Tantangan Ekonomi 2026: Transformasi Manufaktur dan Literasi Finansial Jadi Kunci Pertumbuhan

5 hours ago 4
 Transformasi Manufaktur dan Literasi Finansial Jadi Kunci Pertumbuhan Kiri-kanan: ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja, Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia Gede Widhi, dan Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo.(MI/Putri Anisa Yuliani)

DI tengah dinamika ekonomi global, Indonesia menghadapi tantangan krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan. Sektor perbankan dan ekonomi kini dituntut melakukan reformasi struktural, mulai dari penguatan sektor manufaktur hingga adopsi teknologi yang berpusat pada nasabah (client-centric).

ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, menyoroti urgensi pembenahan sektor manufaktur sebagai tumpuan ekonomi jangka panjang. Menurutnya, ketergantungan pada sektor jasa yang fluktuatif perlu diimbangi dengan stabilitas lapangan kerja di sektor manufaktur.

“Kita harus melakukan reformasi manufaktur. Alirkan insentif dukungan ke manufaktur, berikan pendampingan agar bisa melawan perang teknologi, dan pastikan fiskal dialirkan ke pintu yang tepat untuk menciptakan confidence (kepercayaan),” ujar Enrico dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (12/8).

Enrico menambahkan, peningkatan kepercayaan investor juga menjadi faktor vital untuk menekan defisit pendapatan primer. Selama ini, arus modal asing cenderung keluar, yang menghambat reinvestasi di dalam negeri. Dengan stabilitas nilai tukar Rupiah dan peningkatan kemudahan berinvestasi, ia optimistis ekonomi Indonesia mampu bertahan meski di bawah tekanan global.

Di sisi lain, perbankan dituntut beradaptasi dengan perubahan perilaku kelas menengah yang semakin kompleks. Head of Consumer Banking UOB Indonesia, Herman Soesetyo, menekankan pergeseran paradigma dari product-centric menjadi client-centric

“Ekspektasi nasabah berubah sangat cepat. Kita dipacu untuk menjadi trusted financial advisor (penasihat keuangan terpercaya) melalui dukungan teknologi dan data yang mumpuni untuk melayani kebutuhan nasabah yang lebih spesifik,” jelas Herman.

Senada dengan hal tersebut, Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia, Gede Widhi, menyoroti tren pergeseran gaya hidup generasi muda yang beralih dari kepemilikan barang (have more) menjadi pengalaman (experience more). Perubahan perilaku ini menuntut sektor keuangan untuk menyajikan layanan yang lebih efisien. 

“Kunci menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang adalah memahami teknologi dan memetakan nasabah. Pembayaran harus seamless (mulus), sesuai segmen yang dituju, dan future proof,” ungkap Gede.

Ketiga pakar sepakat bahwa fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan bergantung pada eksekusi kebijakan yang tepat. Dengan menyinergikan inovasi digital, stabilitas investasi, dan penguatan sektor riil, Indonesia diharapkan mampu menjawab tantangan ekonomi dengan lebih tangguh. (e-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |