Ilustrasi(Magnific)
RENCANA pembangunan pusat data (data center) di orbit Bumi untuk mendukung kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI), menuai sorotan dari para ilmuwan dan organisasi lingkungan.
Mereka memperingatkan proyek tersebut berpotensi merusak atmosfer, mengganggu lapisan ozon, hingga meningkatkan polusi cahaya apabila dijalankan tanpa kajian lingkungan yang memadai.
Kekhawatiran itu muncul setelah sejumlah perusahaan antariksa, termasuk SpaceX dan Blue Origin, mengembangkan konsep orbital data center, yaitu pusat data yang ditempatkan di luar angkasa dan ditenagai energi surya.
Konsep ini dinilai mampu mengurangi konsumsi listrik dan kebutuhan pendinginan data center di Bumi, tetapi di sisi lain memunculkan risiko baru bagi lingkungan.
Peluncuran Satelit Dinilai Berpotensi Mencemari Atmosfer
Sejumlah organisasi, seperti Earthjustice, DarkSky International, Environment America, dan Public Employees for Environmental Responsibility (PEER), telah mengajukan petisi kepada Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat.
Mereka meminta regulator menghentikan sementara pemberian izin proyek data center orbit hingga dilakukan penilaian dampak lingkungan secara menyeluruh.
Menurut para peneliti, peluncuran roket dan proses masuk kembali (re-entry) satelit ke atmosfer dapat menghasilkan partikel seperti jelaga hitam (black carbon), aluminium oksida, serta logam lainnya.
Material tersebut dikhawatirkan menumpuk di stratosfer dan mengganggu lapisan ozon, meningkatkan paparan radiasi ultraviolet, hingga memengaruhi keseimbangan iklim dalam jangka panjang.
Ancaman bagi Langit Malam dan Astronomi
Selain risiko terhadap atmosfer, para ilmuwan juga menyoroti dampak terhadap pengamatan astronomi. Jika proyek data center orbit berkembang menjadi konstelasi satelit dalam jumlah sangat besar, pantulan cahaya dari satelit dapat memperburuk polusi cahaya dan mengganggu observasi menggunakan teleskop di Bumi.
Para pengkritik menilai dampak tersebut belum dijelaskan secara memadai dalam proposal yang diajukan perusahaan, padahal jumlah satelit yang dibutuhkan untuk mendukung pusat data AI di orbit diperkirakan sangat besar.
Mereka juga mengingatkan bahwa peningkatan aktivitas peluncuran roket akan menambah emisi ke atmosfer dan memperbesar risiko puing antariksa.
Ilmuwan Minta Pengawasan Lebih Ketat
Meski teknologi data center di luar angkasa dinilai memiliki potensi untuk mengurangi beban energi di Bumi, para ilmuwan menegaskan manfaat tersebut harus diimbangi dengan kajian ilmiah yang komprehensif. Mereka mendesak FCC agar tidak memberikan izin baru sebelum seluruh dampak terhadap atmosfer, lapisan ozon, serta lingkungan antariksa dipahami dengan lebih baik.
Menurut mereka, pengembangan teknologi antariksa tidak boleh mengabaikan risiko lingkungan yang dapat memengaruhi Bumi dalam jangka panjang. (The Guardian/Z-2)

















































