibat aktivitas manusia. Para peneliti menyebut penangkapan ikan yang tidak terkendali, degradasi habitat pesisir akibat industrialisasi, serta kerusakan lingkungan menjadi faktor utama yang menyebabkan spesies tersebut menghilang dari perairan Jawa.

Kepunahan sejumlah satwa endemik Indonesia menjadi pengingat akan pentingnya upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Perlindungan habitat, penegakan hukum terhadap perburuan liar, serta pengendalian kerusakan lingkungan menjadi langkah penting untuk mencegah spesies lain mengalami nasib serupa. Indonesia masih memiliki banyak satwa endemik yang berstatus terancam punah sehingga membutuhkan perhatian dan komitmen bersama agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Baca juga: Mengenal kucing merah Kalimantan: Spesies langka dan misterius Borneo

Baca juga: PalmCo tegaskan industri sawit dikelola selaras dengan konservasi alam

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |