Fosil Berusia 236 Juta Tahun Ungkap Petunjuk Mamalia Purba Bisa Melahirkan

2 hours ago 2
Fosil Berusia 236 Juta Tahun Ungkap Petunjuk Mamalia Purba Bisa Melahirkan Ilustrasi(Doc deviantart)

SEBUAH fosil berusia sekitar 236 juta tahun membawa petunjuk baru mengenai sejarah reproduksi mamalia. Temuan dari Argentina menunjukkan bahwa kemampuan melahirkan anak hidup kemungkinan sudah muncul jauh lebih awal pada garis evolusi yang mengarah menuju mamalia modern.

Fosil tersebut berasal dari Chiniquodon theotonicus, salah satu cynodont, kelompok hewan purba yang masih berkerabat dekat dengan nenek moyang mamalia. Selama ini, ilmuwan menduga kelompok cynodont awal lebih banyak bereproduksi dengan bertelur.

Namun, penelitian terbaru yang dikutip dari Vietnam vn menemukan petunjuk berbeda dari struktur mikroskopis tulang hewan tersebut. Temuan ini bahkan berpotensi mendorong mundur perkiraan munculnya reproduksi vivipar atau kelahiran hidup hingga 90-95 juta tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Petunjuk Tersembunyi di Dalam Tulang

Penemuan ini bermula ketika peneliti memeriksa potongan tipis tulang kaki Chiniquodon theotonicus. Di bawah mikroskop, mereka menemukan garis pertumbuhan yang tidak biasa pada jaringan tulang.

Garis tersebut dikenal sebagai neonatal line, sebuah tanda biologis yang berkaitan dengan perubahan pertumbuhan setelah kelahiran. Dalam kasus fosil ini, keberadaannya menjadi petunjuk bahwa hewan tersebut mengalami perubahan pertumbuhan yang berkaitan dengan fase setelah lahir.

Peneliti kemudian memperkirakan ukuran tubuh Chiniquodon pada saat lahir dan ketika dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa hewan tersebut memiliki berat sekitar 1,7 kilogram saat lahir dan dapat mencapai hampir 12 kilogram ketika dewasa.

Artinya, ukuran anak yang baru lahir mencapai sekitar 14 persen dari massa tubuh dewasanya.

Ukurannya Lebih Mirip Bayi Mamalia

Angka tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan kemungkinan cara reproduksi hewan ini.

Vietnam vn melaporkan bahwa peneliti membandingkan rasio massa tubuh Chiniquodon dengan ribuan spesies hewan modern. Pada reptil yang bertelur, seperti kura-kura, ular, dan buaya, massa anak ketika menetas umumnya jauh lebih kecil dibandingkan tubuh induknya.

Sebaliknya, sejumlah mamalia plasenta dapat melahirkan anak dengan ukuran yang relatif besar dibandingkan tubuh induknya. Pola yang ditemukan pada Chiniquodon lebih mendekati kelompok mamalia tersebut.

Dari perbandingan itu, para peneliti menyimpulkan bahwa Chiniquodon theotonicus kemungkinan melahirkan anak hidup, bukan bertelur.

Meski demikian, kesimpulan tersebut belum dianggap sebagai bukti mutlak. Sejumlah ahli menilai diperlukan lebih banyak fosil, terutama bukti yang dapat menunjukkan kehamilan secara langsung, untuk memperkuat temuan tersebut.

Mengapa Kelahiran Hidup Bisa Menguntungkan?

Chiniquodon hidup pada periode Trias, ketika Bumi masih berada dalam tahap pemulihan setelah kepunahan massal terbesar dalam sejarahnya.

Menurut peneliti Adriana Mancuso dari CONICET mahasiswa pascasarjana María Miceli Baro dan ahli paleontologi Leandro Gaetano dikutip dalam laporan tersebut, kondisi lingkungan ketika itu penuh tekanan. Persaingan mendapatkan sumber daya tinggi, predator berlimpah, sementara kekeringan dan perubahan musim juga menjadi tantangan.

Dalam situasi seperti itu, mempertahankan embrio di dalam tubuh induk dapat memberikan perlindungan lebih besar dibandingkan meninggalkannya dalam telur di lingkungan terbuka.

Dengan demikian, kelahiran hidup mungkin bukan sekadar perubahan cara berkembang biak, tetapi juga strategi yang membantu sebagian hewan bertahan menghadapi lingkungan yang keras.

Sejarah Mamalia Ternyata Lebih Panjang

Temuan ini menarik karena kelahiran hidup selama ini sering dikaitkan dengan mamalia modern dan kelompok kerabatnya yang lebih muda.

Jika interpretasi terhadap fosil Chiniquodon terbukti benar, kemampuan tersebut ternyata sudah muncul pada salah satu garis keturunan yang sangat jauh sebelum mamalia modern berkembang.

Penemuan ini juga sejalan dengan semakin banyaknya bukti bahwa sejumlah karakter khas mamalia, seperti perkembangan otak, gigi yang lebih terdiferensiasi, rambut, dan kelenjar susu, memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Meski masih membutuhkan pengujian melalui temuan fosil lainnya, satu hal menjadi semakin jelas: sejarah reproduksi mamalia tidak dimulai sesederhana yang selama ini dibayangkan. Sepotong jaringan tulang yang nyaris tak terlihat justru dapat membuka kembali cerita tentang bagaimana nenek moyang mamalia bertahan dan berkembang ratusan juta tahun lalu.

Sumber: Vietnam vn

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |