Yenny Wahid: Demonstrasi dan Chaos Bukan Kultur Nahdlatul Ulama

3 weeks ago 21
 Demonstrasi dan Chaos Bukan Kultur Nahdlatul Ulama Yenny Wahid.(Dok. Antara)

POLITIKUS perempuan Yenny Wahid menegaskan bahwa aksi demonstrasi yang disertai kemarahan hingga perusakan fasilitas umum bukan merupakan cerminan kultur Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, organisasi berlambang bola dunia tersebut selalu mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap perbedaan pendapat.

"Sebetulnya demonstrasi, lalu kemudian chaos, marah-marah itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan," ujar Yenny di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).

Pernyataan putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini merespons dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Diketahui, sempat muncul aksi demonstrasi dan ketegangan setelah adanya sejumlah keputusan yang diambil dalam forum tertinggi organisasi tersebut.

Kritik Terhadap Tindakan Anarkis

Yenny menyayangkan adanya pihak-pihak yang melampiaskan kekecewaan terhadap hasil muktamar dengan tindakan yang tidak terpuji. Ia menekankan bahwa hasil kesepakatan para muktamirin seharusnya dihormati oleh semua pihak.

"Kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU," tegasnya.

Dukungan Terhadap Masa Idah Politik

Selain menyoroti soal ketertiban, Yenny juga memberikan pandangannya terkait keputusan mengenai "masa idah politik" bagi pengurus NU. Ia menilai kebijakan tersebut sangat penting untuk menjaga marwah organisasi agar tetap berjarak dengan kepentingan politik praktis.

Menurut Yenny, jarak tersebut diperlukan agar NU tetap berada pada posisi netral dan tidak mudah diintervensi oleh kepentingan partai politik tertentu. "NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan," imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa politik kebangsaan NU harus difokuskan pada urusan rakyat dan bangsa, menjaga persatuan, serta mendorong kesejahteraan masyarakat luas.

Harapan pada AHWA

Terkait mekanisme pemilihan pemimpin melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Yenny menaruh harapan besar kepada para kiai yang terpilih. Ia meyakini para ulama yang berada di dalam AHWA memiliki kearifan untuk menentukan nakhoda terbaik bagi PBNU.

"Semua alim, semuanya fakih. Kita tentu menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan yang paling pas dalam memilih Rais Aam maupun memilih kandidat ketua umum ke depannya nanti," kata Yenny.

Menutup pernyataannya, Yenny mengajak seluruh muktamirin dan pihak terkait untuk menghormati keputusan para ulama demi keberlangsungan NU dalam menghadapi tantangan di abad kedua organisasi tersebut. (Ant/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |