Anggota DPD RI Asal Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.(Antara)
Nama Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, atau yang akrab disapa AWK, seolah tidak pernah lepas dari sorotan publik. Senator asal Bali ini dikenal sebagai sosok yang vokal, namun sering kali pernyataannya memicu perdebatan sengit di tingkat nasional. Dari karier masa mudanya di dunia hiburan hingga kiprah politiknya yang penuh dinamika, Arya Wedakarna memiliki rekam jejak yang panjang dengan berbagai kontroversi yang menyertainya.
Baru-baru ini, namanya kembali mencuat setelah beredar video kehadirannya dalam sebuah acara kontes kecantikan transgender di Thailand pada September 2026. Namun, itu hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang melibatkan sosok anggota DPD RI ini. Berikut adalah rangkuman kontroversi dan perjalanan karier Arya Wedakarna dalam beberapa tahun terakhir.
1. Kehadiran di Kontes Waria Tailan (September 2026)
Pada September 2026, media sosial dihebohkan dengan video yang memperlihatkan Arya Wedakarna menghadiri kontes kecantikan transgender di Tailan. Hal yang menjadi sorotan bukan hanya kehadirannya, melainkan adanya sosok pria berseragam yang diduga anggota TNI AL dalam acara tersebut.
Dalam video tersebut, pria berseragam biru itu terlihat menuntun AWK saat hendak naik ke atas panggung. Menanggapi hal ini, Arya Wedakarna memberikan klarifikasi bahwa kehadirannya di sana bukan dalam kapasitas sebagai anggota DPD RI, melainkan sebagai pribadi serta tokoh budaya, pariwisata, dan Hindu Bali.
2. Penyerahan Tongkat Pusaka Ganesha (Agustus 2026)
Sebelum isu kontes di Thailand, pada 21 Agustus 2026, AWK sempat bertemu dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Dalam pertemuan tersebut, ia menyerahkan tongkat kepemimpinan dengan lambang Dewa Ganesha atas nama masyarakat Bali. Ia menyatakan bahwa tongkat tersebut nantinya akan diserahkan secara estafet kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai simbol kepemimpinan.
Kedatangannya tersebut mengundang komentar miring dari warganet.
3.Perselisihan Jahitan hingga Dugaan Intimidasi (Juli 2026)
Kasus ini bermula dari perselisihan antara RHW (Hilda) dengan pemilik usaha Sintya Tailor, Ni Made Tiadnyani (Bu Sintya). Masalah tersebut sebenarnya sempat dianggap selesai setelah kedua belah pihak sepakat berdamai dalam mediasi yang difasilitasi oleh Polsek Abiansemal pada Minggu, 19 Juli 2026.
Namun, situasi kembali memanas setelah Arya Wedakarna mengunggah video proses mediasi tersebut ke media sosial. Dalam potongan video berdurasi 1 menit 35 detik, AWK diduga melakukan tindakan berikut:
- Memojokkan dan mengintimidasi Hilda secara verbal.
- Membawa-bawa tempat kerja Hilda (Indomaret) ke dalam perselisihan pribadi.
- Mengancam Hilda dengan jeratan UU ITE karena merekam dan menyebarkan video perselisihan tanpa izin.
4. Kasus Unggahan Hoaks dan Permohonan Maaf (Maret 2026)
Pada Maret 2026, Arya Wedakarna harus berurusan dengan komunitas jurnalis. Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seorang jurnalis Kompas.com berinisial YS terkait unggahan ulang narasi hoaks di media sosial miliknya. AWK mengakui adanya kekeliruan dari tim adminnya yang mengunggah konten dari akun pihak ketiga tanpa niat jahat.
5. Kontroversi Penutup Kepala dan Tuduhan Penistaan Agama (Januari 2024)
Salah satu kasus paling viral terjadi pada awal tahun 2024. Dalam sebuah rapat bersama Kanwil Bea Cukai di Bandara Ngurah Rai, AWK terekam meminta agar petugas frontliner adalah putra-putri daerah tanpa menggunakan penutup kepala. Pernyataan ini memicu gelombang protes karena dianggap menyinggung penggunaan hijab.
AWK membantah tuduhan penistaan agama tersebut. Ia berdalih tidak menyebut agama tertentu dan merasa pernyataannya telah dipotong sehingga memunculkan fitnah terhadap kinerjanya sebagai wakil rakyat.
6. Pemecatan oleh Presiden dan Terpilih Kembali (Februari - Maret 2024)
Buntut dari berbagai laporan pelanggaran etik, Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) pada 22 Februari 2024 tentang pemberhentian antarwaktu Arya Wedakarna sebagai anggota DPD RI. Pemecatan ini merupakan tindak lanjut dari surat Ketua DPD RI.
Namun, secara mengejutkan, dalam Pemilu 2024 yang hasilnya diplenokan pada Maret 2024, AWK kembali terpilih sebagai anggota DPD RI dapil Bali. Ia berhasil meraih posisi kedua suara terbanyak, sebuah pencapaian yang ia sebut sebagai bukti dukungan masyarakat Bali terhadap perjuangannya menjaga budaya lokal.
7. Kisruh Bakso A Fung (2023)
Pada tahun 2023, AWK juga terlibat dalam kisruh penghancuran mangkok di gerai Bakso A Fung Bandara Ngurah Rai. Aksi penghancuran mangkok oleh pihak gerai (untuk menjaga komitmen halal setelah adanya konten makan kerupuk babi) dinilai AWK telah menyinggung umat Hindu setempat. Ia bereaksi keras terhadap kebijakan manajemen gerai tersebut yang dianggap tidak sensitif terhadap budaya Bali.
Tahukah Anda?
Sebelum terjun ke dunia politik, Arya Wedakarna adalah seorang penghibur. Pada awal tahun 2000-an, ia merupakan anggota boyband bernama FBI (Fajar Baru Indonesia) bersama artis Indra Bekti dan Roy Jordy.
FAQ: Pertanyaan Seputar Arya Wedakarna
- Siapa Arya Wedakarna? Ia adalah anggota DPD RI asal Bali yang dikenal vokal dalam isu-isu kebudayaan dan agama Hindu di Bali.
- Mengapa ia sempat dipecat dari DPD? Ia diberhentikan melalui Keppres pada Februari 2024 menyusul rekomendasi dari Badan Kehormatan DPD RI terkait pelanggaran etik.
- Apakah Arya Wedakarna masih menjabat? Ya, meski sempat dipecat untuk masa jabatan 2019-2024, ia terpilih kembali dalam Pemilu 2024 untuk periode berikutnya.
- Apa karier awal AWK? Ia pernah menjadi anggota boyband FBI bersama Indra Bekti di awal era 2000-an.
- Apa klarifikasi AWK soal kontes di Tailan? Ia menyatakan hadir sebagai tokoh budaya dan pribadi, bukan mewakili lembaga DPD RI.
Kesimpulan
Perjalanan karier Arya Wedakarna menunjukkan dinamika yang luar biasa antara popularitas dan kontroversi. Meskipun sering mendapat kritik tajam dari publik nasional, basis massanya di Bali tetap solid, terbukti dengan keberhasilannya kembali ke kursi Senayan. Bagi pendukungnya, ia adalah pembela budaya Bali, namun bagi pengkritiknya, pernyataannya sering kali dianggap kontroversial dan provokatif.


















































