ilustrasi(Antara)
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipatok pada angka Rp17.500 per dolar AS dalam asumsi dasar makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Namun, target tersebut menuai keraguan dari kalangan ekonom.
Ekonom Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyatakan sikap skeptisnya terhadap tren nilai tukar Rupiah yang ditetapkan pemerintah tersebut. Menurutnya, angka asumsi tersebut cukup berat untuk dicapai jika melihat kondisi riil di pasar saat ini.
“Yang sangat berat menurut saya adalah mengenai asumsi Rupiah itu sendiri. Karena sampai pada hari ini pun, kita angkanya di atas di Rp17.500, tapi kita tahu sudah beberapa minggu terakhir ini, kita selalu di Rp17.800 ke Rp18.200. Jadi kalau saya mungkin sedikit skeptis soal mengenai tren Rupiah itu sendiri,” ujar Dipo pada Jumat (14/8).
Dipo menilai bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah sangat bergantung pada tingkat kepercayaan pasar serta penilaian dari lembaga pemeringkat (rating agency). Tanpa adanya sentimen positif yang kuat, posisi Rupiah akan terus tertekan.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) tidak serta-merta menjadi solusi instan untuk menstabilkan nilai tukar. Dipo menyebut rencana pergantian Gubernur BI kepada Destry Damayanti belum disertai dengan langkah strategis yang nyata dari tim ekonomi pemerintah.
“Saya rasa mungkin walaupun Gubernur Bank Indonesia sudah rencana akan berubah menjadi Bu Destry, saya rasa ini belum ada konkret plan dari tim ekonomi saat ini untuk bagaimana kita mau menguatkan Rupiah,” pungkasnya. (E-3)

















































