Seorang Bocah, Sebotol Minuman, Sepotong Cinta

3 weeks ago 25
Seorang Bocah, Sebotol Minuman, Sepotong Cinta Max Regus(Ilustrasi: MI/Seno)

Cerita Kecil dari Gempa Bumi Flores

BEBERAPA waktu setelah gempa bumi mengguncang Flores (15/8), saya mengunjungi komunitas dan keluarga yang terdampak di beberapa lokasi. Bersama relawan Posko Bencana Keuskupan Labuan Bajo, saya membawa sembako dan kebutuhan sederhana lainnya. Tidak banyak. Tidak mungkin pula mencukupi seluruh kebutuhan. Paket sembako itu juga merupakan pemberian dari berbagai pihak. 

Saya, sebagaimana yang dilakukan banyak saudara lainnya, hanya ingin hadir. Mengetuk pintu-pintu kehidupan yang sedang terluka. Membagikan apa yang dapat diberikan. Di tempat-tempat itu, saya menyaksikan banyak hal yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada rumah yang dindingnya retak. Ada bangunan yang tinggal puing. Ada wajah-wajah yang tampak lelah setelah berhari-hari hidup dalam kecemasan. Ada keluarga yang masih memilih tidur di luar rumah karena takut gempa susulan. 

Pesan dari seorang bocah

Suatu siang, ketika kami hendak pulang, saya melihat tiga orang bocah, kakak-beradik. Kebetulan masih tersisa beberapa botol minuman yang kami bawa. Saya mendekati mereka. Saya menawarkan masing-masing sebotol. Mereka menerimanya dengan kegembiraan sederhana. Wajah-wajah kecil itu mendadak cerah, bahkan terasa lebih terang daripada terik matahari siang itu. Sebotol minuman yang bagi banyak orang mungkin tidak berarti apa-apa, di tangan mereka terasa seperti hadiah besar.

Saya hampir beranjak ketika salah seorang yang tampaknya paling tua memanggil: “Tolong, satu botol lagi untuk kakak saya.” Saya terdiam. Sebuah kalimat pendek. Kata-kata yang serentak mengunci nurani saya dalam banyak hal. Dalam keadaan sulit, sangat manusiawi bila seseorang terlebih dahulu memikirkan dirinya sendiri. Bocah itu sebenarnya bisa pergi sambil membawa minumannya. Dia dapat menikmatinya sendirian.  Tetapi bocah itu justru mengingat seseorang yang tidak ada di sana. Ia belum minum, tetapi ia memikirkan orang lain. Kakaknya.

Bocah itu sedang mengajari saya (kita) sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebotol minuman. Bocah itu tidak mau menikmati sesuatu sendirian. Ada orang lain yang juga membutuhkan. Mungkin lebih membutuhkan. Di tengah bencana ini, hati boleh terguncang. Air mata boleh jatuh. Namun, selalu ada sesuatu di dalam diri manusia yang “diam-diam” menolak untuk menyerah. Sesuatu yang tidak mampu dibawa pergi oleh bencana ini. Kerinduan asali manusia untuk menyediakan ruang bagi orang lain dalam kesadarannya.

Sebotol minuman solidaritas

Kata solidaritas pasti terlalu mewah untuk mulut seorang anak kecil. Ia mungkin bahkan belum memahaminya. Tetapi hari itu ia melakukannya dengan sempurna dan indah. Dia memperjuangkan sebotol minuman solidaritas untuk saudaranya. Hanya dalam sebuah ocehan khas anak-anak. Sebuah ujaran: “satu botol lagi untuk kakak saya.” Maknanya melampaui pidato indah dan penuh polesan para penguasa. 

Di tengah situasi bencana ini, saya kemudian membayangkan begitu banyak saudara yang mungkin belum tersentuh bantuan. Saya mendengar berita tentang berton-ton bantuan yang datang. Posko-posko kemanusiaan berdiri. Begitu banyak orang bekerja dengan tulus. Semua itu patut kita syukuri.

Namun, di balik angka-angka besar itu selalu ada manusia. Ada seorang ibu yang masih menunggu terpal. Ada seorang ayah yang memikirkan bagaimana keluarganya akan tinggal setelah rumah mereka rusak. Ada seorang lansia yang membutuhkan obat. Ada seorang anak yang mungkin hanya merindukan sebotol minuman di tengah hari yang teramat terik dan mengirim pesan tentang ketidakpastian masa depan. Karena itu, jangan sampai banyaknya bantuan membuat kita lupa pada seseorang yang belum mendapat bagian.

Sepotong cinta yang tersisa

Bencana selalu mengingatkan kita bahwa manusia dapat kehilangan banyak hal dalam beberapa detik. Rumah, harta benda, rasa aman, bahkan orang-orang yang dicintai. Namun, gempa sedahsyat apa pun ternyata tidak selalu mampu meruntuhkan sesuatu yang paling dalam dalam diri manusia: kemampuan untuk mencintai.

Saya melihat cinta itu pada para relawan yang datang dari berbagai tempat. Pada tetangga yang berbagi makanan. Pada keluarga yang memberi ruang di tenda mereka kepada keluarga lain. Pada orang-orang yang mengangkat batu bersama-sama. Dan pada seorang bocah yang memegang sebotol minuman sambil mengingat kakaknya. Mungkin itulah sebabnya kita masih sanggup berdiri. Bukan karena kita tidak rapuh, tetapi karena dalam kepungan penderitaan itu, masih ada tangan-tangan yang saling menggenggam.

Hari-hari setelah gempa ini mungkin masih panjang. Banyak yang harus dibangun kembali. Rumah-rumah harus diperbaiki. Rumah ibadat harus dibenahi. Kehidupan ekonomi harus dipulihkan. Luka-luka batin membutuhkan waktu untuk sembuh. Namun, kita tidak boleh kehilangan sesuatu yang paling berharga. Sepotong cinta yang  tersisa di antara debu dan bebatuan. 

Dunia tidak selalu membutuhkan tindakan yang luar biasa besar. Kadang-kadang dunia hanya membutuhkan seseorang yang, di tengah keterbatasannya sendiri, masih mampu menoleh kepada yang lain dan berkata: “Tolong, satu lagi untuk saudara saya.” Selama kalimat seperti itu masih hidup di antara kita, saya percaya: bencana mungkin dapat meruntuhkan rumah-rumah kita, tetapi tidak akan pernah meruntuhkan kemanusiaan kita. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |