Ilustrasi(Magnific.com)
Penggunaan kawat gigi atau behel kini telah menjadi tren gaya hidup di tengah masyarakat. Namun, di balik fungsinya untuk mempercantik senyuman, pemasangan behel sebenarnya merupakan tindakan medis serius yang tidak boleh dilakukan sembarangan. Banyak orang yang merasa perlu memakai behel hanya karena alasan estetika, padahal secara klinis kondisi gigi mereka mungkin tidak memerlukannya.
Dokter Gigi Spesialis Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKG UMY), drg. Puspitarini Nindya Wardana, Sp.Ort memberikan edukasi mengenai kapan sebenarnya seseorang benar-benar membutuhkan intervensi ortodonti. Memahami indikasi medis sebelum memutuskan memakai behel sangat penting untuk menghindari risiko kerusakan gigi yang lebih parah di masa depan.
Memahami Fungsi Utama Behel: Bukan Sekadar Tren
Secara medis, behel atau alat ortodonti bertujuan untuk memperbaiki posisi gigi yang tidak teratur dan hubungan antara gigi atas dan bawah yang tidak harmonis (maloklusi). Dokter spesialis UMY menekankan bahwa tujuan utama perawatan ini adalah mengembalikan fungsi pengunyahan, bicara, dan kesehatan jaringan penyangga gigi.
Meskipun hasil akhirnya memberikan dampak estetika yang signifikan, motivasi utama pasien seharusnya adalah kesehatan jangka panjang. Gigi yang berjejal atau tidak rapi lebih sulit dibersihkan, sehingga meningkatkan risiko karies (gigi berlubang) dan penyakit gusi.
Kapan Seseorang Benar-benar Membutuhkan Behel?
Tidak semua ketidakteraturan gigi harus diatasi dengan behel. Berikut adalah beberapa kondisi klinis yang menjadi indikasi kuat seseorang memerlukan perawatan ortodonti menurut penjelasan medis:
- Gigi Berjejal (Crowding): Kondisi di mana rahang tidak memiliki cukup ruang untuk gigi tumbuh secara normal, menyebabkan gigi saling tumpang tindih.
- Gigi Jarang (Diastema): Adanya ruang atau celah yang berlebihan di antara gigi-gigi, yang dapat mengganggu fungsi pengunyahan dan estetika.
- Gigi Tonggos (Protrusi): Gigi depan atas yang terlalu maju ke depan dibandingkan gigi bawah.
- Gigi Cakil (Underbite): Kondisi di mana gigi bawah lebih maju daripada gigi depan atas saat mulut tertutup.
- Masalah Gigitan (Maloklusi): Seperti deep bite (gigi atas menutupi gigi bawah secara berlebihan) atau open bite (ada celah antara gigi atas dan bawah saat rahang dikatupkan).
Risiko Pemasangan Behel Tanpa Indikasi Medis
Dokter spesialis UMY memperingatkan bahaya pemasangan behel "fashion" atau behel yang dilakukan oleh tenaga non-profesional (tukang gigi). Pemasangan kawat gigi tanpa perhitungan mekanobiologi yang tepat dapat menyebabkan:
Bahaya Behel Ilegal:
- Resorpsi akar gigi (akar gigi memendek dan goyang).
- Peradangan gusi yang hebat (gingivitis).
- Kerusakan tulang rahang.
- Infeksi silang akibat alat yang tidak steril.
Prosedur yang Benar Sebelum Memasang Behel
Jika Anda merasa membutuhkan behel, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter gigi spesialis ortodonti (Sp.Ort). Proses diagnosis biasanya meliputi:
- Pemeriksaan Klinis: Dokter akan melihat kondisi rongga mulut secara langsung.
- Rontgen Panoramik dan Sefalometrik: Untuk melihat posisi akar gigi dan hubungan tulang rahang.
- Pencetakan Gigi: Membuat model studi untuk merencanakan pergerakan gigi.
- Analisis Profil Wajah: Memastikan hasil akhir behel akan harmonis dengan bentuk wajah pasien.
Checklist: Apakah Anda Perlu ke Dokter Spesialis Ortodonti?
Gunakan daftar periksa sederhana ini untuk mengevaluasi kondisi gigi Anda secara mandiri sebelum berkonsultasi:
| Apakah Anda sering tergigit di bagian pipi dalam atau lidah saat makan? | ... |
| Apakah ada kesulitan saat mengucapkan huruf-huruf tertentu (cedal)? | ... |
| Apakah rahang Anda sering berbunyi atau terasa sakit saat mengunyah? | ... |
| Apakah Anda merasa tidak percaya diri dengan susunan gigi saat tersenyum? | ... |
Kesimpulan
Behel adalah alat medis, bukan sekadar aksesori. Penjelasan dari dokter spesialis UMY mengingatkan kita bahwa keputusan untuk memakai kawat gigi harus didasarkan pada kebutuhan fungsional dan kesehatan. Jika susunan gigi Anda sudah rapi dan fungsi pengunyahan berjalan baik, penggunaan behel mungkin tidak diperlukan. Selalu konsultasikan masalah kesehatan gigi Anda kepada ahlinya untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan aman.
Pertanyaan Umum (FAQ) Seputar Penggunaan Behel
1. Berapa usia ideal untuk mulai memakai behel?
Secara umum, usia 12-13 tahun saat gigi permanen sudah tumbuh sebagian besar adalah waktu yang umum. Namun, pemeriksaan dini bisa dilakukan sejak usia 7 tahun untuk mendeteksi masalah pertumbuhan rahang.
2. Apakah memakai behel itu sakit?
Ada rasa tidak nyaman atau nyeri ringan selama beberapa hari setelah pemasangan atau kontrol rutin karena adanya tekanan pada gigi, namun hal ini normal dan akan hilang dengan sendirinya.
3. Berapa lama durasi pemakaian behel secara umum?
Rata-rata berkisar antara 1,5 hingga 3 tahun, tergantung pada tingkat keparahan kasus dan kepatuhan pasien dalam kontrol rutin.
4. Apakah setelah lepas behel gigi bisa berantakan lagi?
Bisa, jika pasien tidak disiplin menggunakan retainer sesuai instruksi dokter setelah perawatan behel selesai.
5. Bolehkah memasang behel hanya untuk gigi atas saja?
Biasanya tidak disarankan, karena tujuan ortodonti adalah memperbaiki gigitan (oklusi) yang melibatkan keselarasan antara gigi atas dan bawah.
6. Apa perbedaan dokter gigi umum dan spesialis ortodonti (Sp.Ort)?
Spesialis Ortodonti adalah dokter gigi yang telah menempuh pendidikan lanjutan khusus mengenai pergerakan gigi dan keharmonisan wajah.


















































