Siswa SD Kupang IV yang terletak di Dusun Kalialo, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. (MI/Hery Susetyo)
DI saat mayoritas sekolah dasar ramai menyambut hangat kedatangan murid baru dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), pemandangan pilu justru menyelimuti SD Kupang IV yang terletak di Dusun Kalialo, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai di sekolah ini tanpa satu pun siswa baru. Tak ada riuh tawa anak-anak berseragam merah-putih yang baru masuk, pun tak ada orang tua yang mengantar buah hati mereka ke gerbang sekolah.
Sekolah dasar yang akrab disebut SD Kalialo ini berdiri di tengah kawasan tambak wilayah paling timur Sidoarjo. Kini, sekolah tersebut hanya menyisakan total 12 orang murid yang tersebar dari kelas II hingga kelas VI, sementara bangku kelas I dipastikan kosong melompong.
"Jumlah seluruh murid sekarang hanya 12 anak. Kelas II ada dua siswa, kelas III tiga siswa, kelas IV empat siswa, kelas V satu siswa, dan kelas VI dua siswa," ungkap salah satu guru SD Kupang IV, Solekan Tabib, Selasa (14/7).
Keterbatasan fasilitas membuat sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas. Akibatnya, setiap ruang kelas terpaksa disekat dan digunakan untuk menampung dua tingkat kelas sekaligus. Uniknya, meski jumlah siswa hanya belasan, sekolah ini masih diperkuat oleh delapan orang guru dan seorang kepala sekolah yang tetap setia mengabdi demi keberlangsungan pendidikan anak-anak dusun setempat.
Sepinya peminat di SD Kupang IV bukan tanpa alasan. Dusun Kalialo sendiri merupakan wilayah terpencil yang hanya dihuni oleh sekitar 60 kepala keluarga (KK). Mayoritas warganya menggantungkan hidup sebagai buruh tambak dan buruh pemetik hasil laut, sehingga jumlah anak usia sekolah dasar di kawasan tersebut sangat sedikit. Selain faktor demografi, akses menuju lokasi sekolah pun tergolong ekstrem. Dari pusat Kecamatan Porong, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit perjalanan menggunakan sepeda motor.
Setelah melewati jalan beraspal, siapapun yang berkunjung harus menghadapi jalan makadam sempit dan bergelombang yang diapit oleh hamparan tambak di kedua sisinya. Jalur yang licin dan minim pengaman ini sangat rawan membuat pengendara motor tergelincir masuk ke dalam tambak jika kurang waspada.
Di tengah himpitan ekonomi dan kondisi geografis yang sulit, para siswa di SD Kupang IV hingga saat ini belum pernah merasakan manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.
"Harusnya sekolah kami layak menerima MBG karena kondisi masyarakatnya. Kami sudah pernah mengusulkan, tapi sampai sekarang belum ada tanggapan. Mungkin terkendala akses transportasi," duga Tabib.
Kondisi tersebut diperparah dengan kerusakan infrastruktur sekolah yang kian memprihatinkan. Dinding-dinding papan sekolah tampak berlubang karena lapuk dimakan usia. Hal yang paling mencemaskan adalah kondisi atap di dua ruang kelas yang sudah jebol dan rawan roboh sewaktu-waktu.
"Kalau hujan, air mengalir deras masuk ke ruang kelas. Kami sangat khawatir atapnya ambruk dan menimpa anak-anak," keluh Tabib cemas.
Pihak sekolah sangat berharap Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dapat segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki bangunan sekolah sebelum kondisi fisik bangunan yang mengkhawatirkan tersebut memakan korban jiwa. (HS/E-4)

















































