Presiden Prabowo Subianto.(Biro Pers Sekretariat Presiden)
PRESIDEN Prabowo Subianto menyoroti jejak nasionalisme Nahdlatul Ulama (NU) yang telah tumbuh jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Ia menggunakan lagu Syubbanul Wathon sebagai bukti bahwa semangat cinta Tanah Air telah menjadi bagian dari perjuangan kalangan ulama sejak masa sebelum Republik Indonesia berdiri.
"Yang menarik bagi kita semua, terutama generasi muda, yang menarik adalah bahwa lagu ini diciptakan oleh Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan," kata Prabowo saat berpidato dalam pembukaan Muktamar NU ke-35 di Jombang, Kamis (27/8).
Menurutnya, keberadaan Syubbanul Wathon menunjukkan keberanian tokoh-tokoh religius pada masa itu dalam menanamkan semangat patriotisme, meskipun bentuk negara Indonesia belum jelas.
"Pada waktu itu kita juga belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas. Tapi pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan demikian nasionalis, belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Sudah ada lagu ini," jelas Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo bahkan sempat menyanyikan bait pembuka Syubbanul Wathon di hadapan peserta Muktamar NU ke-35. Ia menilai lagu tersebut bukan sekadar karya musik organisasi keagamaan. Syubbanul Wathon, kata Prabowo, mencerminkan perpaduan antara nilai religius dengan kecintaan terhadap tanah air.
"Bukti yang jelas adalah lagu Syubbanul Wathon yang sekarang menjadi lagunya Nahdlatul Ulama. Lagu ini bisa dikatakan adalah lagu patriotik, lagu nasionalis, lagu yang dibuat oleh kelompok religius tapi semangatnya adalah semangat cinta tanah air dan semangat nasionalisme yang luar biasa," kata Prabowo.
Prabowo kemudian mengaitkan semangat tersebut dengan cita-cita para pendiri NU. Menurutnya, kebangkitan Indonesia harus bermuara pada terwujudnya bangsa yang memiliki kedudukan sejajar dengan negara-negara lain.
"Jadi cita-cita pendiri NU adalah agar bangsa Indonesia bangkit, agar bangsa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Agar bangsa Indonesia, kalau bangkit artinya bangsa Indonesia itu terhormat," tuturnya. (Mir/P-3)


















































