Ilustrasi(magnifik)
PENYAKIT jantung bawaan (PJB) atau congenital heart defects merupakan kelainan pada struktur atau fungsi jantung yang sudah ada sejak bayi lahir. Sejumlah kelainan jantung dapat dideteksi ketika bayi masih berada dalam kandungan melalui pemeriksaan kehamilan. Namun, tidak semua kasus dapat ditemukan sebelum persalinan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut penyakit jantung bawaan dapat didiagnosis selama kehamilan, setelah bayi lahir, bahkan pada sebagian kasus baru diketahui pada masa kanak-kanak atau ketika seseorang telah dewasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemeriksaan selama kehamilan memiliki keterbatasan dalam mendeteksi seluruh jenis kelainan jantung.
Pemeriksaan Jantung Janin Memiliki Peran Penting
Salah satu pemeriksaan yang digunakan untuk mengevaluasi jantung bayi dalam kandungan adalah fetal echocardiogram atau ekokardiografi janin.
Pemeriksaan ini merupakan jenis USG yang memberikan gambaran lebih rinci mengenai struktur dan fungsi jantung janin.
American Heart Association menjelaskan bahwa fetal echocardiogram umumnya dilakukan pada usia kehamilan sekitar 18 hingga 22 minggu, terutama apabila terdapat faktor yang meningkatkan risiko kelainan jantung atau pemeriksaan USG rutin menunjukkan adanya kemungkinan masalah pada jantung janin.
Pemeriksaan ini dapat membantu dokter melihat bagian-bagian jantung yang sedang berkembang, termasuk struktur dan cara kerja jantung.
Apabila ditemukan kelainan, informasi tersebut dapat membantu tenaga medis merencanakan pemantauan selama kehamilan, proses persalinan, serta perawatan bayi setelah lahir.
Mengapa Tidak Semua PJB Bisa Terdeteksi?
Salah satu kendala utama adalah tidak semua kelainan jantung mudah terlihat melalui pemeriksaan prenatal.
American Heart Association menegaskan bahwa hasil fetal echocardiogram yang normal tidak selalu dapat menyingkirkan seluruh kemungkinan masalah jantung karena sirkulasi darah janin berbeda dengan kondisi setelah bayi lahir. Beberapa kelainan berukuran kecil atau jenis tertentu juga dapat lebih sulit diamati.
CDC menjelaskan bahwa total anomalous pulmonary venous return atau TAPVR tidak umum terdeteksi selama kehamilan. Salah satu penyebabnya adalah pembuluh vena paru lebih sulit dilihat pada pemeriksaan prenatal karena sebelum bayi lahir, aliran darah ke paru-paru masih relatif sedikit. Kondisi tersebut dapat menjadi lebih mudah dikenali setelah bayi lahir ketika sistem peredaran darah berubah.
Keterbatasan juga dapat dipengaruhi oleh jenis kelainan jantung. CDC mencatat bahwa tingkat deteksi prenatal dapat berbeda-beda tergantung jenis PJB dan kualitas gambaran yang diperoleh saat pemeriksaan.
Pemeriksaan Setelah Bayi Lahir Tetap Diperlukan
Karena tidak semua PJB dapat ditemukan saat kehamilan, pemeriksaan setelah bayi lahir tetap memiliki peran penting. Salah satu metode yang digunakan untuk membantu mendeteksi beberapa jenis penyakit jantung bawaan kritis adalah pulse oximetry, yaitu pemeriksaan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah.
CDC menyebut skrining tersebut dapat membantu menemukan beberapa bayi dengan penyakit jantung bawaan kritis sebelum menunjukkan gejala yang jelas dan sebelum meninggalkan fasilitas persalinan.
Deteksi dini memungkinkan bayi memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih cepat apabila diperlukan.
Gejala yang perlu menjadi perhatian setelah bayi lahir dapat meliputi kesulitan bernapas, warna kulit atau bibir yang tampak kebiruan, kesulitan menyusu, hingga kondisi bayi yang tampak sangat lemah atau mengantuk. Gejala tersebut tidak selalu berarti bayi mengalami PJB, tetapi memerlukan evaluasi medis untuk mengetahui penyebabnya.
Deteksi penyakit jantung bawaan sejak dalam kandungan memang menjadi langkah penting karena dapat membantu mempersiapkan perawatan bayi. Namun, hasil pemeriksaan prenatal tetap memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin dan evaluasi kesehatan bayi setelah lahir tetap penting untuk membantu mendeteksi masalah jantung sedini mungkin.
Sumber: CDC


















































